Setiap Bunga Memiliki Musim: Merenungi Makna Keterlambatan dalam Iqra’

banner 2560316

TROBOS.CO | Kita sering merasa terlambat, bukan karena kehidupan kita benar-benar terlambat, melainkan karena cara kita membaca kehidupan telah keliru. Kita melihat orang lain berhasil, lalu menyimpulkan bahwa kita gagal. Kita melihat orang lain lebih dahulu sampai, lalu menganggap diri sendiri tertinggal.

Kita kerap mengukur hidup dengan ukuran yang dibangun oleh manusia, kemudian kecewa ketika kenyataan tidak sesuai dengan ukuran tersebut itu.

banner 300250

Di sinilah letak persoalannya menjadi persoalan epistemologi: dari mana sebenarnya kita memperoleh ukuran tentang keberhasilan, kegagalan, keterlambatan, dan kebahagiaan? Siapa sesungguhnya yang berhak menentukan bahwa seseorang “terlambat”?

Seri Epistemologi Qurani mengajak manusia kembali kepada persoalan paling mendasar, yakni bagaimana kita mengetahui dan dengan apa kita membaca kehidupan. Wahyu pertama dimulai dengan sebuah perintah yang begitu sederhana namun dalam maknanya:

اقْرَأْ

Iqra’ — bacalah. Namun bukan sekadar membaca teks semata, melainkan membaca dengan kesadaran بِاسْمِ رَبِّكَ, dengan nama Tuhanmu. Artinya, kehidupan tidak boleh dibaca hanya melalui persepsi, ego, pengalaman, atau ukuran sosial buatan manusia, tetapi harus dibaca dalam horizon ketuhanan.

Ketika kehidupan dibaca tanpa menyertakan Allah di dalamnya, keberhasilan mudah direduksi menjadi sekadar kekayaan, jabatan, popularitas, dan pengakuan dari manusia lain. Keterlambatan pun dianggap sebagai kegagalan. Kesederhanaan dianggap kekurangan. Bahkan ujian hidup kerap dianggap sebagai tanda bahwa Allah tidak berpihak kepada kita.

Namun ketika kehidupan dibaca dengan tauhid sebagai epistemologi, cara pandang itu berubah sepenuhnya. Kita menyadari bahwa apa yang tampak di permukaan belum tentu seluruh kebenaran. Apa yang kita inginkan belum tentu baik bagi diri kita sendiri. Dan apa yang kita anggap sebagai keterlambatan, belum tentu terlambat dalam pengetahuan Allah.

Al-Qur’an mengingatkan hal ini dengan sangat tegas.

وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Artinya: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 216)

Ayat ini bukan sekadar nasihat agar kita bersabar. Ia adalah koreksi epistemologis terhadap kesombongan manusia dalam menilai realitas. Kita terbatas dalam mengetahui, sedangkan Allah Mahatahu. Kita hanya melihat satu potongan peristiwa, sedangkan Allah mengetahui keseluruhan perjalanan. Kita hanya melihat hari ini, sedangkan Allah mengetahui masa lalu, masa kini, dan apa yang akan terjadi kelak.

Karena itu, jangan buru-buru memberi label “gagal” kepada sesuatu yang bahkan belum selesai dibaca perjalanannya. Benih yang berada di dalam tanah mungkin tampak seperti tidak mengalami apa-apa, padahal di dalam kegelapan itu ia sedang membangun akar. Begitu pula dengan kehidupan manusia. Ada proses yang tidak terlihat oleh mata, namun justru sedang membentuk seseorang menjadi lebih matang.

لِكُلِّ زَهْرَةٍ مَوْسِمٌ

Setiap bunga memiliki musimnya sendiri. Demikian pula setiap manusia memiliki perjalanan dan waktunya masing-masing. Persoalannya bukan siapa yang paling cepat mekar, melainkan apakah kita sedang tumbuh sesuai dengan amanah yang telah Allah berikan kepada kita.

Maka, jangan lagi menjadikan kehidupan orang lain sebagai cermin untuk menghukum diri sendiri. Jadikan wahyu sebagai cermin epistemologis untuk membaca diri dan kehidupan kita. Bukan bertanya, “Mengapa aku belum seperti dia?”, melainkan bertanya, “Apa yang sedang Allah ajarkan kepadaku melalui perjalanan ini?”

Di situlah Iqra’ menjadi jauh lebih dari sekadar membaca. Iqra’ adalah membaca realitas dengan nama Allah, membaca diri sebagai hamba, membaca kehidupan sebagai ayat, dan membaca setiap peristiwa dalam horizon tauhid.

Mungkin engkau belum berbunga karena memang belum tiba musimnya. Tetapi jangan pernah berhenti menanam. Jangan berhenti belajar. Jangan berhenti beramal. Jangan berhenti memperbaiki diri. Sebab tugas manusia bukanlah menentukan kapan bunga harus mekar, melainkan menjalankan amanah pertumbuhan itu sebaik-baiknya.

Yang perlu diubah bukan selalu keadaan kita, melainkan cara kita mengetahui dan memaknai keadaan tersebut. Sebab ketika epistemologi kita benar, cara kita membaca kehidupan pun akan ikut menjadi benar. Dan ketika cara membaca kehidupan berubah, kegagalan dapat menjadi pelajaran, keterlambatan dapat menjadi persiapan, ujian dapat menjadi pendidikan, dan kehidupan dapat kembali terbaca sebagai ayat-ayat Allah.

Setiap bunga memiliki musim. Setiap kehidupan memiliki ayat. Dan orang yang belajar membaca dengan nama Allah tidak akan mudah menyimpulkan bahwa dirinya terlambat. Ia akan terus membaca, terus bertumbuh, dan terus berjalan menuju Allah.

Cak Muhid, Pesantren Elkisi, Mojokerto, Jawa Timur

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *