TROBOS.CO | Baznas tergolong lembaga yang relatif muda. Pada 2026 usianya baru 25 tahun, tetapi pertumbuhannya pesat. Kini Baznas hadir hampir di semua kabupaten/kota di Indonesia, dan pamornya kian “seksi” serta diminati.
Wajar jika Presiden Prabowo Subianto menaruh perhatian khusus. Menurut Menteri Agama Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, Presiden meminta agar Baznas dikelola lebih maksimal. Presiden menilai kantor Baznas RI belum layak dan perlu diganti dengan kantor ikonik di tengah ibu kota. Rencananya, kantor representatif itu dibangun di sekitar kawasan Hotel Indonesia, lokasi yang sangat strategis.
Itu sebabnya, kata Menag, kerja Baznas harus lebih masif. Ia menyampaikannya sambil menunjukkan gambar calon kantor Baznas kepada peserta Rakornas.
Menag menilai target perolehan Baznas tahun 2027 sebesar Rp70 triliun masih terlalu kecil. Jika dihitung dari potensinya, kata dia, angkanya bisa mencapai sekitar Rp1.000 triliun. Bila itu tercapai, persoalan umat bisa diatasi lewat Baznas. Umat pun tak perlu sibuk mengirim proposal ke pemerintah, cukup kepada Baznas.
Di daerah, gambarnya berbeda-beda, tergantung besar kecilnya pengumpulan zakat, infak, dan sedekah (ZIS). Kabupaten Lumajang, misalnya, mampu mengumpulkan lebih dari Rp6 miliar dalam setahun. Dibandingkan kabupaten lain, Baznas Lumajang masuk kategori “setengah besar, setengah kecil”.
Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, mampu mengumpulkan sekitar Rp12 miliar, dua kali lipat Lumajang. Padahal penduduknya hanya sekitar 300.000 jiwa, kata Wakil Ketua II, H. Ust. Hasan Kadir.
Berbeda lagi dengan Kabupaten Luwu Utara, yang setiap bulan mengumpulkan sekitar Rp300 juta, atau Rp3,6 miliar dalam setahun. “Kami terus bekerja untuk meningkatkan pengumpulan,” kata Wakil Ketua III, Ustaz Mustamin Makasu.
Di Jawa Timur, potretnya juga beragam. Kabupaten Ponorogo mampu menghimpun sekitar Rp8 miliar per tahun, sementara sejumlah kabupaten di kawasan tapal kuda perolehannya masih di bawah Ponorogo.
Yang unik terjadi di Lombok Barat, yang mampu memperoleh sekitar Rp23 miliar. Mereka menggerakkan 100 relawan setiap hari untuk mengetuk hati masyarakat agar berinfak di pasar.
Cara ini bisa ditiru Baznas daerah lain agar pengumpulan lebih maksimal dan mampu melayani permintaan masyarakat yang sering datang membeludak.
Angka-angka itu menunjukkan bahwa potensi zakat tidak ditentukan besar kecilnya daerah, melainkan seberapa gigih Baznas menjemputnya.
Suharyo/Trobos.co










