TROBOS.CO | Setiap manusia pasti akan mengalami satu keadaan yang tidak mungkin bisa dihindari: kematian. Ketika saat itu tiba, segala kesempatan yang dahulu terbuka akan tertutup begitu saja. Waktu tidak dapat diputar kembali, harta tidak dapat dibawa, jabatan tidak lagi berarti, dan berbagai alasan tidak lagi berguna.
Rasulullah bersabda:
مَا مِنْ أَحَدٍ يَمُوتُ إِلَّا نَدِمَ، قَالُوا: وَمَا نَدَامَتُهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: إِنْ كَانَ مُحْسِنًا نَدِمَ أَنْ لَا يَكُونَ ازْدَادَ، وَإِنْ كَانَ مُسِيئًا نَدِمَ أَنْ لَا يَكُونَ نَزَعَ
“Tidaklah seseorang meninggal dunia kecuali ia akan menyesal.” Para sahabat bertanya, “Apa penyesalannya, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Jika ia seorang yang berbuat baik, ia menyesal mengapa tidak menambah kebaikannya. Jika ia seorang yang berbuat buruk, ia menyesal mengapa tidak berhenti dari keburukannya.” (HR. At-Tirmidzi)
Betapa dalam pesan hadits ini. Orang baik pun masih menyesal ketika kematian datang, bukan karena kurang harta atau kurang jabatan, melainkan karena merasa amal baiknya masih terlalu sedikit. Ia berharap masih diberi kesempatan untuk menambah sedekah, memperbanyak shalat, membaca Al-Qur’an, membantu sesama, berbakti kepada orang tua, mendidik anak, dan melakukan berbagai kebaikan lainnya.
Lebih menyedihkan lagi adalah orang yang sepanjang hidupnya banyak melakukan keburukan. Ketika kematian datang, ia ingin berhenti dari dosa, ingin bertaubat, ingin memperbaiki diri. Namun kesempatan itu telah berakhir, tidak ada lagi jalan untuk kembali.
Allah menggambarkan penyesalan manusia menjelang kematian dalam firman-Nya:
وَأَنفِقُوا۟ مِن مَّا رَزَقْنَـٰكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِىَ أَحَدَكُمُ ٱلْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَآ أَخَّرْتَنِىٓ إِلَىٰٓ أَجَلٍۢ قَرِيبٍۢ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ ١٠ وَلَن يُؤَخِّرَ ٱللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَآءَ أَجَلُهَا ۚ وَٱللَّهُ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ ١١
“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata, ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menangguhkan (kematian)ku sedikit waktu, niscaya aku akan bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.’ Dan Allah tidak akan menunda kematian seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Munafiqun: 10–11)
Perhatikan kalimat “لَوْلَآ أَخَّرْتَنِي” — “sekiranya Engkau menangguhkan aku…” Inilah permintaan yang muncul ketika kesempatan sudah hampir habis, ketika penyesalan tidak lagi bisa mengubah apa pun.
Karena itu, jangan menunggu kematian untuk menjadi orang baik. Jangan menunggu tua untuk rajin beribadah. Jangan menunggu kaya untuk bersedekah. Jangan menunggu kehilangan untuk belajar menghargai. Jangan menunggu sakit untuk mensyukuri kesehatan. Dan jangan menunggu ajal untuk bertaubat.
Sebab ketika kematian telah datang, penyesalan tidak akan pernah bisa mengembalikan kesempatan yang telah berlalu. Selagi masih hidup, pintu amal masih terbuka lebar. Selagi masih diberi waktu, perbanyaklah kebaikan. Selagi masih diberi kesempatan, mohonlah ampun kepada Allah tanpa menunda-nunda.
Jangan sampai kelak kita menjadi orang yang berkata, “Ya Allah, kembalikan aku sebentar saja…”, sementara jawabannya adalah waktu itu sudah selesai, tidak ada lagi kesempatan kedua.
Jangan menunda kebaikan. Karena penyesalan setelah kematian adalah penyesalan yang tiada guna.
Dr. KH Fatkhur Rohman, M.PdI, Pengasuh Pondok Pesantren Elkisi Mojokerto, Jawa Timur










