Merenungi Inti Kehidupan: Belajar Tawakal dari Burung

banner 2560316

TROBOS.CO | Jika kita mau berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan, lalu merenung dengan hati yang jernih, kita akan menemukan sesuatu yang sering luput dari perhatian: hidup ini ternyata tidak serumit yang kita bayangkan.

Kita terlalu sering memikirkan hari esok, mencemaskan sesuatu yang belum terjadi, bahkan takut kehilangan sesuatu yang sebenarnya belum tentu menjadi milik kita. Padahal, semakin dalam seseorang merenungi kehidupan, semakin ia memahami bahwa ada Dzat Yang Maha Mengatur segala sesuatu.

banner 300250

Cobalah sesekali memperhatikan burung-burung kecil yang terbang meninggalkan sarangnya pada pagi hari. Ia berangkat tanpa membawa bekal yang memenuhi tas, tanpa mengetahui secara pasti di mana akan mendapatkan makanan. Sayapnya menjadi ikhtiar, nalurinya menjadi petunjuk, dan Allah menjadi tempat bergantungnya kehidupan.

Sore hari ia kembali ke sarang dalam keadaan kenyang, bahkan membawa makanan untuk anak-anaknya yang sejak pagi menunggu. Rasulullah SAW bersabda, “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki. Ia pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang,” (HR. Tirmidzi).

Di sinilah manusia kadang patut belajar kepada burung kecil. Burung tidak pernah kuliah tentang teori rezeki, tetapi ia tidak pernah berhenti terbang. Ia tidak memiliki kalender untuk memastikan makanan tersedia esok hari, tetapi ia tetap meninggalkan sarang setiap pagi.

Tawakal ternyata bukan berarti diam menunggu keajaiban. Tawakal adalah hati yang bersandar kepada Allah, sementara kaki tetap melangkah dan tangan tetap bekerja. Kita berikhtiar sekuat tenaga, tetapi tidak menggantungkan keselamatan hidup kepada ikhtiar itu sendiri.

Al-Qur’an mengajarkan ketenangan tersebut dengan sangat indah, “Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya,” (QS. At-Talaq: 3). Ayat ini bukan sekadar kalimat penghibur bagi hati yang sedang gelisah, melainkan sebuah prinsip kehidupan yang utuh.

Allah mengetahui apa yang kita perlukan, kapan kita memerlukannya, dan bagaimana cara memberikannya. Tugas manusia adalah berusaha dengan cara yang halal, sementara hasil akhirnya diserahkan kepada Allah dengan hati yang lapang.

Sering kali kegelisahan muncul karena kita ingin mengatur sesuatu yang sebenarnya berada di luar wilayah kekuasaan kita sendiri. Kita ingin memastikan masa depan, menjamin rezeki, mengendalikan pendapat orang lain, dan memastikan semua rencana berjalan sesuai keinginan.

Padahal Allah mengingatkan, “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya,” (QS. Hud: 6). Jika makhluk yang tidak mampu menyusun rencana serumit manusia saja dijamin rezekinya oleh Allah, mengapa kita harus menjalani hidup dengan kecemasan yang berlebihan?

Namun tawakal bukan alasan untuk bermalas-malasan. Burung yang menjadi perumpamaan Rasulullah SAW tetap keluar dari sarangnya. Ia terbang, mencari, berjuang, lalu pulang. Begitu pula manusia diperintahkan untuk bekerja, berkarya, belajar, berdagang, bertani, mengabdi, dan melakukan berbagai ikhtiar kehidupan.

Setelah semua dilakukan, jangan biarkan hati diperbudak oleh hasil, sebab hasil bukan wilayah manusia. Allah yang menentukan segalanya. “Apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal,” (QS. Ali Imran: 159).

Pada akhirnya kita akan sampai pada kesadaran bahwa tugas terbesar manusia bukan mengejar dunia tanpa batas, melainkan beribadah kepada Allah. Allah berfirman, “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku,” (QS. Adz-Dzariyat: 56).

Dunia adalah ladang, bukan tujuan terakhir. Harta adalah sarana, bukan sesembahan. Jabatan adalah amanah, bukan ukuran kemuliaan. Rezeki adalah titipan, bukan alasan untuk menyombongkan diri. Ketika orientasi hidup kembali kepada Allah, banyak kecemasan yang selama ini memenuhi dada perlahan menemukan tempat untuk pulang.

Karena itu, jangan terlalu risau terhadap kehidupan. Bukan berarti kita mengabaikan persoalan, melainkan menempatkan persoalan pada tempatnya. Ada bagian yang harus kita kerjakan dan ada bagian yang harus diserahkan kepada Allah.

Kita bekerja untuk menjemput rezeki, tetapi Allah yang melapangkan rezeki. Kita berusaha menjaga kesehatan, tetapi Allah yang memberikan kesembuhan. Kita merancang masa depan, tetapi Allah yang menentukan perjalanan. Hati yang memahami hal ini akan lebih tenang, sebab ia tahu bahwa dirinya tidak pernah berjalan sendirian.

Dan ketika kehidupan terasa berat, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa Allah sedang meninggalkan kita. Bisa jadi justru melalui kesulitan itu Allah sedang mendidik kesabaran, membersihkan hati, dan menaikkan derajat kita.

Al-Qur’an memberikan janji yang menenteramkan, “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas,” (QS. Az-Zumar: 10). Tidak ada kesabaran yang sia-sia di hadapan Allah. Air mata yang jatuh karena bertahan dalam kebaikan, lelah yang muncul karena mencari rezeki halal, dan perjuangan mempertahankan iman, semuanya tercatat dalam pengetahuan-Nya.

Maka, jika suatu hari hati mulai gelisah memikirkan rezeki dan masa depan, barangkali kita perlu belajar kembali kepada burung kecil. Ia terbang dengan sayapnya, tetapi hidupnya berada dalam penjagaan Allah.

Kita pun demikian. Berikhtiarlah, tetapi jangan kehilangan tawakal. Bekerjalah, tetapi jangan mempertuhankan pekerjaan. Rencanakanlah masa depan, tetapi jangan lupa bahwa Allah adalah sebaik-baik pembuat rencana.

Jika kita benar-benar merenung, akhirnya kita akan sampai pada inti kehidupan: kita datang dari Allah, hidup dengan pertolongan Allah, mendapatkan rezeki dari Allah, dan pada akhirnya kembali kepada Allah. Maka cukupkanlah hati dengan-Nya. Sebab siapa yang menemukan Allah dalam hidupnya, ia tidak akan pernah benar-benar merasa kehilangan arah.

Suharyo AP

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *