TROBOS.CO | Sebuah bola unik berwarna cokelat kehijauan menjadi pusat perhatian dalam pameran karya siswa yang digelar di Laboratorium Biologi SMA Negeri 1 Kunir, Jumat (12/6/2026). Bola tersebut dikenal dengan nama cocodama, dan hampir setiap stand kelas memajangnya sebagai produk andalan.
Pameran ini secara resmi dibuka oleh Tim Pembina Sekolah Adiwiyata Kabupaten Lumajang, Retna Irrawati, S.Pt., M.Eng. Acara ini menjadi bagian dari rangkaian persiapan SMA Negeri 1 Kunir menuju status Calon Sekolah Adiwiyata Nasional pada tahun 2026.
Cocodama bukan sembarang bola hias. Media tanam ini merupakan hasil pengembangan inovasi dari SMA Negeri 1 Kunir, dibuat dari campuran cocopeat, pupuk kompos, dan serabut kelapa yang dibentuk menyerupai bola, kemudian dibungkus dan diikat menggunakan benang atau tali.

Bentuknya yang sederhana namun estetik membuat cocodama cocok digunakan sebagai media tanam alternatif untuk tanaman hias. Kehadirannya di setiap stand kelas menjadi bukti bahwa inovasi ramah lingkungan bisa lahir dari tangan-tangan siswa SMA.
Kepala SMA Negeri 1 Kunir, Rudi, S.Pd., M.M, menjelaskan bahwa pameran ini memiliki dua tujuan sekaligus. Selain sebagai bentuk apresiasi terhadap karya siswa, kegiatan ini juga menjadi salah satu indikator dokumen untuk Calon Sekolah Adiwiyata Nasional.
“Tahun 2026 ini sekolah kami mendapat kesempatan menjadi Calon Sekolah Adiwiyata Nasional. Jadi setiap stand kelas berisi karya yang mencakup aspek kebersihan dan sanitasi, pengelolaan sampah, keanekaragaman hayati, konservasi energi, dan konservasi air,” ujar Rudi.
Dengan kerangka tersebut, setiap kelas tidak hanya dituntut membuat karya yang menarik secara visual, tetapi juga relevan dengan indikator-indikator program Adiwiyata yang menjadi acuan penilaian.
Sambil memegang sebuah cocodama, Retna Irrawati menyampaikan pandangannya tentang pentingnya aspek bisnis dalam karya siswa. Menurutnya, kreativitas saja tidak cukup tanpa dibekali pemahaman tentang nilai ekonominya.
“Siswa juga perlu diajarkan cara menghitung biaya produksi yang dibutuhkan untuk membuat cocodama. Sehingga siswa tidak hanya diajarkan membuat sebuah karya, tetapi juga ditanamkan jiwa entrepreneur,” tuturnya.
Harapan senada juga disampaikan oleh Rizka, pembina sekolah adiwiyata dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Lumajang. Ia mengaku terkesan dengan hasil karya para siswa dan berharap pameran berikutnya bisa dilengkapi dengan demo atau presentasi langsung dari produk-produk yang dipajang.
Selain cocodama yang mewakili aspek keanekaragaman hayati, setiap stand kelas juga menampilkan karya-karya lain sesuai indikator program Adiwiyata. Untuk aspek kebersihan, sanitasi, konservasi energi, dan konservasi air, para siswa banyak menampilkan poster bertema selamatkan bumi serta replika panel surya.
Sementara pada aspek pengelolaan sampah, para siswa tampak beradu kreativitas. Hasil produksi kompos padat dan cair, ecobrick, hingga pigura berbahan daur ulang berhiaskan rempah-rempah turut dipamerkan, lengkap dengan berbagai karya dari botol plastik dan karton bekas.
Pameran ini juga dimeriahkan dengan pameran hasil karya mata pelajaran seni rupa serta bazar dari program Double Track, menjadikan suasana laboratorium biologi hari itu lebih hidup dari biasanya. Dari bola-bola kecil bernama cocodama, SMA Negeri 1 Kunir menunjukkan bahwa langkah besar menuju sekolah ramah lingkungan bisa dimulai dari hal-hal sederhana di tangan siswanya sendiri.
LiLa









