TROBOS.CO | Allah SWT berfirman dalam Surah Ar-Rum ayat 21:
وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً
“Dan di antara tanda-tanda kebesaran-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu merasa tenteram dengannya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.”
Sakinah tentram dan tenang. Mawaddah cinta kasih. Warahmah rahmat. Tiga kata yang menjadi impian setiap pasangan yang menikah.
Dan Rasulullah SAW sendiri menyatakan: بيتي جنتي rumahku adalah surgaku. Inilah standar tertinggi rumah tangga yang beliau wariskan kepada umatnya.
Makna Rumah Tangga yang Sering Terlewat
Secara bahasa, rumah adalah bangunan berdinding sebagai tempat hunian bagi mereka yang telah menikah. Tangga adalah alat untuk menjangkau sesuatu yang tinggi. Maka rumah tangga berarti keluarga yang memiliki harapan dan tujuan hidup yang tinggi, mulia, dan bermartabat serta berjuang sekuat tenaga untuk mencapainya.
Dalam bahasa Arab, rumah berasal dari kata ar-ramad yang berarti panas atau hangus, sementara tangga dari kata tanha yang berarti mencegah dan melarang. Artinya, rumah tangga adalah tempat untuk membakar dan menghanguskan segala yang dilarang menjadikan rumah sebagai ruang yang bersih dari perbuatan terlarang.
“Rumahku Surgaku”: Bukan Bangunan, tapi Suasana
Yang dimaksud Rasulullah dengan baiti jannati bukan rumah fisik yang pernah beliau tempati. Yang beliau rasakan adalah suasana rumah tangganya yang terasa seperti surga.
Al-Qur’an menggambarkan surga dalam Surah Al-Ghasyiyah ayat 8-11: wajah-wajah yang berseri, merasa senang dengan usahanya, berada di surga yang tinggi, tidak terdengar perkataan yang tidak berguna.
Kondisi itulah yang Rasulullah rasakan di rumahnya karena seluruh anggota keluarganya menaati syariat dan tidak melanggarnya, sehingga benar-benar tercermin sebagai keluarga sakinah mawaddah warahmah.
Empat Nama Rumah, Empat Kewajiban Penghuni
Dalam bahasa Arab, setidaknya ada empat sebutan untuk rumah dan setiap sebutan menyimpan pesan mendalam tentang kewajiban penghuninya.
Pertama, Baitun. Berasal dari kata baata yang berarti bangun tengah malam. Bersyukur atas nikmat rumah ditandai dengan bangun di sepertiga malam untuk shalat malam dan munajat kepada Sang Pemberi. Rasulullah bersabda: “Terangilah rumah-rumah kalian dengan shalat dan membaca Al-Qur’an.” (HR. Al-Baihaqi). Rumah yang tidak pernah diperdengarkan Al-Qur’an adalah rumah yang gelap — dan setan akan betah tinggal di dalamnya.
Kedua, Manzilun. Dari kata nazala yang berarti turun. Rumah adalah tempat turunnya rahmat Allah. Ia juga berarti tempat beredarnya transaksi keluarga rezeki yang diperoleh dari luar harus kembali dan beredar di dalam rumah, bukan di tempat lain.
Ketiga, Darrun. Dari kata daara yang berarti berkeliling. Di rumah, penghuni berputar dari satu ruang ke ruang lain, bertemu satu sama lain. Rezeki yang diserahkan, setelah dibelanjakan, kembali lagi dalam bentuk makanan dan minuman yang dinikmati bersama sebuah siklus keberkahan yang tak henti berputar.
Keempat, Aurat yang Terjaga. Al-Qur’an menyebut rumah sebagai aurat dalam Surah Al-Ahzab ayat 13. Sebagai aurat, rumah harus dijaga. Caranya: dengan mengucapkan salam sebelum masuk, memastikan hanya kata-kata yang bermanfaat yang terdengar di dalamnya, dan setiap anggota keluarga menunaikan tugasnya dengan penuh keikhlasan.
Ketika Ada Kekurangan, Saling Memaafkan adalah Kunci
Tidak ada rumah tangga yang sempurna. Di sana-sini pasti ada kekurangan. Dan untuk itulah Allah memberikan pesan dalam Surah Al-A’raf ayat 199:
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَاَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِيْنَ
“Jadilah pemaaf, suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.”
Rasulullah SAW juga bersabda: ketika suami memandang istrinya dan istri memandangnya, Allah memandang mereka berdua dengan pandangan kasih sayang. Dan ketika mereka saling berjabat tangan, berjatuhanlah dosa-dosa mereka dari sela-sela jari mereka. (HR. Maisarah)
Beginilah surga dibangun bukan dari kemewahan bangunan, tapi dari ketulusan hati dan kesungguhan untuk saling menjaga.
Semoga kita dimampukan untuk meneladaninya. Amin.
والله أعلم بالصواب
Tim Trobos.co








