TROBOS.CO | Ada pesan kehidupan yang menarik jika kita mau membaca gerakan salat. Dari takbiratul ihram hingga salam, seakan-akan salat sedang menggambarkan lintasan hidup manusia.
Dari berdiri tegak, kemudian rukuk, sujud, hingga akhirnya menebar salam.
Berdiri Tegak dan Makna Allahu Akbar di Masa Muda
Pada awal kehidupan, manusia berdiri tegak. Masa muda adalah masa penuh tenaga. Tubuh masih kuat, langkah masih panjang, cita-cita menjulang tinggi. Seperti orang yang berdiri dalam salat, ia tampak gagah dan kokoh menghadapi dunia.
Ketika berdiri, kita mengucapkan Allahu Akbar. Allah Mahabesar. Kalimat pendek, tetapi memiliki pesan yang sangat dalam. Jika Allah kita Akbarkan, maka tidak semestinya ada ketakutan yang berlebihan kepada selain-Nya.
Orang yang benar-benar mengakbarkan Allah akan menemukan kemerdekaan dalam dirinya. Ia tidak mudah diperbudak oleh ketakutan akan kemiskinan, kegagalan, kehilangan jabatan, atau penilaian manusia. Sebab ia yakin, ada Allah Yang Mahabesar di atas segala sesuatu.
Rukuk, Pelajaran Kerendahan Hati Saat Tubuh Mulai Menua
Tetapi masa muda tidak selamanya bertahan. Tubuh yang dahulu tegak perlahan mulai membungkuk. Tenaga berkurang, rambut berubah warna, langkah tidak lagi secepat dahulu. Kehidupan memasuki fase rukuk.
Rukuk mengajarkan kerendahan hati. Ketika masih muda, seseorang mungkin merasa mampu melakukan banyak hal. Namun waktu perlahan mengajarkan bahwa manusia bukan makhluk yang selalu kuat. Ada saatnya tenaga berkurang dan tubuh harus tunduk.
Dalam rukuk kita tetap mengagungkan Allah. Subhana Rabbiyal ‘Adzim, Mahasuci Tuhanku Yang Mahaagung. Ketika manusia mulai menua, justru seharusnya kesadarannya kepada kebesaran Allah semakin dalam. Ia semakin tahu bahwa hidup bukan semata-mata tentang kekuatan dirinya.
Sujud, Posisi Terendah yang Paling Dekat dengan Allah
Setelah rukuk, manusia menuju sujud. Inilah posisi yang paling rendah secara fisik, tetapi justru menjadi salah satu posisi paling dekat seorang hamba dengan Tuhannya. Wajah yang selama hidup mungkin dijaga kehormatannya, akhirnya ditempelkan ke tanah.
Sujud seperti mengingatkan manusia bahwa setinggi apa pun kedudukannya, pada akhirnya akan kembali kepada tanah. Jabatan, kekayaan, popularitas, dan segala kebanggaan dunia tidak ikut menempel ketika manusia menghadap Allah.
Dalam sujud kita membaca Subhana Rabbiyal A’la, Mahasuci Tuhanku Yang Mahatinggi. Ada paradoks yang indah di sana. Ketika manusia merendahkan dirinya serendah-rendahnya di hadapan Allah, justru hatinya sedang diarahkan kepada Zat Yang Mahatinggi.
Salam, Pesan Damai, Rahmah, dan Keberkahan bagi Sesama
Kemudian tibalah bagian akhir salat: salam. Kita menoleh ke kanan dan ke kiri sambil mengucapkan Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Seolah-olah setelah perjalanan panjang menghadap Allah, manusia tidak boleh berhenti pada kesalehan pribadi.
Salam membawa pesan damai. Kehidupan seharusnya diisi dengan menciptakan suasana yang aman, saling menolong, saling mendukung, dan saling mendoakan. Kesalehan tidak cukup hanya terasa di atas sajadah, tetapi harus terasa pula oleh orang-orang di sekitar kita.
Ada pula rahmah, kasih sayang. Kata ini mengingatkan bahwa manusia tidak hidup sendirian. Ada keluarga, tetangga, sahabat, orang miskin, anak yatim, orang tua, dan banyak manusia lain yang membutuhkan uluran hati kita.
Dan akhirnya ada keberkahan. Hidup yang berkah bukan sekadar hidup yang panjang atau memiliki banyak harta. Keberkahan adalah ketika kehidupan terus melahirkan kebaikan, manfaat, ketenteraman, dan amal yang jejaknya dirasakan oleh orang lain.
Maka salat sesungguhnya bukan sekadar rangkaian gerakan yang berulang lima kali sehari. Ia seperti peta kecil perjalanan manusia: berdiri ketika muda, rukuk ketika mulai merendah, sujud ketika menyadari kehambaan, lalu mengakhiri perjalanan dengan salam.
Dari sana kita belajar bahwa hidup harus dimulai dengan mengagungkan Allah, dijalani dengan kerendahan hati, dan ditutup dengan membawa damai, kasih sayang, serta keberkahan bagi sesama.
Suharyo AP, pemerhati masalah sepele










