TROBOS.CO | Prestasi akademik tidak lahir dalam sehari. Ia tumbuh dari tradisi belajar, pembinaan yang konsisten, dan keberanian menguji kemampuan di ruang yang lebih luas. Hal itu tercermin dari capaian 15 santriwati Pondok Pesantren Internasional Al-Azhar (PPIC) eLKISI Mojokerto yang berhasil mengantarkan lembaganya meraih Juara Umum Olimpiade Nahwu Al-Jurumiyyah Tingkat ASEAN 2026.
Kompetisi yang diselenggarakan Departemen Pendidikan dan Kebahasaan ITHLA DPW 4 ini diikuti sekitar 250 peserta dan dilaksanakan secara daring. Para peserta diuji lewat 50 soal pilihan ganda dengan materi Matan Al-Jurumiyyah, kitab dasar ilmu nahwu yang menjadi rujukan klasik di dunia pesantren.
Delegasi eLKISI terdiri atas santriwati dari Pesantren Azhari dan Pesantren Kader Ulama. Mereka adalah Anisa Jilan, Faizah Al Humaira, Khansa Alhuwaida, Naura Hafidza, Zhafarina Ghaisani, dan Yaqut Washifah dari kelas 12. Sementara dari kelas 11 ada Janeeta Azzhara Yusuf, Ma’rifah Maulidina Zuhri, Maureen Ghisa Aisyah, Naura Aqillah Shafiyyunnisa, Rayya Alfita Adisurya, Aisyah Nadiyah Azzahra, Alifia Naaila Fauziyah, Nadia Ayu Rohadatul Aisy, dan Nasywa Nadhifa Armee Za Fiqih At Talita.
Piala Juara Umum diserahkan pada Ahad, 30 Agustus 2026, di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya. Ustadzah Alfin Nadhiroh, S.Hum., M.Pd., salah seorang pembina peserta PPIC eLKISI, menerima langsung piala tersebut.
Kepala Pesantren Kader Ulama PPIC eLKISI, Ust. Muhammad Hidayatulloh, mengatakan capaian ini tidak semestinya berhenti pada kebanggaan atas sebuah piala semata.
“Lomba adalah ruang untuk menguji proses. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana santri memiliki tradisi membaca, memahami, berlatih, lalu berani mengukur kemampuan mereka di tingkat yang lebih luas,” ujarnya.
Menurutnya, penguasaan nahwu memiliki posisi strategis dalam pendidikan pesantren karena menjadi salah satu instrumen untuk memasuki khazanah literatur Islam berbahasa Arab.
Pandangan senada disampaikan Ust. Shohib Muttaqin, Lc., M.Pd.I., Kepala Pesantren Azhari PPIC eLKISI. Menurutnya, prestasi ini menunjukkan bahwa penguatan bahasa Arab bisa berjalan beriringan dengan orientasi akademik santri. “Bahasa Arab bukan hanya mata pelajaran, tetapi instrumen akademik untuk membuka akses terhadap sumber-sumber keilmuan Islam,” katanya.
Capaian di Olimpiade Nahwu ASEAN ini menjadi bagian dari ikhtiar akademik yang lebih luas di PPIC eLKISI. Pesantren Azhari merupakan kelas perwakilan resmi Al-Azhar Cairo yang diarahkan mempersiapkan santri melanjutkan pendidikan ke Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir. Sementara Pesantren Kader Ulama dikembangkan sebagai kelas khusus dan intensif dengan penekanan pada kajian kitab-kitab turats.
Ikhtiar tersebut mulai terlihat hasilnya. Tahun ini, seluruh santri kelas Azhari yang mengikuti jalur tersebut berhasil melanjutkan ke Universitas Al-Azhar Kairo. Bersamaan dengan itu, melalui Markaz Lughoh eLKISI, total 127 santri tengah dipersiapkan berangkat ke Al-Azhar Kairo melalui dua jalur itu.
Direktur PPIC eLKISI, KH. Dr. Fatkhur Rohman, M.Pd.I., telah mencanangkan penguatan jalur akademik sebagai bagian penting dari pengembangan pendidikan pesantren. Orientasi itu tidak hanya diarahkan ke Mesir. PPIC eLKISI juga tengah mengupayakan muadalah dengan Universitas Islam Madinah (UIM), sekaligus membuka peluang kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi di Arab Saudi.
Di sisi lain, bagi wali santri yang menghendaki putra-putrinya melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri dalam negeri, PPIC eLKISI juga menyiapkan strategi akademik melalui kolaborasi dengan Math Master Ki Ipud. Jejak alumni eLKISI sendiri sudah tersebar di berbagai kampus dalam dan luar negeri, mulai dari ITS, Unair, Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Malang, Unesa, UINSA, UGM, hingga sejumlah perguruan tinggi di Mesir, Libya, Maroko, Malaysia, dan China.
Dengan demikian, Juara Umum Olimpiade Nahwu ASEAN 2026 bukan capaian yang berdiri sendiri. Ia menjadi salah satu potret dari ikhtiar akademik PPIC eLKISI dalam membangun ekosistem pendidikan yang memungkinkan santri memilih jalan keilmuan dan perguruan tinggi sesuai potensi serta orientasi masa depannya.
Sebab pendidikan pesantren tidak cukup hanya melahirkan santri yang pandai membaca kitab. Ia juga dituntut mampu menyiapkan generasi yang sanggup membaca zaman.
Tim Trobos.co










