Bukan Krisis Ekonomi, tapi Krisis Epistemologi Bangsa

banner 2560316

TROBOS.CO | Bangsa ini sesungguhnya tidak kekurangan sumber daya. Tidak kekurangan pakar. Tidak kekurangan teori pembangunan. Tidak pula kekurangan regulasi.

Namun mengapa berbagai krisis terus berulang? Korupsi berganti wajah tetapi tetap hidup. Ketimpangan berganti bentuk tetapi tetap melebar. Reformasi datang silih berganti tetapi tidak selalu menghasilkan perubahan yang mendasar.

Seolah-olah bangsa ini sedang berlari sangat cepat, tapi tidak pernah benar-benar sampai ke tujuan.

Di tengah kegelisahan itu, gagasan Prof. Didin S. Damanhuri tentang Ekonomi Pasar Pancasila menjadi sangat menarik untuk dicermati. Di saat sebagian kalangan mengagungkan pasar bebas sebagai solusi segalanya, sementara yang lain menginginkan dominasi negara lebih besar, Prof. Didin menawarkan jalan yang berbeda.

Pasar tetap diperlukan untuk mendorong produktivitas dan pertumbuhan. Tapi ia tidak boleh berjalan tanpa kendali moral. Pembangunan harus berpijak pada keadilan sosial, keberpihakan kepada rakyat, dan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi ruh Pancasila.

Gagasan itu menunjukkan bahwa ekonomi tidak dapat dipisahkan dari nilai. Pasar bukanlah mesin yang bekerja di ruang hampa. Ia selalu bergerak di atas fondasi cara pandang tertentu tentang manusia, kehidupan, dan tujuan pembangunan.

Dan di sinilah pertanyaan yang lebih mendasar mulai muncul.

Mengapa berbagai sistem ekonomi yang menjanjikan kemakmuran sering berakhir pada ketimpangan? Mengapa pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak selalu menghasilkan keadilan? Mengapa kemajuan material tidak otomatis melahirkan ketenteraman sosial?

Semua pertanyaan itu menunjukkan bahwa persoalan terbesar bangsa ini mungkin bukan sekadar persoalan ekonomi. Yang sedang kita hadapi bukan hanya krisis ekonomi melainkan krisis epistemologi.

Peradaban modern telah mengajarkan manusia bagaimana memproduksi lebih banyak, mengonsumsi lebih banyak, dan mempercepat hampir segala sesuatu. Tapi ia tidak selalu mampu menjawab pertanyaan yang paling penting: untuk apa semua itu dilakukan?

Kita mengetahui cara meningkatkan pertumbuhan, tapi tidak selalu mengetahui arah pertumbuhan itu. Kita mampu menghitung keuntungan dengan sangat rinci, tapi sering kali kehilangan kemampuan menjelaskan makna keuntungan itu sendiri.

Kita hidup di era limpahan informasi, tetapi mengalami kelaparan makna. Kita berhasil menaklukkan ruang, tetapi gagal menaklukkan diri sendiri. Kita mampu membangun gedung yang semakin tinggi, tetapi gagal membangun orientasi yang semakin jelas.

Akibatnya, pembangunan sering kali berubah menjadi perlombaan tanpa garis akhir. Semakin cepat berlari, semakin kabur tujuan yang ingin dicapai.

Dalam Seri Epistemologi Qurani dijelaskan bahwa setiap sistem selalu lahir dari sebuah worldview. Tidak ada ekonomi yang netral. Tidak ada pasar yang bebas nilai.

Di balik setiap kebijakan ekonomi selalu tersembunyi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan filosofis yang sangat mendasar: Siapa manusia? Untuk apa ia hidup? Apa tujuan kekayaan? Apa makna kemajuan?

Kapitalisme memiliki jawabannya. Sosialisme memiliki jawabannya. Liberalisme memiliki jawabannya. Tapi persoalan terbesar bukan terletak pada perbedaan jawaban itu. Persoalan terbesar muncul ketika manusia menganggap dirinya mampu menjadi sumber makna tertinggi bagi kehidupannya sendiri.

Ketika manusia menempatkan dirinya sebagai pusat segala sesuatu, pasar berubah dari alat menjadi tujuan. Kekayaan berubah dari sarana menjadi orientasi. Pertumbuhan berubah dari instrumen menjadi ideologi. Pada titik itu ekonomi tidak lagi melayani manusia manusialah yang mulai mengabdi kepada ekonomi.

Ironisnya, keadaan ini sering kali tidak disadari. Berhala modern tidak lagi terbuat dari batu seperti berhala kaum jahiliyah. Berhala modern dibangun dari angka-angka statistik, indeks pertumbuhan, grafik investasi, dan logika keuntungan.

Ia tidak disembah di kuil-kuil, tetapi dipuja dalam ruang-ruang rapat, pusat-pusat keuangan, dan berbagai kebijakan publik. Bentuknya berubah, tetapi hakikatnya tetap sama: sesuatu selain Allah dijadikan pusat orientasi kehidupan.

Karena itulah Al-Qur’an memulai revolusinya bukan dari pasar, bukan dari negara, dan bukan dari kekuasaan. Al-Qur’an memulai semuanya dari cara manusia membaca realitas.

اقْرَأْ — Bacalah.

Perintah pertama ini bukan sekadar perintah literasi. Ia adalah revolusi epistemologis. Salah membaca realitas akan melahirkan salah memahami kehidupan. Salah memahami kehidupan akan melahirkan salah menentukan tujuan. Dan salah menentukan tujuan akan melahirkan sistem yang salah sebaik apa pun desain teknisnya.

Setelah Iqra’, Epistemologi Qurani membawa manusia kepada tauhid. Bukan sekadar pengakuan bahwa Allah itu satu tapi penegasan bahwa hanya Allah yang berhak menjadi pusat makna kehidupan. Hanya Allah yang berhak menentukan tujuan keberadaan manusia. Hanya Allah yang berhak menjadi sumber orientasi tertinggi bagi ilmu, politik, ekonomi, dan seluruh aktivitas manusia.

Tanpa tauhid, manusia akan terus berpindah dari satu berhala ke berhala yang lain. Dari berhala kekuasaan ke berhala kekayaan. Dari berhala kekayaan ke berhala popularitas. Dari berhala popularitas ke berhala teknologi.

Korupsi, kemiskinan, dan ketimpangan bukan akar masalah. Itu semua hanyalah gejala. Akar masalahnya terletak pada berpindahnya otoritas kebenaran dari wahyu kepada hawa nafsu.

Ketika wahyu tidak lagi menjadi sumber orientasi, keuntungan mengambil alih. Ketika keuntungan mengambil alih, keadilan menjadi relatif. Ketika keadilan menjadi relatif, kekuasaan akan selalu mencari pembenarannya sendiri.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-A’raf ayat 96:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi.”

Perhatikan: Al-Qur’an tidak memulai keberkahan dari pasar atau pertumbuhan ekonomi. Al-Qur’an memulainya dari iman dan takwa. Sebab keberkahan bukan persoalan jumlah, melainkan persoalan arah. Bukan seberapa cepat sebuah bangsa bergerak, tapi ke mana ia bergerak.

Maka jalan keluar yang paling mendasar bukan hanya reformasi ekonomi. Bukan hanya reformasi politik. Bukan hanya reformasi kelembagaan.

Jalan keluarnya adalah rekonstruksi cara berpikir mengembalikan manusia kepada cara membaca realitas yang benar. Mengembalikan tauhid sebagai pusat makna kehidupan. Mengembalikan wahyu sebagai cahaya yang menerangi arah pembangunan.

Karena pada akhirnya, bangsa tidak runtuh karena miskin semata. Bangsa runtuh ketika kehilangan kompas yang menunjukkan ke mana ia harus berjalan.

Dan bangsa tidak akan diselamatkan hanya oleh kekuatan ekonominya tetapi oleh kejernihan cara pandangnya terhadap kebenaran. *

Cak Muhid Pesantren Elkisi Mojokerto Jawa Timur

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *