Seperti Uang Lecek, Nilai Manusia Tak Pernah Berkurang: Ini Kuncinya

banner 2560316

TROBOS.CO | Bayangkan selembar uang kertas seratus ribu rupiah, masih baru, masih kaku. Ditawarkan kepada kita tentu mau. Lalu uang itu diminta kembali, dijatuhkan ke tanah, diinjak-injak hingga kotor berdebu. Ditawarkan lagi. Masih mau?

Diambil lagi. Kali ini dicelupkan ke lumpur. Lusuh, kotor, tidak karuan. Ditawarkan sekali lagi. Jawaban kita tetap sama: mau.

Karena yang kita lihat bukan kondisi fisiknya. Yang kita lihat adalah nilainya. Rp100.000 tetap Rp100.000, dalam kondisi apa pun.

Analogi itu berlaku pada manusia. Bagaimanapun kondisi seseorang jatuh, terpuruk, penuh luka ia tetap berharga selama nilainya terjaga. Dan nilai manusia, menurut Prof. Dr. Hamka, bukan soal penampilan atau harta. Nilainya terletak pada kepribadiannya.

Kepribadian yang baik membuat seseorang selalu berharga di mata orang lain. Hamka menyebut ada lima hal yang melahirkan pribadi yang memukau.

Daya tarik pertama lahir dari kemampuan berbahasa. Orang yang pandai berbicara, lancar mengutarakan ide, dan kaya akan diksi kata memiliki daya pikat yang sulit diabaikan. Lebih istimewa lagi jika menguasai banyak bahasa.

Bung Karno adalah contoh hidup. Setiap kali berbicara, ia selalu berhasil menyihir siapa saja yang mendengarnya salah satunya karena ia menguasai banyak bahasa asing dan tahu persis bagaimana memilih kata yang tepat di momen yang tepat.

Kunci kedua adalah kecerdikan. Ini berbeda dari sekadar kepintaran atau kecerdasan. Ada hierarki dalam hal ini: pintar, cerdas, cerdik, lihai dan di ujung spektrum yang sudah menyimpang, ada culas. Orang yang cerdik mampu membaca situasi, menemukan celah, dan mengambil keputusan terbaik bahkan di kondisi yang tidak ideal.

Ketiga, kepribadian yang memukau selalu memiliki empati yang kuat. Bukan empati yang ditampilkan, melainkan yang benar-benar dirasakan. Ia bisa masuk ke dalam perasaan orang lain dan menunjukkan kepedulian yang tulus bukan karena ingin dipuji, tapi karena memang peduli.

Setiap keputusan selalu membawa risiko. Pribadi yang berkarakter tidak lari dari kenyataan itu. Ia mengambil keputusan, dan ketika konsekuensinya datang, ia menghadapinya dengan lapang dada. Keberanian menanggung risiko inilah yang memisahkan orang berkarakter dari orang yang hanya pandai bicara.

Kelima, kebijaksanaan. Berpandangan jernih, tahu diri, tidak mudah terpancing, dan percaya diri tanpa perlu merendahkan orang lain. Kebijaksanaan bukan soal usia ia soal kedewasaan cara berpikir dan keluasan hati.

Lima hal itulah yang menurut Hamka membentuk pribadi yang selalu berharga, dalam kondisi apa pun. Seperti uang seratus ribu yang tetap bernilai meski berlumpur karena yang dinilai orang bukan sampulnya, melainkan isinya.

Yuk, terus berproses menjadi yang terbaik dalam hidup.

Suharyo AP, Pemerhati Masalah-Masalah Sepele

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *