Iqra’ Bukan Sekadar Membaca Teks: Epistemologi Islam yang Mengguncang Modernitas

banner 2560316

TROBOS.CO | Epistemologi modern lahir dari pemberontakan panjang. Pemberontakan terhadap dominasi gereja di Eropa abad pertengahan, yang selama berabad-abad menjadi penentu kebenaran, pengontrol pengetahuan, bahkan pengawas cara manusia berpikir.

Dari situlah akal bangkit sebagai kekuatan pembebasan. Manusia mulai meragukan otoritas. Rasionalitas dijadikan senjata. Pertanyaan dianggap revolusi. Dan lahirlah modernitas dengan semboyan besarnya: berpikirlah sendiri.

Awalnya, ini adalah kemenangan intelektual yang luar biasa.

Dari Membebaskan Manusia, Menuju Mengasingkannya

Tapi tragedi dimulai ketika akal tidak lagi diposisikan sebagai alat mencari kebenaran  melainkan dinobatkan sebagai sumber kebenaran tertinggi.

Dari sinilah modernitas bergerak ke arah yang tidak pernah direncanakan. Dari melawan gereja menuju mendewakan akal. Dari membebaskan manusia menuju mengasingkan manusia dari makna. Dari kritik terhadap dogma menuju dogma baru yang lebih kaku: rasionalisme absolut.

Akibatnya, manusia modern berhasil menguasai dunia tapi gagal memahami dirinya sendiri.

Ia bisa menjelaskan struktur atom, tapi tidak mampu menjawab mengapa jiwanya kosong. Ia berhasil menciptakan kecerdasan buatan, tapi gagal menemukan ketenangan batin. Ia mengetahui sangat banyak hal, tapi kehilangan arah hidup.

Al-Qur’an: Kitab yang Mengguncang, Bukan Sekadar Menyatakan

Di tengah krisis itulah Al-Qur’an hadir dengan pendekatan epistemologis yang sangat berbeda.

Wahyu tidak membunuh akal. Justru wahyu mengguncang akal.

Al-Qur’an bukan sekadar kitab pernyataan  ia adalah kitab pertanyaan. Tapi bukan pertanyaan biasa. Ia adalah pertanyaan eksistensial yang menghantam kesadaran manusia langsung ke intinya.

كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ

“Bagaimana mungkin kalian kufur kepada Allah?”

Ini bukan sekadar pertanyaan teologis. Ini adalah gugatan epistemologis. Seolah Al-Qur’an berkata: dengan seluruh tanda keberadaan yang kalian lihat setiap hari, bagaimana mungkin kalian menolak sumber keberadaan itu sendiri?

Lalu datang pertanyaan yang lebih mengguncang lagi:

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا

“Apakah kalian mengira Kami menciptakan kalian secara sia-sia?”

Satu ayat ini menghancurkan nihilisme modern sekaligus.

Karena problem terbesar manusia modern bukan kekurangan teknologi. Problem terbesarnya adalah kehilangan makna keberadaan. Manusia mulai hidup tanpa jawaban atas pertanyaan-pertanyaan paling mendasar: untuk apa hidup, mengapa harus bermoral, kenapa harus berjuang, dan ke mana semuanya akan berakhir.

Padahal manusia bukan sekadar makhluk biologis. Ia adalah makhluk epistemik sekaligus eksistensial makhluk yang selalu mencari makna, dan tidak akan pernah bisa berhenti mencarinya.

Iqra’: Membaca Lebih dari Sekadar Teks

Di sinilah wahyu pertama Islam menjadi sangat revolusioner:

اقْرَأْ

“Bacalah.”

Tapi Iqra’ bukan sekadar perintah membaca teks tertulis. Ia adalah perintah membaca realitas dalam pengertian yang paling luas membaca sejarah, membaca diri sendiri, membaca alam semesta, membaca penderitaan, membaca kehidupan, dan membaca tanda-tanda Tuhan yang tersembunyi di balik semuanya.

Namun Al-Qur’an tidak membiarkan manusia membaca tanpa arah. Karena itulah ayat pertama langsung mengikat aktivitas intelektual manusia dengan dimensi transenden:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.”

Di sinilah letak perbedaan mendasar antara epistemologi modern dan epistemologi Iqra’.

Modernitas membaca dunia dengan akal yang terlepas dari langit. Sedangkan Iqra’ mengajarkan manusia membaca dunia dengan akal yang tersambung kepada Tuhan.

Karena akal tanpa wahyu dapat berubah menjadi kesombongan epistemik. Dan ketika manusia merasa dirinya pusat segala kebenaran, di situlah ia perlahan tapi pasti kehilangan arah.

Ke Mana Kalian Akan Pergi?

Maka Al-Qur’an tidak hanya memberi jawaban. Ia juga membangunkan kesadaran melalui pertanyaan-pertanyaan yang mengguncang eksistensi:

فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ

“Maka ke mana kalian akan pergi?”

Pertanyaan ini bukan sekadar kalimat. Ia adalah tamparan peradaban.

Karena sebesar apa pun kemajuan manusia, secepat apa pun teknologinya, setinggi apa pun ilmu pengetahuannya — pada akhirnya manusia tetap harus menjawab satu pertanyaan yang paling mendasar dari semua pertanyaan yang pernah ada:

Ke mana sebenarnya arah hidup ini?

Dan jawaban atas pertanyaan itu tidak akan pernah ditemukan hanya dengan akal yang berjalan sendirian. *

Cak Muhid

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *