Griya Lansia: Kebutuhan Nyata yang Tidak Bisa Lagi Diabaikan

banner 2560316

TROBOS.CO | Belum lama ini, Griya Lansia Ar Rahman kembali menerima permohonan dari pihak yang membutuhkan tempat penampungan bagi seorang lansia pasca stroke mengalami kelumpuhan sebagian, tidak lagi memiliki keluarga yang bersedia merawatnya.

Kondisi seperti ini bukan kasus yang berdiri sendiri. Hampir setiap bulan, bahkan setiap pekan, permintaan serupa datang dari masyarakat maupun instansi pemerintah.

Dan sayangnya, tidak semua permohonan dapat dipenuhi.

Ada kalanya kami harus menyampaikan bahwa kamar telah penuh. Ada kalanya fasilitas untuk kategori tertentu belum siap. Dan setiap kali harus mengatakan kata itu “mohon maaf, belum bisa menerima” sesungguhnya ada kesedihan yang sulit diungkapkan.

Karena di balik setiap permohonan itu ada seorang manusia yang sedang menunggu pertolongan.

Realitas ini menunjukkan bahwa keberadaan griya lansia bukan lagi sekadar pilihan. Ia adalah kebutuhan nyata masyarakat.

Perubahan sosial telah membuat banyak keluarga tidak lagi mampu memberikan perawatan optimal kepada orang tua yang mengalami sakit kronis, stroke, demensia, atau kondisi ketergantungan lainnya. Bukan karena anak-anak mereka tidak memiliki kasih sayang. Sering kali mereka terhalang oleh keterbatasan ekonomi, pekerjaan, tempat tinggal yang sempit, atau karena perawatan itu memang membutuhkan keahlian khusus yang tidak dimiliki semua orang.

Di sisi lain, jumlah lansia di Indonesia terus meningkat. Usia harapan hidup yang semakin panjang adalah keberhasilan pembangunan tapi ia juga menghadirkan tantangan baru. Semakin banyak lansia yang membutuhkan pendampingan, perawatan kesehatan, serta lingkungan yang aman dan manusiawi.

Griya lansia hadir sebagai bagian dari solusi sosial. Bukan untuk menggantikan peran keluarga melainkan membantu ketika keluarga sudah tidak mampu menjalankan fungsi perawatan secara maksimal.

Di griya lansia, para orang tua tidak hanya mendapatkan tempat tinggal. Mereka mendapatkan pendampingan, perhatian, teman sebaya untuk berinteraksi, serta kesempatan menjalani hari-hari terakhir kehidupan dengan lebih tenang dan bermartabat.

Yang paling mengharukan adalah ketika melihat para lansia yang sebelumnya hidup sendiri, sakit tanpa pendamping, atau berpindah-pindah tempat tanpa kejelasan kemudian menemukan kembali senyum dan semangat hidup setelah mendapatkan perhatian yang layak.

Karena pada hakikatnya, setiap manusia ingin dihormati hingga akhir hayatnya.

Sudah saatnya seluruh elemen bangsa memberikan perhatian lebih besar terhadap pelayanan lansia. Pemerintah, dunia usaha, organisasi sosial, lembaga keagamaan, dan masyarakat perlu bergandengan tangan memperbanyak fasilitas perawatan lansia yang layak.

Jangan sampai ada orang tua yang harus menunggu terlalu lama hanya karena tidak tersedia tempat untuk merawatnya. Dan jangan sampai ada pengelola griya lansia yang harus berkali-kali mengucapkan kata “maaf” kepada mereka yang sedang berharap mendapatkan pertolongan.

Sebab ketika seorang lansia terlantar menemukan tempat yang aman dan penuh kasih, sesungguhnya yang sedang kita jaga bukan hanya kehidupannya tetapi juga kemanusiaan kita bersama.

“Memuliakan lansia bukan sekadar pekerjaan sosial, melainkan cermin peradaban sebuah bangsa.” *

Muhammad Khoirul Anam, S.H. Pengurus Griya Lansia Ar Rahman Kunir, Lumajang

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *