Kaya Bukan Tujuan, Tetapi Jalan (1): Untuk Apa Kita Mencari Harta?

banner 2560316

TROBOS.CO | Mengapa kita harus berusaha? Mengapa kita bekerja keras, membangun bisnis, dan bercita-cita menjadi kaya? Apakah sekadar agar punya rumah megah, kendaraan mewah, tabungan melimpah, dan hidup serba berkecukupan?

Tidak ada yang salah dengan keinginan hidup sejahtera. Setiap orang mendambakan kehidupan yang layak bagi dirinya dan keluarganya. Namun, pernahkah kita bertanya: jika suatu hari Allah SWT menitipkan kekayaan besar kepada kita, untuk apa kekayaan itu akan digunakan? Berhenti pada pemenuhan keinginan pribadi, atau menjadi jalan bagi manfaat yang lebih luas bagi sesama?

banner 300250

Pertanyaan ini penting, sebab manusia kerap begitu sibuk mengejar kekayaan hingga lupa tujuan di balik pencariannya. Kita bekerja dari pagi hingga malam, membangun usaha, memperluas jaringan, dan mengumpulkan keuntungan. Tetapi ketika ditanya untuk apa semua itu, jawabannya sering berhenti pada keinginan untuk hidup nyaman. Padahal, bagi seorang Muslim, hidup punya tujuan yang jauh lebih besar daripada sekadar mengumpulkan harta.

Mengapa Umat Islam Perlu Kuat Secara Ekonomi?

Islam tidak mengajarkan umatnya menjauhi dunia. Sebaliknya, Islam memberi ruang luas bagi manusia untuk bekerja, berdagang, membangun usaha, dan mencari rezeki yang halal. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Jumu’ah ayat 10, yang artinya:

“Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.”

Ayat ini mengingatkan bahwa mencari rezeki punya tempat penting dalam kehidupan seorang Muslim. Ibadah dan usaha tidak perlu dipertentangkan. Keduanya bisa berjalan beriringan ketika usaha dilakukan dengan niat yang benar dan cara yang diridai Allah.

Bayangkan jika semakin banyak umat Islam memiliki usaha yang berkembang, mandiri secara ekonomi, dan mampu menciptakan lapangan kerja. Berapa banyak keluarga yang terbantu? Berapa banyak anak yang bisa melanjutkan pendidikan? Berapa banyak masyarakat kurang mampu yang bisa diberdayakan?

Usaha yang berhasil tidak hanya menguntungkan pemiliknya. Ia menjadi sumber penghidupan bagi pekerja, membuka pasar bagi pemasok, menggerakkan ekonomi masyarakat, dan menghadirkan banyak kesempatan untuk berbagi. Karena itu, membangun kekuatan ekonomi bukan semata urusan memperkaya diri. Di dalamnya ada peluang besar untuk memperluas kemaslahatan umat.

Tentu, tidak setiap Muslim harus menjadi kaya untuk meraih kemuliaan. Kemuliaan di sisi Allah ditentukan oleh ketakwaan, bukan jumlah harta. Namun, ketika seseorang punya kemampuan, kesempatan, dan keahlian untuk membangun usaha, mengapa potensi itu tidak diperjuangkan demi lebih banyak kebaikan?

Belajar dari Perempuan Mulia Bernama Khadijah

Siapa di antara kita yang tidak ingin berkumpul bersama Rasulullah SAW di surga? Itulah kerinduan setiap Muslim yang mencintai beliau. Ada banyak jalan kebaikan untuk meraihnya, dan salah satunya adalah menggunakan kemampuan, usaha, dan harta yang kita miliki untuk mendukung kebaikan.

Sejarah Islam menghadirkan teladan luar biasa lewat Sayyidah Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu ‘anha. Beliau dikenal memiliki usaha perdagangan, kekayaan, dan kedudukan terhormat di tengah masyarakat Makkah, seorang perempuan mandiri yang mampu mengelola kegiatan ekonomi pada zamannya.

Namun, apakah kekayaan yang membuat nama Khadijah begitu mulia? Bukan semata karena hartanya. Kemuliaan Khadijah terletak pada keimanan, ketulusan, kesetiaan, dan pengorbanannya. Ketika Rasulullah SAW menerima wahyu dan menghadapi masa-masa penuh tantangan, Khadijah hadir memberi ketenangan, kepercayaan, dan dukungan. Beliau juga memakai kemampuan dan hartanya untuk mendukung perjuangan dakwah Islam.

Di tangan Khadijah, harta tidak berhenti sebagai simbol keberhasilan duniawi. Ia menjadi bagian dari pengabdiannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dalam hadis sahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Khadijah mendapat kabar gembira tentang sebuah rumah di surga yang tidak ada kebisingan dan keletihan di dalamnya. Kabar gembira itu bukan karena beliau sekadar kaya, melainkan karena kemuliaan iman dan pengabdiannya.

Lalu, bagaimana kekayaan seharusnya dikelola agar menjadi jalan, bukan tujuan? Jawabannya ada pada bagian kedua tulisan ini.

Oleh: Dr. Rusli Tonda, S.Pt., M.Agr., Dosen Agribisnis Universitas Lumajang

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *