Mendekat kepada Allah, Raih Ampunan dan Ketenangan

banner 2560316

TROBOS.CO | Salah satu kewajiban terbesar manusia terhadap Allah adalah mendekatkan diri sedekat-dekatnya. Kedekatan itu bukan dalam pengertian jarak, karena Allah tidak dibatasi ruang dan waktu. Kedekatan kepada Allah adalah kedekatan hati, kesadaran, ketaatan, dan ketundukan seorang hamba kepada Rabb-nya.

Semakin dekat seseorang kepada Allah, ia semakin menyadari bahwa hidup ini bukan sekadar perjalanan dunia, tetapi perjalanan menuju kehidupan yang kekal. Bagi hamba yang sungguh-sungguh mendekat kepada Allah, banyak “bonus” kehidupan yang tidak selalu dapat dibeli dengan harta. Bonus itu bukan berupa kemewahan dunia, melainkan karunia yang jauh lebih berharga, di antaranya ampunan, ketenangan jiwa, keteguhan hati, tawakal, dan ketakwaan. Semua itu menjadi bekal penting agar manusia mampu menjalani kehidupan dengan arah yang benar.

banner 300250

Salah satu karunia terbesar itu bernama maghfirah, yaitu ampunan Allah. Manusia adalah makhluk yang tidak luput dari kesalahan. Setiap hari mungkin ada ucapan yang menyakiti, pikiran yang keliru, perbuatan yang melampaui batas, atau kewajiban yang sengaja maupun tidak sengaja ditinggalkan. Jika dosa-dosa itu tidak mendapatkan ampunan Allah, manusia berada dalam kerugian yang sesungguhnya.

Namun Allah membuka pintu ampunan seluas-luasnya, sebagaimana firman-Nya.

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا

Artinya: “Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.” (QS. Az-Zumar: 53)

Selama seseorang mau menyadari kesalahannya, menyesal, berhenti dari dosa, dan bersungguh-sungguh kembali kepada-Nya, pintu taubat tetap terbuka. Jangan sampai dosa membuat seseorang menjauh dari Allah. Justru dosa seharusnya menjadi alasan untuk semakin mendekat, mengetuk pintu-Nya, memohon ampun, dan memperbaiki diri.

Taubat bukan sekadar mengucapkan istighfar di bibir. Taubat adalah perjalanan batin untuk kembali ke jalan Allah. Ada penyesalan terhadap kesalahan, ada tekad untuk meninggalkannya, dan ada usaha memperbaiki apa yang telah rusak. Karena itu, orang yang bertaubat sesungguhnya sedang melakukan perjalanan besar, dari kelalaian menuju kesadaran, dari kegelapan menuju cahaya, dan dari kesalahan menuju kebaikan.

Karunia berikutnya adalah sakinah, ketenangan yang diberikan Allah kepada jiwa orang-orang yang mau mendekat kepada-Nya. Dunia boleh penuh persoalan, pekerjaan boleh menumpuk, kebutuhan hidup boleh terus bertambah, tetapi hati yang dekat dengan Allah memiliki tempat untuk kembali. Ia menemukan ketenangan dalam doa, kekuatan dalam salat, keteduhan dalam membaca Al-Qur’an, dan harapan dalam zikir.

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Artinya: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Ketenangan jiwa bukan berarti hidup tanpa masalah. Orang yang dekat kepada Allah tetap bisa menghadapi kesedihan, kehilangan, kegagalan, dan ujian. Bedanya, ia tidak menghadapi semuanya seorang diri. Ada Allah tempat mengadu dan bersandar. Karena itu, ketika badai kehidupan datang, hatinya mungkin berguncang, tetapi tidak mudah runtuh.

Ibadah yang dilakukan dengan kesadaran juga akan melahirkan kebahagiaan yang berbeda. Salat bukan lagi sekadar kewajiban yang harus diselesaikan, tetapi menjadi ruang perjumpaan seorang hamba dengan Tuhannya. Zikir bukan sekadar rangkaian kata, tetapi cara hati mengingat siapa yang sebenarnya menjadi tempat bergantung. Sedekah bukan sekadar mengurangi harta, tetapi jalan untuk membersihkan jiwa dan menumbuhkan kepedulian.

Orang yang mendekat kepada Allah juga akan mendapatkan sifat tawakal. Tawakal bukan berarti menyerah tanpa usaha. Tawakal adalah melakukan ikhtiar sebaik mungkin, kemudian menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Artinya: “Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.” (QS. At-Talaq: 3)

Ia bekerja, tetapi tidak menyembah pekerjaannya. Ia berusaha, tetapi tidak menggantungkan seluruh hidupnya kepada hasil usaha. Hatinya tetap bersandar kepada Allah. Tawakal membuat seseorang tidak mudah sombong ketika mendapatkan keberhasilan dan tidak mudah putus asa ketika mengalami kegagalan. Ketika berhasil, ia bersyukur karena menyadari ada pertolongan Allah di balik usahanya. Ketika gagal, ia mengevaluasi diri lalu kembali bangkit. Ia percaya bahwa Allah mengetahui sesuatu yang tidak diketahuinya dan memiliki rencana yang jauh lebih luas daripada apa yang mampu dipahami manusia.

Kedekatan kepada Allah juga melahirkan takwa. Takwa bukan hanya terlihat dari banyaknya ibadah yang dilakukan, tetapi juga dari kemampuan menjaga diri ketika tidak ada manusia yang melihat. Orang bertakwa memiliki kesadaran bahwa Allah selalu mengetahui apa yang dilakukan. Kesadaran inilah yang membuatnya berhati-hati dalam berbicara, mencari rezeki, menggunakan kekuasaan, memperlakukan orang lain, dan mengambil keputusan.

Orang yang bertakwa tidak menjadikan agama hanya sebagai simbol. Ketakwaan harus hadir dalam kehidupan sehari-hari. Ia tampak dalam kejujuran ketika berdagang, amanah ketika memegang jabatan, santun ketika berbicara, adil ketika mengambil keputusan, dan peduli ketika melihat orang lain mengalami kesulitan. Iman yang tumbuh di dalam hati akhirnya memiliki jejak dalam perilaku.

Allah menjanjikan kemuliaan bagi orang-orang yang bertakwa, sebagaimana firman-Nya.

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Artinya: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Kemuliaan itu bukan semata-mata gelar, jabatan, kekayaan, atau penghormatan manusia di dunia. Semua itu sementara. Kemuliaan yang sesungguhnya adalah ketika seseorang mendapatkan tempat yang mulia di sisi Allah dan memperoleh kehidupan yang baik di akhirat. Di sanalah ukuran keberhasilan manusia yang sebenarnya.

Karena itu, jangan merasa terlalu jauh dari Allah hanya karena pernah melakukan banyak kesalahan. Jangan pula merasa tidak pantas kembali kepada-Nya. Selama kehidupan masih diberikan, kesempatan untuk memperbaiki diri masih terbuka. Mulailah dengan langkah sederhana: perbaiki salat, perbanyak istighfar, baca Al-Qur’an, tinggalkan kemaksiatan, perbanyak amal baik, dan biasakan hati mengingat Allah dalam setiap keadaan.

Pada akhirnya, hidup ini terlalu singkat jika hanya digunakan untuk mengejar dunia. Harta akan ditinggalkan, jabatan akan berakhir, dan pujian manusia akan berlalu. Yang kita perlukan adalah hati yang mendapatkan ampunan, jiwa yang memperoleh ketenangan, hidup yang dipenuhi tawakal, dan akhir perjalanan yang dihiasi ketakwaan. Mendekatlah kepada Allah, karena semakin dekat seorang hamba kepada-Nya, semakin ia menemukan makna hidup yang sesungguhnya.

Suharyo, Pemerhati Masalah Sepele

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *