Waktu Terus Berjalan Tak Pernah Kembali, Ini Pesan Surah Al-‘Ashr

banner 2560316

TROBOS.CO | Ada satu hal yang tidak pernah bisa dibeli kembali oleh manusia, sebanyak apa pun hartanya: waktu yang telah berlalu. Allah SWT mengingatkan hal ini melalui salah satu surah terpendek namun paling dalam maknanya dalam Al-Qur’an, yakni Surah Al-‘Ashr.

وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

banner 300250

Artinya: “Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr [103]: 1-3)

Tiga ayat pendek ini menyimpan pesan yang panjang tentang bagaimana seharusnya manusia menjalani hidup.

Waktu adalah modal yang tidak bisa disimpan untuk dipakai nanti. Hari yang sudah berlalu tidak akan pernah kembali, walau ditukar dengan harta sebanyak apa pun. Karena itulah, orang beriman tidak sekadar menghitung umurnya dari bertambahnya angka, melainkan dari bertambahnya iman, amal, dan kedekatan kepada Allah.

Umur yang panjang, pada akhirnya, belum tentu bernilai panjang di hadapan-Nya apabila dipenuhi kelalaian. Ada orang yang hidup puluhan tahun namun jejak kebaikannya nyaris tak terasa, dan ada pula yang usianya singkat tapi meninggalkan kebaikan yang terus mengalir.

Tugas pertama seorang mukmin adalah menjaga iman agar tetap hidup dan stabil, bahkan jika memungkinkan terus bertumbuh dari waktu ke waktu. Iman bukan sekadar pengakuan di lisan, melainkan keyakinan yang bersemayam di hati dan tercermin dalam perilaku sehari-hari.

Ketika iman semakin kokoh, cara seseorang memandang dunia pun ikut berubah. Dunia tidak lagi menjadi tujuan akhir, melainkan berubah menjadi ladang untuk menanam bekal menuju akhirat.

Setelah iman, ada amal saleh yang harus terus ditambah. Kebaikan tidak selalu berbentuk sesuatu yang megah dan terlihat mencolok di mata orang lain. Senyum yang tulus, membantu orang yang sedang kesusahan, menjaga lisan agar tidak menyakiti, menepati janji, bekerja dengan jujur, menyantuni yang lemah, hingga menyingkirkan sesuatu yang membahayakan dari jalan, semuanya bisa menjadi amal yang bernilai apabila dilakukan karena Allah semata.

Namun kehidupan beriman tidak boleh berhenti hanya pada kesalehan pribadi. Al-Qur’an mengajarkan agar manusia saling mewasiatkan kebenaran, sebab seorang mukmin tidak berjalan sendirian dalam perjalanan menuju Allah. Ia mengingatkan saudaranya ketika lupa, menguatkan ketika lemah, dan mengajak kepada kebaikan dengan cara yang bijaksana. Nasihat, dengan begitu, bukan untuk merasa lebih tinggi, melainkan bentuk kepedulian agar sama-sama selamat.

Menjalankan agama tidak selalu berjalan di atas jalan yang mulus. Ada godaan, ejekan, kesulitan, kehilangan, kekecewaan, dan berbagai ujian kehidupan lain yang datang silih berganti.

Kesabaran bukan berarti menyerah kepada keadaan, melainkan tetap teguh di jalan kebenaran meskipun perjalanan terasa berat. Orang yang sabar bukanlah orang yang tidak memiliki masalah, melainkan orang yang tidak membiarkan masalah menjauhkan dirinya dari Allah.

Seorang insan beriman juga perlu memiliki hati yang mantap kepada-Nya, dan rasa syukur hendaknya tidak berhenti sebatas ucapan. Jika Allah memberi kesehatan, kesehatan itu digunakan untuk kebaikan. Jika diberi ilmu, ilmu itu dibagikan kepada sesama. Jika diberi rezeki, sebagian disisihkan untuk membantu yang membutuhkan.

Banyak kisah kehidupan menunjukkan betapa dangkalnya iman dapat membuat seseorang kehilangan arah. Ketika dunia menjadi satu-satunya ukuran kebahagiaan, manusia mudah kecewa saat keinginannya tidak tercapai.

Sebaliknya, orang yang menempatkan Allah sebagai pusat kehidupannya memiliki tempat kembali ketika badai datang. Ia boleh menangis, boleh bersedih, tetapi hatinya tidak pernah kehilangan arah.

Orang yang enggan berbuat baik, lambat laun bisa kehilangan tempat di tengah kehidupan sosialnya sendiri. Kebaikan membangun kepercayaan, sementara keburukan meruntuhkannya sedikit demi sedikit. Begitu pula orang yang tidak mau saling mengingatkan, akan mudah terjebak dalam kesalahan yang dianggapnya biasa saja, bahkan bisa tergelincir ke dalam kenikmatan dunia yang semu tanpa sadar bahwa setiap kesenangan akan dimintai pertanggungjawaban kelak.

Surah Al-‘Ashr, pada akhirnya, adalah panggilan agar manusia tidak menjadi golongan yang merugi. Empat bekal harus dijaga bersama-sama: iman, amal saleh, kebenaran, dan kesabaran. Waktu terus berjalan seperti sungai yang tak pernah kembali ke mata airnya.

Selagi matahari kehidupan belum tenggelam, mungkin tidak ada yang lebih pantas dilakukan selain memperbaiki iman, memperbanyak amal, saling mengingatkan dalam kebenaran, dan saling menguatkan dalam kesabaran. Sebab keberuntungan sejati bukan soal siapa yang memiliki waktu paling panjang, melainkan siapa yang berhasil mengisi waktunya yang singkat itu dengan sesuatu yang diridhai Allah.

Suharyo AP, Pemerhati Masalah Sepele

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *