TROBOS.CO | Mereka bukan tentara, bukan pula anggota kepolisian. Tapi selama tiga hari, 80 santri Pondok Pesantren eLKISI harus hidup dalam disiplin barak bangun dini hari, mengikuti materi kepemimpinan, dan tetap tidak meninggalkan tradisi pesantren mereka. Itulah gambaran Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) yang digelar di Pusat Pendidikan Brimob Watukosek, Pasuruan, 2–4 Juli 2026.
Bukan tanpa alasan eLKISI memilih lokasi yang tidak biasa ini. Bagi mereka, menjadi pengurus pesantren ke depan bukan perkara ringan dan karakter itu harus ditempa dari sekarang.
Pengasuh Pondok Pesantren eLKISI, KH. Fathur Rohman, menjelaskan filosofi di balik pilihan tempat pelatihan ini. “Agar lebih disiplin, calon pengurus santri harus masuk barak dan mendapatkan materi khusus tentang kedisiplinan serta kepemimpinan dasar,” ujarnya.
Pusdik Brimob Watukosek dipilih bukan sekadar karena reputasinya. Kedekatan lokasi dengan pondok juga menjadi pertimbangan praktis. “Kami memilih Pusdik Brimob sebagai wahana pelatihan karena memiliki standar pelatihan yang bagus, di samping jaraknya yang relatif dekat dengan pondok,” tambah KH. Fathur Rohman.
Upacara pembukaan LDK dipimpin oleh AKP Heri Sudrajat, S.E., selaku Ps. Kasubbag Lakjarlat Bagdiklat Pusdik Brimob Watukosek. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya menanamkan disiplin dan jiwa kepemimpinan sejak usia muda sebagai bekal nyata menghadapi tantangan masa depan.
Selama pelatihan berlangsung, para santri tidak serta-merta menanggalkan identitas mereka. Pendamping dari eLKISI, Ustaz Royhan dan Ustazah Mita, memastikan seluruh peserta tetap menjalankan program yaumiyah salat malam, murajaah hafalan Al-Quran, serta ibadah harian lainnya tetap berjalan di sela-sela sesi pelatihan.
Di sinilah letak keunikan LDK eLKISI: bukan memilih antara disiplin militer atau nilai pesantren, melainkan memadukan keduanya. Ketangguhan fisik dan mental dibangun di barak, sementara ruh kepesantrenan dijaga oleh para pendamping setiap saat.
Melalui kegiatan ini, eLKISI berharap lahir pemimpin-pemimpin muda yang tidak hanya keras dan sigap, tetapi juga bertanggung jawab dan berakhlak mulia sosok yang kelak mampu mengemban amanah sebagai pengurus pesantren dengan sepenuh hati.
Hawari









