TROBOS.CO | Setiap kali kasus korupsi besar terungkap, satu pertanyaan yang sama selalu muncul: mengapa negara baru mengetahui semuanya setelah kejadian terjadi?
Uang sudah hilang. Kerugian sudah membesar. Proyek sudah bermasalah. Baru kemudian pengawasan datang, audit dilakukan, dan penyelidikan dimulai.
Pertanyaan itu terus mengganggu dan seharusnya juga mengganggu kita semua.
Ada analogi yang tepat untuk menggambarkan kondisi ini.
Bayangkan seorang dokter yang baru mengetahui penyakit pasiennya setelah kondisi kritis padahal pasien itu setiap hari ada di depan matanya. Tentu kita akan bertanya: mengapa tidak terdeteksi sejak dini?
Anehnya, dalam tata kelola publik, kondisi seperti itu sering dianggap biasa. Pola yang berulang hampir selalu sama: masalah muncul, kerugian terjadi, publik marah, lalu negara bergerak.
Padahal yang dibutuhkan bukan hanya kemampuan menyelesaikan masalah setelah terjadi. Yang jauh lebih penting adalah kemampuan mengenali gejalanya sebelum membesar.
Di era ketika transaksi keuangan bisa dipantau secara digital, perilaku konsumen dapat dibaca secara real-time, bahkan cuaca dapat diprediksi beberapa hari ke depan mengapa tata kelola uang rakyat masih bergantung pada mekanisme yang bekerja setelah kejadian?
Ini bukan soal menyalahkan siapa pun. Ini soal cara pandang.
Sudah saatnya kita menggeser paradigma: dari sekadar mencari kesalahan setelah terjadi, menjadi membangun kemampuan melihat risiko sebelum menjadi masalah. Dari pengawasan yang reaktif, menuju tata kelola yang lebih antisipatif.
Yang perlu kita ingat, setiap rupiah uang rakyat yang hilang bukan sekadar angka dalam laporan keuangan.
Di dalamnya ada harapan rakyat. Ada sekolah yang belum dibangun. Ada jalan yang belum selesai. Ada pelayanan publik yang tertunda. Dan ada masa depan yang ikut dipertaruhkan.
Maka pertanyaannya tetap sama, dan akan terus relevan selama sistem belum berubah: Mengapa negara selalu terlambat?
Jawaban atas pertanyaan ini akan ditelusuri dalam serial NPSIS berikutnya.
Ulul Albab Akademisi Administrasi Publik | Pengajar Pendidikan Anti Korupsi | Ketua ICMI Jawa Timur
Serial NPSIS — Bagian 1









