TROBOS.CO | Konon, kubur menyeru anak Adam setiap hari. Dan seruan itu berbunyi:
يَا ابْنَ آدَمَ، تَفْرَحُ الْيَوْمَ عَلَى ظَهْرِي، وَغَدًا قَدْ تُحْزَنُ فِي بَطْنِي.
“Wahai anak Adam, hari ini engkau bergembira di atas punggungku, dan esok engkau akan bersedih di dalam perutku.”
تَعِيشُ فَوْقِي، وَتَنْسَى أَنَّ النِّهَايَةَ عِنْدِي.
“Engkau hidup di atasku, tetapi engkau lupa bahwa akhir perjalananmu ada padaku.”
لَكِنْ تَذَكَّرْ: الْمَوْتُ كَأْسٌ وَكُلُّ النَّاسِ شَارِبُهُ، وَالْقَبْرُ بَابٌ وَكُلُّ النَّاسِ دَاخِلُهُ.
“Tetapi ingatlah, kematian adalah cawan dan setiap manusia pasti akan meminumnya. Kubur adalah pintu dan setiap manusia pasti akan memasukinya.”
Salah Membaca Makna Kegagalan
Dalam epistemologi Qurani, manusia sering salah membaca makna kegagalan.
Dunia membuat manusia takut miskin. Takut jatuh. Takut tidak diakui. Takut kehilangan jabatan. Takut gagal meraih impian. Dan ketakutan-ketakutan itu terasa begitu nyata, begitu menghimpit, begitu menentukan segalanya.
Padahal semua kegagalan dunia sebesar apa pun pada akhirnya hanya sementara.
Yang jauh lebih mengerikan adalah gagal ketika menghadap Allah.
Banyak manusia menang di dunia tapi kalah di akhirat. Namanya dikenal luas, tapi dilupakan langit. Tepuk tangan dunia mengiringinya, tapi amalnya kosong di hadapan Allah.
Yang Tampak Gagal, Mungkin Justru Beruntung
Sebaliknya, ada manusia yang tampak gagal di mata dunia. Hidupnya sederhana. Tidak terkenal. Sering diremehkan. Bahkan terluka berkali-kali oleh kehidupan.
Namun ia pulang membawa hati yang bersih dan diterima oleh Allah.
Karena ukuran sukses dalam pandangan wahyu tidak berhenti pada dunia yang fana. Ia berakhir pada keselamatan akhir perjalanan manusia.
وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى
“Dan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.”
Jangan Terlalu Hancur, tapi Jangan Lengah
Maka jangan terlalu hancur hanya karena gagal di dunia. Selama iman masih ada, selama hati masih mau sujud, selama pintu taubat belum tertutup harapan belum selesai.
Tapi berhati-hatilah.
Jangan sampai terlalu sibuk mengejar keberhasilan dunia hingga lupa mempersiapkan akhirat. Sebab dunia sering membuat manusia tertipu merasa sukses hanya karena hartanya bertambah, padahal ruhnya semakin jauh dari Allah.
Dalam perspektif epistemologi Qurani, kegagalan terbesar bukan ketika manusia kehilangan dunia. Kegagalan terbesar adalah ketika ia kehilangan hidayah, kehilangan keikhlasan, kehilangan rasa takut kepada Allah lalu masuk ke liang kubur tanpa membawa cahaya.
Hidup Ini Serba Tiba-tiba
Karena hidup ini serba tiba-tiba.
Tiba-tiba kesempatan habis. Tiba-tiba umur selesai. Tiba-tiba nama dipanggil pulang.
Dan saat itu tiba, seluruh keberhasilan dunia tidak lagi berarti apa-apa jika manusia gagal menyelamatkan dirinya di akhirat.
Maka dengan alasan apa pun jangan membenci orang lain. Jangan merasa lebih baik dari orang lain. Jangan sombong dengan ilmu atau ibadah. Dan jangan putus asa hanya karena dunia tidak berjalan sesuai keinginan.
Karena kita semua hanyalah musafir yang sedang berjalan menuju kubur.
Dan mungkin orang yang hari ini tampak paling “gagal” di mata dunia, justru menjadi orang yang paling beruntung ketika berdiri di hadapan Allah. *
Tim Trobos.co









