TROBOS.CO | Biasakan tersenyum sejak pagi. Senyum ketika membuka mata, menyapa keluarga, bertemu tetangga, atau memulai pekerjaan dapat menjadi awal yang baik untuk menjalani hari. Hati yang dibuka dengan senyum biasanya lebih mudah menerima kenyataan. Kebahagiaan pun terasa lebih panjang, bahkan bisa menemani langkah hingga matahari kembali tenggelam.
Berbeda halnya jika pagi hari dimulai dengan marah, pertengkaran, dan hati yang panas. Suasana batin sering terbawa sepanjang hari. Masalah kecil terasa besar, perkataan sederhana terdengar menyakitkan, dan wajah orang lain seolah selalu salah. Marah memang mudah, tetapi menjaga hati agar tetap teduh membutuhkan latihan dan kesadaran.
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa senyum merupakan sedekah. Artinya, kebaikan tidak selalu harus dilakukan dengan harta. Ada kebaikan yang sangat murah, tetapi nilainya besar, yaitu menghadirkan keramahan melalui wajah dan perkataan. Senyum dapat menjadi ibadah sekaligus pintu yang membuka hubungan baik dengan sesama.
Senyum juga memiliki kekuatan sosial yang luar biasa. Orang yang murah senyum biasanya lebih mudah diterima. Kehadirannya tidak membuat orang lain merasa terancam. Sebaliknya, orang yang gemar marah dan mudah membentak sering membuat lingkungan di sekitarnya menjadi tegang. Sedikit demi sedikit orang menjaga jarak, bukan karena membencinya, tetapi karena ingin menyelamatkan ketenangan dirinya.
Ada ungkapan indah, tersenyumlah, dunia akan ikut tersenyum bersamamu. Ketika engkau menangis, mungkin dunia tidak selalu mampu menghentikan air matamu. Tetapi ketika engkau menghadirkan senyum, engkau sedang memberikan ruang bagi orang lain untuk ikut merasakan kebahagiaan. Senyum adalah bahasa yang tidak membutuhkan penerjemah.
Karena itu, kemarahan seharusnya tidak menjadi kebiasaan, apalagi jika berada di tangan seorang pemimpin. Pemimpin yang tidak mampu mengendalikan emosi dapat membuat keputusan yang dampaknya jauh lebih besar daripada persoalan pribadi. Satu ucapan yang terburu-buru, satu keputusan yang lahir dari amarah, bahkan satu perintah yang tidak dipikirkan dengan matang, dapat menimbulkan penderitaan bagi banyak orang.
Berbagai konflik di dunia memberikan pelajaran bahwa emosi para pemimpin dapat memiliki konsekuensi yang sangat mahal. Ketegangan antarnegara, termasuk konflik yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat, mengingatkan kita bahwa keputusan politik dan militer tidak pernah hanya menyangkut mereka yang duduk di meja kekuasaan. Di tengah konflik selalu ada manusia biasa yang ingin hidup tenang, anak-anak yang ingin belajar, keluarga yang ingin berkumpul, dan orang-orang yang hanya ingin melihat hari esok.
Islam sangat tegas dalam menghormati kehidupan manusia. Al-Qur’an dalam Surah Al-Ma’idah ayat 32 memberikan gambaran betapa berharganya satu nyawa.
مَن قَتَلَ نَفْسًۢا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِى ٱلْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ ٱلنَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَآ أَحْيَا ٱلنَّاسَ جَمِيعًا
Artinya: “Barang siapa membunuh seseorang bukan karena orang itu membunuh orang lain atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh seluruh manusia. Barang siapa yang memelihara kehidupan seseorang, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan seluruh manusia.” (QS. Al-Ma’idah: 32)
Membunuh satu jiwa tanpa alasan yang dibenarkan digambarkan seperti membunuh seluruh manusia, sementara menyelamatkan satu jiwa seperti menyelamatkan seluruh manusia. Pesan ini menunjukkan bahwa kehidupan bukanlah sesuatu yang boleh diperlakukan secara sembarangan.
Maka, tersenyum bukan sekadar gerakan bibir. Di dalamnya ada pesan tentang kedamaian, pengendalian diri, dan penghormatan kepada sesama. Orang yang mampu menahan marah sedang menyelamatkan dirinya dari banyak penyesalan. Orang yang mampu memaafkan sedang memutus rantai permusuhan. Dan orang yang mampu menghadirkan senyum sedang menanam benih kebahagiaan di tempat ia berada.
Mari memulai hari dengan wajah yang ramah dan hati yang lapang. Jika ada persoalan, selesaikan dengan kepala dingin. Jika ada perbedaan, bicarakan dengan bijaksana. Jika ada kemarahan, tahan sebelum berubah menjadi tindakan yang merugikan. Sebab dunia sudah cukup penuh dengan luka, jangan kita tambahkan luka baru.
Tersenyumlah, karena mungkin senyum kecil kita hari ini menjadi alasan seseorang kembali percaya bahwa dunia masih memiliki kebaikan. Tidak percaya? Cobalah.
Suharyo, Pemerhati Masalah Sepele










