TROBOS.CO | “Experience is the best teacher.” Pengalaman adalah guru terbaik. Tetapi ada pengalaman yang tidak harus kita alami sendiri untuk mengambil pelajaran darinya. Kematian orang lain, misalnya, sesungguhnya adalah pelajaran yang sedang diperlihatkan Allah kepada kita tentang akhir perjalanan setiap manusia. Kita hanya perlu cukup jujur untuk melihatnya dan cukup rendah hati untuk belajar darinya.
Setiap hari kita masih diberi kesempatan untuk hidup. Dalam bahasa sederhana, hidup adalah kesempatan baru dari Allah untuk memperbaiki kesalahan kemarin, belajar dari masa lalu, memperbarui niat, memperbaiki apa yang telah rusak, dan menempuh jalan yang lebih baik menuju-Nya. Tetapi sering kali kesempatan itu justru kita habiskan untuk mengejar sesuatu yang pada akhirnya tidak bisa kita bawa pulang.
Mengejar Sesuatu yang Tak Bisa Dibawa Pulang
Kita mengejar jabatan. Kita bangga ketika nama kita disebut karena kedudukan. Kita mengumpulkan harta, memperbesar rumah, memperindah kendaraan, menambah gelar, memperluas pengaruh, mengejar popularitas, dan merasa semakin tinggi ketika semakin banyak manusia memberikan penghormatan.
Tetapi pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya, apa sebenarnya yang bisa kita banggakan dalam hidup ini? Apa yang dapat kita banggakan dari jabatan, jika suatu hari kursi itu diduduki orang lain? Apa yang dapat kita banggakan dari harta, jika suatu hari semuanya berpindah tangan? Apa yang dapat kita banggakan dari gelar, jika setelah nama kita dipanggil sebagai jenazah, tidak seorang pun lagi memanggil kita dengan gelar itu?
Bahkan tubuh yang begitu kita banggakan, yang kita rawat, kita hias, kita jaga dengan berbagai cara, pada akhirnya akan menjadi tubuh yang harus dimandikan oleh orang lain.
Ketika Jenazah Itu Adalah Cermin Diri Kita
Kita mungkin sudah berkali-kali memandikan jenazah. Kita pernah mengkafani, menyalatkan, mengangkat keranda, dan mengantarkan seseorang sampai ke pemakaman. Kita berdiri di tepi liang lahat, menyaksikan tubuh seseorang diturunkan ke dalam tanah, lalu tanah itu perlahan menutupinya.
Setelah itu kita pulang. Kembali kepada rumah kita, pekerjaan kita, jabatan kita. Kembali menghitung harta kita, kembali mengejar berbagai urusan dunia yang tadi sejenak kita tinggalkan.
Tetapi pernahkah kita bertanya dengan sungguh-sungguh, bagaimana jika jenazah yang baru saja kita antar itu adalah gambaran diri kita di masa depan? Karena suatu hari nanti, kita tidak lagi berada di samping jenazah. Kitalah jenazahnya.
Bukan kita yang memandikan, tetapi kitalah yang dimandikan. Bukan kita yang mengkafani, tetapi kitalah yang dikafani. Bukan kita yang menyalatkan, tetapi kitalah yang disalatkan. Bukan kita yang mengangkat keranda, tetapi kitalah yang berada di dalamnya. Dan bukan kita yang berdiri di tepi kubur, tetapi kitalah yang akan dibaringkan di dalam liang lahat.
Pada saat itu, dunia tidak lagi membutuhkan penjelasan tentang siapa kita. Jabatan selesai, gelar selesai, harta selesai, popularitas selesai, kebanggaan pun selesai. Yang tersisa hanyalah amal dan pertanggungjawaban.
Maka barangkali pertanyaan yang lebih penting bukanlah “seberapa tinggi kita dalam kehidupan ini”, tetapi “seberapa baik kita menjalankan amanah kehidupan yang Allah berikan?” Sebab hidup bukan milik kita, ia adalah amanah.
Ilmu yang kita miliki adalah amanah. Harta yang berada di tangan kita adalah amanah. Jabatan yang dipercayakan kepada kita adalah amanah. Keluarga yang Allah titipkan kepada kita adalah amanah. Bahkan waktu yang kita gunakan untuk membaca tulisan ini pun adalah amanah.
Kita datang ke dunia tanpa membawa apa-apa. Kita tumbuh, belajar, bekerja, mengumpulkan sesuatu, kemudian merasa memiliki. Padahal pada akhirnya kita akan meninggalkan semuanya dengan cara yang sama seperti ketika kita datang, sendirian. Yang membedakan hanyalah apa yang kita bawa kepada Allah.
Karena itu, jangan terlalu cepat merasa hebat hanya karena dunia sedang memberi kita tempat. Dunia memang dapat mengangkat seseorang tinggi-tinggi, tetapi kematian dapat menurunkannya ke tempat yang sama dengan siapa pun: sebidang tanah yang sempit.
Di sanalah seluruh atribut dunia kehilangan maknanya. Tidak ada kursi jabatan di dalam kubur, tidak ada rekening bank di dalam kafan, tidak ada gelar akademik di dalam liang lahat, dan tidak ada pengikut media sosial di alam barzakh. Yang ada hanyalah diri kita sendiri dan apa yang telah kita persiapkan.
Maka kematian seharusnya tidak hanya membuat kita takut, tetapi membuat kita sadar. Sadar bahwa kesempatan hidup ini terbatas. Sadar bahwa kesalahan masih bisa diperbaiki selama napas belum berhenti. Sadar bahwa harta seharusnya menjadi sarana kebaikan, bukan sumber kesombongan. Sadar bahwa jabatan seharusnya menjadi amanah, bukan alasan untuk merasa lebih tinggi. Sadar bahwa ilmu seharusnya melahirkan kerendahan hati, bukan keangkuhan. Dan sadar bahwa hari ini mungkin merupakan kesempatan yang tidak akan pernah diberikan lagi kepada kita besok.
Maka ketika kita menyaksikan seseorang dimandikan, dikafani, disalatkan, dan dimakamkan, jangan hanya melihat kematian orang lain. Lihatlah masa depan diri kita sendiri. Jenazah itu seakan sedang bertanya tanpa suara, “Setelah melihatku seperti ini, apa yang akan kau lakukan dengan sisa hidupmu?”
Mungkin itulah salah satu pelajaran terbesar dari kematian. Ia datang bukan hanya untuk memberitahu kita bahwa seseorang telah pergi, tetapi juga untuk mengingatkan bahwa kita sedang menuju tempat yang sama.
Lalu, setelah semua yang kita banggakan dilepaskan satu per satu, apa yang benar-benar tersisa untuk kita banggakan? Mungkin bukan jabatan yang pernah kita duduki, bukan harta yang pernah kita miliki, bukan gelar yang pernah kita sandang, dan bukan seberapa banyak manusia mengenal nama kita. Tetapi seberapa banyak amanah yang telah kita tunaikan, seberapa banyak kebaikan yang telah kita tinggalkan, dan seberapa dekat kita kepada Allah ketika Dia memanggil kita pulang.
Sebab pada akhirnya, kita semua akan menjadi berita kematian bagi orang lain. Persoalannya bukan apakah nama kita akan tertulis dalam kabar duka. Persoalannya adalah, ketika berita itu tiba, apa yang sebenarnya telah kita tinggalkan?
Tim Trobos.co










