TROBOS.CO | Menjelang Idul Adha, suasana keagamaan umat Islam biasanya dipenuhi semangat ibadah dan kepedulian sosial. Pembicaraan tentang hewan qurban, harga sapi, harga kambing, hingga keutamaan qurban mengisi ruang-ruang percakapan di mana-mana.
Tapi di tengah semua semangat itu, ada satu pertanyaan yang sesungguhnya hidup diam-diam di hati sebagian masyarakat. Pertanyaan yang tidak selalu berani diucapkan dengan keras.
Pertanyaan yang Sangat Manusiawi
Kemarin, seseorang bertanya kepada saya dengan nada yang sangat jujur dan terbuka. Ia mengaku sudah membaca tulisan saya sebelumnya tentang qurban. Lalu ia bertanya:
“Pak Ulul, saya memang punya rumah dan punya mobil. Tapi terus terang, saldo rekening saya nyaris kosong. Saya hidup bergantung pada gaji bulanan yang pas-pasan. Apakah saya termasuk orang yang sangat dianjurkan berqurban, atau sebenarnya saya masih tergolong kurang mampu?”
Pertanyaan seperti ini sangat manusiawi. Dan justru karena itulah agama perlu dijelaskan dengan hati yang teduh bukan dengan tekanan sosial yang membuat orang merasa bersalah atas kondisi hidupnya sendiri.
Ukuran “Mampu” dalam Islam Tidak Selalu Seperti yang Tampak
Kita perlu memahami bahwa ukuran mampu dalam Islam tidak selalu identik dengan apa yang terlihat di permukaan. Banyak orang terlihat mapan, tapi sebenarnya sedang hidup sangat ketat secara ekonomi.
Ada yang memiliki rumah karena cicilan panjang yang belum lunas. Ada yang memiliki kendaraan semata-mata untuk kebutuhan kerja. Ada pula yang penghasilannya habis untuk biaya pendidikan anak, kebutuhan rumah tangga, dan berbagai kewajiban hidup lainnya.
Islam tidak mengajarkan ibadah yang memaksa manusia hidup dalam kepayahan yang berlebihan. Mayoritas ulama memang menjelaskan bahwa qurban adalah sunnah muakkadah sangat dianjurkan bagi yang memiliki kemampuan. Tapi kemampuan itu harus dipahami secara bijak dan proporsional.
Qurban Bukan Panggung Status Sosial
Jika seseorang harus memaksakan diri hingga membuat keluarganya kesulitan, dapurnya terganggu, atau hidupnya semakin tertekan hanya demi menjaga gengsi sosial maka ruh spiritual qurban justru bisa kehilangan maknanya.
Qurban bukanlah panggung status sosial. Qurban bukan perlombaan mempertontonkan kesalehan. Qurban adalah ibadah keikhlasan.
Hari ini, kadang ada orang yang merasa malu jika tidak berqurban karena takut dianggap kurang religius atau kurang berhasil secara ekonomi. Padahal Islam tidak pernah mengukur kemuliaan manusia dari kemampuannya mempertontonkan ibadah di hadapan orang lain. Allah Maha Mengetahui keadaan setiap hamba-Nya.
Seseorang yang hari ini benar-benar sedang sempit secara finansial tidak perlu merasa rendah diri bila belum mampu berqurban. Jangan sampai semangat ibadah justru berubah menjadi tekanan psikologis.
Kerinduan untuk Berqurban Itu Sendiri Adalah Sesuatu yang Mulia
Namun di sisi lain, keinginan untuk suatu hari bisa ikut berqurban adalah tanda hidupnya iman dan cinta kepada syariat Allah. Itu bukan hal kecil itu adalah modal spiritual yang berharga.
Mungkin hari ini belum mampu. Tapi dengan niat yang tulus, kerja keras, dan ikhtiar yang istiqomah, Allah bisa saja membuka jalan menuju kelapangan rezeki di masa depan. Bukankah dalam Islam, Allah tidak pernah membebani manusia melainkan sesuai kemampuannya?
Maka pesannya sederhana: tetaplah niatkan untuk berqurban, meskipun bukan untuk tahun ini. Dengan niat yang kuat, insya Allah tahun berikutnya Allah SWT akan memampukan kita.
Dan jika Allah sudah berkehendak, bisa jadi qurban kita tahun depan bukan seekor kambing tapi seekor sapi.
Amin. *
Ulul Albab | Akademisi Unitomo Surabaya, Ketua ICMI Jawa Timur, Ketua Litbang DPP AMPHURI









