Lisan Basah Karena Dzikrullah, Hati Bahagia Sepanjang Hari

banner 2560316

TROBOS.CO | Dzikir, kata Prof. Dr. Quraish Shihab, mengingat dan menyebut nama Allah.

Kapan? Siang, malam, pagi, petang. Alias sepanjang waktu. Tidak ada batasan jam khusus. Tidak ada waktu yang terlarang. Kapan pun lisan kita bisa bergerak menyebut nama-Nya. Saat bekerja, saat istirahat, saat berkendara, bahkan saat sibuk sekalipun. Karena dzikir tidak membutuhkan tempat khusus. Ia cukup ditemani oleh hati yang ingin dekat dengan Sang Pencipta.

Allah cinta pada hamba-Nya yang lisannya selalu sibuk menyebut-nyebut nama-Nya.

Bayangkan, Tuhan semesta alam, pemilik langit dan bumi, mencintai hamba yang lidahnya tidak pernah kering dari kalimat-kalimat suci. Subhanallah, betapa besar kehormatan itu. Tidak perlu harta melimpah. Tidak perlu jabatan tinggi. Cukup dengan lisan yang basah karena dzikir, kita sudah bisa meraih cinta Allah.

Di hadis lain ditegaskan, Allah cinta pada hamba-Nya yang lisannya selalu basah karena dzikrullah.

Basah di sini bukan karena air liur, tetapi karena seringnya bergerak mengucap kalimat-kalimat thayyibah. Laa ilaha illallah. Subhanallah. Alhamdulillah. Allahu Akbar. Kalimat-kalimat pendek yang berat di timbangan, namun ringan di lisan. Tidak butuh tenaga besar. Tidak butuh waktu lama. Hanya perlu kesadaran dan sedikit kemauan.

Yakinlah jika gemar berdzikir, hatinya damai. Jauh dari gelisah, susah, dan sedih.

Firman Allah dalam Al-Qur’an sangat jelas: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28). Bukan obat, bukan harta, bukan jabatan, bukan popularitas, tetapi dzikir. Inilah resep ketenangan sejati yang ditawarkan oleh Sang Pencipta jiwa itu sendiri.

Dunia terasa aman. Beban hidup menyingkir. Masa depan cerah. Problem hidup tuntas.

Seseorang yang hatinya terhubung dengan Allah akan melihat segala persoalan dengan kacamata yang berbeda. Tidak mudah panik. Tidak mudah putus asa. Ia yakin bahwa di balik setiap kesulitan ada kemudahan. Ia percaya bahwa Allah tidak akan membebani hamba-Nya di luar batas kemampuan. Maka ia pun menjalani hidup dengan tenang, penuh keyakinan.

Rizki lancar. Akhirat terjamin. Kelak dikumpulkan dengan para ahli zikir di surga.

Orang yang gemar dzikir tidak hanya mendapat kebaikan di dunia, tetapi juga kemuliaan di akhirat. Mereka akan dikumpulkan bersama orang-orang yang hatinya selalu terpaut kepada Allah. Duduk bersama di surga, tempat yang penuh kenikmatan tanpa pernah berakhir. Inilah janji yang tidak akan pernah dilanggar oleh Allah.

Sebaliknya, orang yang tidak mau berdzikir, hidupnya selalu gelisah. Problem hidup berdatangan.

Rasanya tidak pernah cukup. Hatinya selalu lapar. Pikirannya kacau. Ia berlari ke sana kemari mencari ketenangan, tetapi tidak pernah menemukannya. Ia coba mencari hiburan, ia coba kumpulkan harta, ia coba kejar jabatan, tetapi semua itu tidak pernah mengisi kekosongan dalam jiwanya.

Langkahnya sering terhambat. Dunia terasa sempit. Dan di akhirat jauh dari surga.

Betapa ruginya orang yang diberi kesempatan hidup, diberi lisan yang sehat, diberi waktu yang panjang, tetapi ia gunakan semuanya untuk melalaikan Allah. Ia sibuk dengan urusan dunia yang fana, dan melupakan bekal untuk akhirat yang kekal.

Semoga kita selalu bergelimang dengan dzikir. Sibuk ingat Allah. Hati bahagia karena selalu bersama-Nya.

Bukan sekadar di bulan Ramadhan, bukan hanya di waktu-waktu tertentu, tetapi di setiap helaan napas kehidupan. Karena orang yang hidup bersama Allah tidak akan pernah merasa sendirian. Ia selalu tenang, selalu optimis, dan selalu bahagia.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Suharyo, pemerhati masalah-masalah sepele.

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *