TROBOS.CO | Pertanyaan ini sering muncul, terutama di kalangan pasangan muda yang baru menikah atau calon pengantin yang sedang mempersiapkan diri. Setelah menikah, apakah suami akan menanggung semua dosa istrinya?
Jawabannya tegas: tidak.
Namun perlu dipahami dengan jernih karena ada kondisi tertentu di mana suami bisa ikut berdosa, bukan karena dosa istrinya berpindah kepadanya, melainkan karena kelalaiannya sendiri sebagai pemimpin keluarga.
Islam menempatkan suami sebagai pemimpin rumah tangga, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas amanahnya. Bukan berarti ia menanggung dosa orang lain, tapi ia bertanggung jawab atas peran yang ia emban.
Suami bisa ikut berdosa ketika ia membiarkan istrinya membuka aurat tanpa menegur, membiarkan kemaksiatan terjadi di depan matanya tanpa menasihati, tidak mengajarkan ilmu agama padahal ia mampu melakukannya, atau bahkan merasa ridha terhadap kemungkaran yang berlangsung di dalam rumahnya sendiri.
Dosa yang muncul dalam kondisi ini bukan karena ia menanggung dosa istri melainkan karena ia gagal menjalankan amanah kepemimpinan yang Allah titipkan kepadanya.
Lain cerita jika suami sudah menasihati, mengingatkan, dan mengarahkan istri kepada kebaikan namun sang istri tetap memilih jalan kemaksiatan. Dalam kondisi ini, dosa kemaksiatan itu sepenuhnya menjadi tanggung jawab istri sendiri. Suami tidak ikut menanggungnya.
Prinsip ini bukan sekadar pendapat ulama. Al-Quran menegaskannya secara eksplisit, bahkan berulang kali.
Dalam Surah An-Najm ayat 38, Allah berfirman:
اَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰى
“(yaitu) bahwa seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.” (QS. An-Najm: 38)
Prinsip yang sama diulang dalam Surah Al-An’am ayat 164:
وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰى
“…Dan seseorang tidak akan memikul beban dosa orang lain.” (QS. Al-An’am: 164)
Dan ditegaskan sekali lagi dalam Surah Al-Isra’ ayat 15:
وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰى
“…Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain.” (QS. Al-Isra’: 17)
Tiga kali Al-Quran menyebut prinsip yang sama. Ini bukan kebetulan ini penegasan yang tidak boleh diabaikan.
Pernikahan adalah ikatan yang indah, penuh tanggung jawab bersama. Tapi pada hari hisab nanti, setiap jiwa akan berdiri sendiri di hadapan Allah. Tidak ada suami yang bisa melindungi istri dari catatan amalnya sendiri. Tidak ada istri yang bisa menyandarkan dosanya kepada suami.
Yang bisa saling dilakukan adalah saling mengingatkan, saling menguatkan, dan sama-sama bertakwa kepada Allah selama masih ada waktu. Karena itulah hakikat kepemimpinan dalam rumah tangga bukan soal siapa yang menanggung dosa siapa, melainkan soal siapa yang lebih dulu mengulurkan tangan untuk mengajak yang lain menuju kebaikan.
Tim Trobos.co





