Menakar Kedekatan Hamba dengan Allah di Idul Qurban 1447 H

banner 2560316

TROBOS.CO | Ada dua hari raya resmi dalam Islam yang diatur secara syariat baik waktu maupun tata cara pelaksanaannya. Idul Fitri dan Idul Adha, atau yang juga dikenal sebagai Idul Qurban.

Secara bahasa, qurban berasal dari kata qarraba yang bermakna mendekat. Maka Idul Qurban, dalam pengertian istilah, bermakna kembali mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui penyembelihan hewan qurban.

Hanya berselang dua bulan setelah Syawal dan Dzulqa’dah, di bulan Dzulhijjah kita kembali diingatkan oleh Allah: jangan sekali-kali menjauh dari-Nya.

Pertanyaan yang menarik muncul: jika setiap tahun kita melaksanakan syariat qurban untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, apakah berarti Tuhan jauh dari hamba-Nya?

Allah sendiri menjawab dalam firman-Nya:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan dalam dirinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat leher (nadi)nya.” (QS. Qaf: 16)

Jadi Allah memang dekat bahkan melebihi kedekatan kita dengan diri kita sendiri. Lantas, apa yang sesungguhnya dimaksud dengan “mendekat kepada Allah”?

Bayangkan sebuah kompleks perumahan di kota besar. Rumah-rumah berdiri berhimpitan, saling bersebelahan. Apakah penghuninya otomatis saling dekat?

Belum tentu. Bisa saja dua rumah bersebelahan tapi penghuninya tidak pernah saling bertegur sapa, tidak saling mengenal, tidak saling peduli.

Dari ilustrasi itu kita memahami: kedekatan bukan soal keberadaan yang berdampingan, tapi soal bagaimana interaksi yang terjalin. Demikian pula dengan hubungan hamba dan Tuhannya.

Sejauh mana seorang hamba menyambut seruan-Nya? Seberapa banyak perintah dilaksanakan dan larangan ditinggalkan? Apakah ia melakukannya dengan keikhlasan, atau sekadar basa-basi?

Allah mengetahui segalanya bahkan yang masih berupa bisikan di dalam pikiran. Tidak ada yang bisa menipu-Nya. Dan jika ada yang merasa berhasil menipu orang lain, sejatinya ia hanya menipu dirinya sendiri.

Kita sering melihat betapa bangganya seseorang ketika bisa duduk berdampingan dengan orang penting. Atau ketika seseorang bisa meraih sesuatu karena “dekat dengan orang dalam.”

Nah, betapa lebih agung lagi jika kedekatan itu bukan dengan sesama manusia tapi dengan Rabb, Tuhan yang Maha atas segala sesuatu. Betapa mudahnya segala urusan yang menjadi beban ketika pertolongan-Nya hadir.

Allah berfirman:

وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِ

“Jika hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa jika dia berdoa kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186)

Syariat qurban memang ditandai dengan penyembelihan hewan. Tapi yang menjadi sebab diterimanya amal bukan daging atau darahnya. Allah berfirman:

لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْ

“Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu.” (QS. Al-Hajj: 37)

Para ulama menyerukan sesuatu yang perlu kita renungkan bersama:

“Sembelihlah nafsu kebinatanganmu agar engkau dapat menundukkan kesombonganmu. Sembelihlah kecintaan yang berlebihan terhadap dunia agar hilang sifat tamak dan kikir, berubah menjadi gemar berbagi. Sembelihlah rasa egomu agar engkau punya harga diri.”

Dan harga diri, kata mereka, tidak bisa diminta. Apalagi memintanya kepada sesama. Seberapa kita menghargai orang lain sebesar itulah harga diri kita.

اِنْ اَحْسَنْتُمْ اَحْسَنْتُمْ لِاَنْفُسِكُمْۗ وَاِنْ اَسَأْتُمْ فَلَهَا

“Jika kamu berbuat baik, berarti kamu telah berbuat baik untuk dirimu sendiri. Jika kamu berbuat jahat, kerugiannya kembali kepada dirimu sendiri.” (QS. Al-Isra’: 7)

Maka di Idul Qurban ini, marilah kita perbaiki kedekatan kita dengan Allah bukan hanya lewat pisau yang menyembelih hewan, tapi lewat hati yang menyembelih segala yang menjauhkan kita dari-Nya.

وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197) *

والله أعلم بالصواب

Edy Susilo Purnomo, M.Pd

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *