Paket Istimewa dari Allah: Jihad dan Sabar Menuju Kebahagiaan Sejati

banner 2560316

TROBOS.CO | Ada sebuah paket istimewa yang telah dikirim oleh Yang Maha Istimewa. Jika sekiranya berkenan diterima, paket ini akan mengantarkan seseorang menjadi pribadi yang bahagia dunia dan akhirat, sesuatu yang menjadi idaman bagi siapa pun. Sayangnya, banyak dari mereka yang hanya bermodal harap dan doa tanpa dibarengi usaha untuk benar-benar menempuhnya.

Ada pula yang telah berusaha, namun dengan cara yang keliru, karena hanya mengandalkan perkiraan atau sekadar hasil khayalan dan angan-angan semata.

Terdapat dua hal yang terkemas dalam paket istimewa ini, dikirim oleh Yang Maha Istimewa agar jalan yang ditempuh oleh siapa pun yang berkeinginan benar-benar tepat menuju sasarannya. Mari mencoba membukanya bersama, dengan harapan dapat melaluinya dengan lancar dan selamat sampai tujuan. Isi paket tersebut adalah jihad dan sabar.

Allah berfirman dalam QS. Ali Imran ayat 142:

اَمْ حَسِبْتُمْ اَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ جَاهَدُوْا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصّٰبِرِيْنَ

Artinya: “Apakah kamu mengira akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kamu dan belum nyata pula orang-orang yang sabar.” (QS. Ali Imran: 142)

Banyak yang menyalahartikan kata jihad sebagai perang menggunakan senjata dan saling membunuh. Padahal, ditinjau dari segi bahasa, jihad berasal dari kata jahada yang bermakna bersungguh-sungguh, yaitu upaya yang sungguh-sungguh dan konsisten atau istiqamah dengan menggunakan segala kemampuan secara maksimal untuk mencapai tujuan.

Sesuatu yang dilakukan dengan inkonsisten bukan termasuk jihad, melainkan tergolong usaha yang asal-asalan. Asal ada harapan, asal didoakan, apalagi hanya mengharap belas kasihan orang lain untuk mendoakannya. Tidak jarang pula doa yang diberikan orang lain sebenarnya sudah kedaluwarsa, seperti ketika seseorang baru didoakan husnul khotimah setelah ia wafat. Doa yang demikian ibarat menaburkan pupuk pada tanaman yang sudah kering. Doa yang lebih relevan bagi mereka yang telah tiada, minimal adalah semoga dosanya diampuni dan amal baiknya diterima Allah.

Ada dua macam jihad yang wajib ditempuh. Pertama, jihad dalam melaksanakan perintah, yaitu bersungguh-sungguh menjalankan perintah dari yang sunnah hingga yang wajib sesuai kemampuan, bukan sekadar sesuai kemauan. Keduanya memiliki makna yang sangat jauh berbeda.

Kedua, jihad dalam meninggalkan larangan, yaitu bersungguh-sungguh meninggalkan larangan dari yang haram hingga yang makruh, sebagai suatu kemestian yang harus diupayakan agar terhindar dari usaha yang asal-asalan.

Jihad seseorang tergolong berhasil jika ia telah sanggup mengalahkan dirinya sendiri, antara lain dengan tidak takabbur atau menganggap remeh orang lain, tidak ujub atau bangga diri karena merasa segala sesuatu beres hanya karena kemampuannya, tidak sum’ah atau selalu ingin didengar pendapatnya tanpa mau mendengar pendapat orang lain, dan tidak riya’ atau hanya bangga memperlihatkan karya sendiri tanpa mau menghargai karya orang lain.

Sabar menurut pengertian umum adalah sikap menerima terhadap segala perlakuan yang menimpa diri, baik dengan rela maupun terpaksa. Namun ada pula pengertian yang lebih mendalam, yakni kemampuan mengendalikan diri terhadap gejolak emosi, bertoleransi terhadap penundaan keinginan, mampu tabah dan ikhlas dalam situasi yang tidak sesuai harapan, gigih dalam mencapai tujuan, siap menyelesaikan masalah yang dihadapi, serta bersyukur dan bersikap tenang terhadap segala sesuatu yang terjadi pada dirinya.

Sama halnya dengan jihad, sabar juga meliputi dua hal, yaitu sabar dalam menjalankan perintah Allah dan sabar dalam meninggalkan larangan-Nya. Seseorang dikatakan berhasil dalam kesabaran jika telah terpatri dalam qalbunya sikap sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 156:

ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوٓا۟ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ

Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, ‘Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun’ (sesungguhnya semuanya milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kembali).” (QS. Al-Baqarah: 156)

Kalimat ini disebut kalimat istirja’, berasal dari kata roja’a yang berarti kembali. Istirja’ memiliki pengertian proses mengembalikan segala sesuatu kepada asalnya.

Banyak terjadi salah kaprah tentang kapan kalimat istirja’ pantas diucapkan. Selama ini kalimat tersebut kerap terdengar hanya ketika seseorang mendapat kesusahan, misalnya ada orang yang meninggal dunia. Sementara ketika mendapat kebahagiaan, kalimat itu jarang terucap, karena kata musibah kadung dipahami hanya berkaitan dengan kesusahan atau kesedihan.

Padahal kata musibah sejatinya berkaitan dengan keduanya, baik kebaikan maupun kesedihan. Allah berfirman dalam QS. An-Nisa’ ayat 79:

مَآ اَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ ۖ وَمَآ اَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَّفْسِكَ

Artinya: “Apa saja yang menimpamu berupa kebaikan, datangnya dari Allah, dan apa saja yang menimpamu berupa kejelekan, datangnya dari dirimu sendiri.” (QS. An-Nisa’: 79)

Ditinjau dari segi bahasa, musibah berasal dari kata shaba atau ashaba yang berarti menimpa atau menimpakan. Musibatun atau mushibah adalah kata benda, yaitu sesuatu yang ditimpakan. Dengan demikian, musibah tidak melulu berkaitan dengan sesuatu yang menyedihkan, melainkan juga bisa terkait dengan kesenangan dan kebahagiaan.

Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa musibah tidak hanya berkaitan dengan sesuatu yang menyedihkan, melainkan juga dengan yang menyenangkan. Keduanya harus disikapi dengan sabar, yaitu keyakinan dalam hati bahwa semua adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya.

Bersabar dalam menghadapi sesuatu yang menyedihkan sesungguhnya lebih mudah dibandingkan menghadapi sesuatu yang menyenangkan. Ketika seseorang mendapat kesedihan atau kesusahan, ia cenderung pasrah dan menyerah begitu saja terhadap keadaan dirinya, lalu segera mengadakan usaha perbaikan diri hingga badan kembali sehat dan jiwa pun tegar kembali.

Namun perjuangan untuk bersabar dalam menghadapi kenikmatan justru jauh lebih berat. Sebab, saat mendapat kenikmatan, manusia kerap menganggap bahwa semua itu adalah miliknya sendiri, lupa bahwa sejatinya semua adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya juga.

Lantas, bagaimana sikap yang seharusnya sebagai bukti seseorang termasuk golongan sabar saat ditumpuki kenikmatan? Jawabannya adalah dengan mensyukurinya, yakni mengelola segala kenikmatan yang ada sesuai kehendak Sang Pemilik, sesuai aturan Allah. Sebab pada dasarnya semua itu bukan milik kita, sehingga tidak sepantasnya kita mengatur sesuatu yang bukan milik kita mengikuti kemauan sendiri semata.

Itulah yang dimaksud dengan ilaihi raaji’uun, kembali kepada-Nya. Dengan demikian, seseorang akan tergolong sebagai orang yang sabar, yakni orang yang selalu berkeyakinan dan bersikap innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun dalam menghadapi segala macam suasana kehidupan.

Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 157:

اُولٰۤىِٕكَ عَلَيْهِمْ صَلَوٰتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ

Artinya: “Mereka itulah orang-orang yang mendapat ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 157)

Wallahu a’lam bishawab.

Tim Trobos.co

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *