Di Atas Fikih Ada Akhlak: Teguh Prinsip, Tetap Beradab

banner 2560316

TROBOS.CO | Fikih mengajarkan kita bagaimana menjalankan aturan agama, sedangkan akhlak mengajarkan bagaimana menjalani hidup dengan kemuliaan. Keduanya tidak boleh dipertentangkan. Fikih tanpa akhlak berisiko melahirkan kekakuan, sementara akhlak tanpa pijakan syariat dapat kehilangan arah. Persoalan muncul ketika fikih dipahami sekadar sebagai kumpulan aturan yang harus ditegakkan, sementara tujuan moral di balik aturan itu justru diabaikan.

Ketika Perbedaan Fikih Jadi Harga Mati

Fenomena pertama adalah ketika perbedaan fikih dianggap harga mati. Perbedaan pendapat yang sejak lama dikenal dalam khazanah keilmuan Islam berubah menjadi alasan untuk saling menyalahkan, merendahkan, bahkan memutus hubungan persaudaraan. Seolah-olah pendapat yang kita yakini adalah satu-satunya kebenaran yang boleh hidup, sementara pendapat lain harus disingkirkan.

banner 300250

Padahal, keteguhan berpegang pada pendapat fikih tidak mengharuskan seseorang kehilangan kelapangan hati. Kita boleh berbeda dalam memahami hukum, tetapi tidak harus berbeda dalam menjaga adab, menghormati sesama, dan merawat persaudaraan. Teguh dalam prinsip tidak berarti kaku dalam menyikapi perbedaan.

Ketika Aturan Dijadikan Alasan Meninggalkan Akhlak

Fenomena kedua adalah ketika penegakan aturan justru dijadikan alasan untuk meninggalkan akhlak. Semua orang diperlakukan sama secara kaku, tanpa mempertimbangkan konteks, amanah, integritas, dan kontribusi masing-masing. Keseragaman perlakuan dianggap sebagai keadilan, padahal adil tidak selalu berarti memperlakukan setiap orang secara identik.

Ada aturan yang memang berlaku bagi semua. Namun, ada pula pertimbangan yang harus memperhatikan keadaan, tanggung jawab, rekam jejak, dan kemaslahatan. Mengabaikan seluruh pertimbangan itu atas nama ketegasan dapat mengubah aturan menjadi alat kekakuan, bukan sarana mewujudkan keadilan.

Rekam Jejak dan Kebijaksanaan

Orang yang bertahun-tahun menjaga amanah, berkorban untuk kepentingan bersama, dan memberi kontribusi nyata semestinya tidak dinilai dengan mengabaikan seluruh rekam jejaknya hanya karena satu persoalan yang muncul. Sebaliknya, orang yang berkedudukan atau berjasa besar juga tidak boleh dibebaskan dari aturan hanya karena jasa-jasanya.

Di sinilah kebijaksanaan diperlukan. Integritas dan kontribusi memang menjadi pertimbangan yang relevan, tetapi tidak boleh dijadikan alasan untuk mengistimewakan seseorang secara sewenang-wenang atau menghapus kewajiban yang berlaku. Keadilan bukan membutakan mata terhadap perbedaan keadaan, melainkan menempatkan segala sesuatu secara proporsional.

Ketegasan bukanlah kekasaran, dan konsistensi bukanlah ketidakmampuan mempertimbangkan konteks. Aturan perlu ditegakkan, tetapi cara menegakkannya tetap harus berada dalam koridor akhlak. Sebab, seseorang bisa benar dalam kesimpulan hukumnya, tetapi keliru dalam cara memperlakukan manusia. Kebenaran yang disampaikan dengan kesombongan, penghinaan, atau ketidakadilan bisa kehilangan daya mendidiknya.

Apa Maksud “Di Atas Fikih Ada Akhlak”?

Ungkapan “di atas fikih ada akhlak” bukan berarti akhlak boleh membatalkan hukum Allah atau perasaan boleh menggantikan syariat. Maksudnya, pemahaman terhadap fikih harus melahirkan perilaku yang beradab, adil, bijaksana, dan bertanggung jawab. Akhlak bukan pesaing fikih, melainkan salah satu buah penting dari pengamalan agama yang benar.

Ketika seseorang semakin mendalami agama tetapi semakin mudah merendahkan orang lain, semakin keras terhadap perbedaan, dan semakin abai terhadap jasa serta amanah sesama, ada yang patut dievaluasi dalam cara ia memahami dan mengamalkan agamanya.

Ujian Keberagamaan

Pada akhirnya, ukuran keberagamaan tidak cukup dilihat dari seberapa keras seseorang membela pendapat fikih atau menuntut aturan ditegakkan. Kita perlu bertanya: apakah keteguhan itu membuatnya semakin adil? Apakah ketaatan itu membuatnya semakin santun? Apakah pemahamannya terhadap hukum membuatnya semakin bijaksana dalam memperlakukan manusia?

Sebab, tujuan beragama bukan sekadar membuat orang pandai berbicara tentang hukum, melainkan membentuk manusia yang mampu menegakkan kebenaran tanpa kehilangan kemanusiaan, mempertahankan prinsip tanpa merusak persaudaraan, dan menjalankan aturan tanpa mengorbankan keadilan.

Fikih membimbing kita memahami ketentuan. Akhlak menguji bagaimana kita memperlakukan sesama ketika menjalankan ketentuan itu. Jangan sampai kita sibuk menegakkan aturan, tetapi justru meruntuhkan nilai-nilai luhur yang seharusnya dijaga oleh agama.

[Cak Muhid pesantren eLKISI dari Jawa Timur]

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *