TROBOS.CO | Coba hentikan sejenak aktivitas Anda. Tarik napas. Kedipkan mata. Rasakan udara yang masuk dan keluar dari paru-paru.
Semua itu bukan hal biasa.
Ada satu kewajiban yang melekat pada setiap makhluk bernyawa, tanpa terkecuali: bersyukur. Berterima kasih kepada Allah atas segala yang diberikan kemampuan melihat, mencium, mendengar, merasakan, bahkan mengekspresikan diri lewat senyum, tawa, tangis, dan segala getaran jiwa yang kita miliki.
Mereka yang hatinya terpelihara dan selalu ingin dekat dengan Allah akan merasakan sesuatu yang berbeda getaran jiwa yang dalam, kesadaran bahwa hidup ini tidak bisa lepas dari campur tangan-Nya.
Walau “hanya” berkedip, itu Allah yang memberi. Walau “hanya” bisa buang angin, itu pun nikmat yang nilainya tak ternilai sampai ada orang yang harus mengeluarkan biaya besar ketika kemampuan sederhana itu terganggu.
Ketika mata tidak bisa berkedip normal, kita rela menjual barang berharga demi biaya dokter. Ketika hidung bermasalah, kita butuh spesialis. Ketika sesuatu yang selama ini kita anggap remeh tiba-tiba hilang, barulah kita sadar betapa mahalnya nikmat itu sesungguhnya.
Begitulah cara Allah mengingatkan kadang lewat hal-hal yang kita sepelekan seumur hidup.
Bagi mereka yang benar-benar menghayati syukur, setiap organ tubuh bukan sekadar alat. Ia adalah titipan Allah yang harus digunakan untuk mendekat kepada-Nya.
Mata, misalnya. Ia bukan sekadar untuk melihat. Ia bisa menjadi jalan mendekat kepada Allah lewat mata yang terbiasa bangun malam untuk munajat, mata yang pernah meneteskan air mata penyesalan atas dosa dan khilaf, dan mata yang selalu sibuk berdakwah.
Nabi pernah menyampaikan bahwa ada tiga jenis mata yang tidak akan menangis di saat mata-mata lain menangis di akhirat. Tiga mata itulah yang semasa hidupnya paling sering digunakan untuk kebaikan dan ketaatan.
Demikian pula telinga. Telinga yang terbiasa mendengar kebaikan, tausiyah, dan ilmu yang bermanfaat adalah telinga yang tersucikan. Dalam doa saat menyentuhnya dengan air wudhu, kita memohon: “Ya Allah, jadikan kami sebagai orang yang senang bertaubat dan menyucikan lahir dan batin.”
Singkatnya, setiap bagian dari tubuh kita bisa menjadi wasilah untuk semakin dekat kepada Allah. Atau sebaliknya jika tidak dijaga dan disyukuri bisa menjadi jalan yang menjauhkan kita dari-Nya.
Kuncinya ada pada rasa syukur yang mendalam.
Allah sudah menjanjikan dengan jelas: mereka yang rajin bersyukur akan ditambah kenikmatan yang lebih berkualitas dan lebih dahsyat. Bukan sekadar janji kosong ini adalah hukum alam spiritual yang sudah terbukti dari zaman ke zaman.
Dan buktinya bisa kita lihat di sekitar kita. Orang-orang yang pandai berterima kasih kepada Allah hidupnya selalu tampak bahagia, jiwanya damai, perilakunya terukur, dan orang lain pun iri ingin menirunya.
Karena syukur bukan hanya tentang ucapan. Ia adalah cara hidup. *
Penulis: Suharyo, Pemerhati Masalah Sepele









