TROBOS.CO | Ada saatnya manusia berhenti sejenak dari kesibukan dunia, lalu menundukkan kepala di hadapan Allah. Bukan karena kita tidak memiliki apa-apa, tetapi karena kita sadar bahwa sesungguhnya semua yang kita miliki berasal dari-Nya.
Di hadapan Allah, jabatan, kekayaan, kepandaian, dan kebanggaan dunia menjadi tidak berarti. Yang tersisa hanyalah seorang hamba yang membutuhkan pertolongan Tuhannya.
Sujud, Titik Terdekat Hamba dengan Allah
Nabi Muhammad SAW mengajarkan bahwa posisi seorang hamba yang paling dekat dengan Allah adalah ketika ia sedang sujud. Nabi menganjurkan agar memperbanyak doa ketika sujud. Sujud bukan sekadar gerakan dalam rangkaian salat. Ia adalah momentum ketika manusia merendahkan dirinya serendah-rendahnya, sementara hatinya justru sedang berada pada titik kedekatan yang sangat tinggi dengan Allah.
Ada pesan kejiwaan yang dalam dari sujud. Dahi yang biasanya tegak menatap dunia, tiba-tiba ditempelkan ke tanah. Bagian tubuh yang sering menjadi simbol harga diri justru diletakkan di tempat yang paling rendah. Seolah-olah manusia sedang berkata, “Ya Allah, aku bukan siapa-siapa tanpa-Mu.”
Dari kerendahan itulah lahir ketenangan.
Allah Tak Pernah Jauh, Manusialah yang Menjauh
Allah sendiri menegaskan bahwa Dia sangat dekat dengan manusia. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa Allah lebih dekat kepada manusia daripada urat lehernya. Kedekatan itu bukan persoalan jarak sebagaimana jarak antara manusia dengan manusia. Allah mengetahui setiap detak hati, setiap kegelisahan yang tersembunyi, bahkan doa yang belum sempat terucapkan oleh lisan.
Ironisnya, Allah tidak pernah jauh, tetapi manusialah yang sering menjauh. Kita menjauh bukan karena kaki membawa kita ke tempat yang jauh dari Allah. Kita menjauh melalui perilaku. Ketika petunjuk Allah diabaikan, ketika larangan-Nya diterjang, ketika hati lebih tunduk kepada keinginan daripada kepada kebenaran, sesungguhnya kita sedang membuat jarak dengan Allah.
Al-Qur’an bahkan mengingatkan manusia dengan sebuah pertanyaan yang menggugah: “Fa aina tadzhabun?” yang berarti, “Maka ke mana kamu akan pergi?” Pertanyaan ini terasa seperti mengetuk pintu kesadaran. Kita sibuk mengejar banyak hal, tetapi kadang lupa bertanya: ke mana sebenarnya perjalanan hidup ini akan berakhir?
Sesungguhnya manusia tidak mungkin melarikan diri dari kekuasaan Allah. Kita boleh berpindah tempat, meninggalkan kampung halaman, mendaki gunung, menyeberangi lautan, bahkan bersembunyi di tempat yang tidak diketahui manusia. Tetapi tidak ada satu tempat pun yang berada di luar pengetahuan dan kekuasaan Allah.
Seperti Ikan di Dalam Akuarium
Kita seperti ikan di dalam akuarium. Selama berada di dalam air, ikan mungkin tidak pernah berpikir betapa pentingnya air bagi kehidupannya. Air terasa biasa karena setiap saat mengelilinginya. Tetapi ketika ikan melompat keluar dari akuarium, barulah ia merasakan bahwa sesuatu yang selama ini dianggap biasa ternyata merupakan sumber kehidupannya.
Begitu pula manusia. Nikmat Allah sering terasa biasa ketika selalu berada di sekitar kita. Udara, kesehatan, keluarga, rezeki, kesempatan hidup, bahkan kemampuan untuk bersujud, semuanya sering kita terima tanpa banyak direnungkan. Baru ketika sebagian nikmat itu hilang, kita sadar betapa berharganya sesuatu yang selama ini ada begitu dekat.
Memperpanjang Sujud, Menemukan Martabat
Karena itu, merendah di hadapan Allah bukan berarti merendahkan diri sebagai manusia. Justru dengan merendahkan diri kepada Allah, manusia menemukan martabatnya yang sebenarnya. Mari perpanjang sujud, bukan semata-mata untuk memperlama gerakan salat, tetapi untuk memberi kesempatan kepada hati berbicara lebih jujur kepada Allah.
Sebab mungkin selama ini Allah tidak pernah jauh dari kita. Kitalah yang terlalu sibuk berjalan ke mana-mana, hingga lupa pulang kepada-Nya.
Suharyo, pemerhati masalah sepele










