TROBOS.CO | Berakhirnya pemerintahan Orde Baru pada 1998 hingga hari ini masih menjadi perdebatan panjang yang belum menemukan titik akhir. Banyak kalangan meyakini bahwa runtuhnya pemerintahan tersebut bukan semata-mata disebabkan faktor internal tetapi juga karena adanya tekanan dan kepentingan asing yang merasa terganggu dengan kemajuan Indonesia saat itu.
Pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, Indonesia mengalami pembangunan besar di berbagai sektor. Infrastruktur berkembang. Stabilitas nasional terjaga. Pertumbuhan ekonomi mulai diperhitungkan di tingkat dunia.
Salah satu capaian yang paling sering dikenang adalah keberhasilan Indonesia meraih swasembada pangan pada 1984. Indonesia mendapat pengakuan internasional karena berhasil memenuhi kebutuhan beras nasional secara mandiri sebuah pencapaian yang tidak mudah untuk negara berpenduduk ratusan juta jiwa.
Tidak berhenti di situ. Menjelang usia 50 tahun kemerdekaan, Indonesia sudah mampu memproduksi pesawat terbang sendiri melalui Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN). Kehadiran IPTN menjadi simbol bahwa Indonesia memiliki sumber daya manusia yang mampu bersaing di panggung teknologi dunia.
Pesawat N-250 menjadi kebanggaan bangsa. Ia bukan sekadar kendaraan udara — ia adalah bukti nyata bahwa Indonesia mampu memasuki industri teknologi tinggi dan tidak hanya menjadi pasar bagi produk negara lain.
N-250 adalah simbol kemandirian. Simbol bahwa Indonesia bisa berdiri di atas kakinya sendiri di era yang semakin kompetitif.
Tapi simbol itu tidak sempat terbang lebih jauh.
Situasi berubah drastis ketika krisis moneter Asia 1997 menghantam. Nilai rupiah jatuh. Harga kebutuhan pokok melonjak. Perusahaan-perusahaan bangkrut. Kondisi sosial dan politik memanas dengan cepat.
Dalam situasi gawat itu, Indonesia kemudian bekerja sama dengan IMF dan inilah yang hingga kini terus menjadi bahan perdebatan.
Sebagian kalangan menilai bahwa kebijakan yang diterapkan IMF saat itu justru membuat kondisi ekonomi nasional semakin berat, bukan semakin ringan. Dari situlah muncul pandangan yang terus hidup: bahwa ada kekuatan global yang tidak nyaman melihat Indonesia tumbuh menjadi negara yang kuat dan mandiri.
Apakah itu sekadar spekulasi? Atau ada benang yang perlu diurai lebih jauh? Sejarah memang tidak selalu hitam putih.
Hari ini, Indonesia kembali menghadapi tantangan global yang tidak ringan. Tekanan ekonomi dunia, persaingan geopolitik, dan berbagai upaya menjaga kemandirian nasional kembali menjadi isu yang tidak bisa diabaikan.
Karena itulah bangsa ini harus belajar dari sejarah agar tidak mudah terpecah oleh konflik internal maupun terbawa arus kepentingan dari luar.
Indonesia hanya akan menjadi negara besar apabila mampu berdiri kuat, mandiri, dan percaya pada kemampuan bangsanya sendiri.
Sejarah 1998 bukan sekadar catatan masa lalu. Ia adalah cermin yang perlu terus kita tatap dengan jujur. *
Muhammad Khoirul Anam, S.H.









