TROBOS.CO | Ada kata yang sering kita dengar, yaitu kata “baik”. Semua orang ingin menjadi baik: ekonomi baik, keluarga baik, kesehatan baik, dan sebagainya.
Karena semua orang ingin menjadi baik, maka terjadilah kompetisi. Saat kompetisi berlangsung, terjadilah pertentangan.
Di antaranya, orang berbuat baik terkadang dinilai tidak baik oleh orang lain.
Teruslah berbuat baik, tidak perlu bergeming dengan penilaian orang. Dalam berbuat baik, ukurannya hati. Kalau menurut hati baik, lanjutkan.
Nabi SAW menegaskan, dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Apabila baik, baiklah semuanya. Apabila buruk, buruklah semuanya. Dia adalah hati. Maka berbuatlah dengan ukuran hati kita masing-masing.
Yang jelas, Allah cinta pada hamba-Nya yang suka berbuat baik. Firman Allah: “Wallahu yuhibbul muhsinin.” (Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik).
Berbuat baik itu meliputi pikiran, ucapan, pandangan, tindak-tanduk, dan sebagainya.
Berbuat baik dalam pikiran: selalu positif thinking, husnudzon, alias baik sangka.
Perkataannya juga demikian. Nabi berpesan, orang beriman harus bicara baik, kalau tidak bisa, diamlah.
Dunia menjadi hiruk pikuk, campur aduk, antara baik dengan buruk, karena ucapan seseorang. Orang yang bicaranya tidak terkontrol, membiarkan bicara buruk, terkadang memburukkan orang lain.
Yang harus kita lakukan adalah perbuatan baik, yaitu perbuatan yang benar-benar diridhoi Allah.
Kalau kita ingin mendapatkan penilaian orang lain, kita capek. Karena sudut pandangnya berbeda. Kita berbuat baik terkadang dinilai buruk oleh orang lain, walau tidak kenal.
Kita sering mendengar kisah Lukmanul Hakim. Ia mengingatkan anaknya untuk berbuat tanpa harus mendengar penilaian orang.
Ia coba naik keledai. Dicoba ayahnya yang naik, anaknya menuntun.
Komentar datang: “Ayah tidak punya rasa belas kasihan. Masak ayahnya naik, anaknya suruh nuntun?”
“Bagaimana, betul kan pasti dinilai negatif,” kata Lukmanul Hakim.
“Begini saja, kamu yang naik, saya yang menuntun.”
Orang pun berkomentar: “Anak tidak tahu sopan santun. Masak dia yang naik, ayahnya suruh nuntun?”
“Betul kan,” kata ayahnya, “pasti ada komentar negatif.”
“Bagaimana kalau kita naik bareng?”
Orang pun berkomentar: “Manusia tidak punya perikebinatangan, masak keledai sekecil itu dinaiki dua orang?”
“Coba sekarang ganti kita tuntun bareng.”
Komentar pun muncul: “Orang itu tidak berpikir, wong ada kendaraan kok tidak dinaiki?”
“Bagaimana kalau kita pikul bareng?”
Komentar pedas pun muncul: “Mungkin orang itu sudah gila, masak ada binatang dipikul?”
Jadi, apapun yang dilakukan, orang pun pasti berkomentar. Baik atau buruk, selalu dinilai sesuai dengan sudut pandang orang yang menilai.
Maka, kebaikan yang harus kita lakukan, ukurannya bukan penilaian orang, tetapi ridho Allah.
Kalau hati berkata bahwa yang kita lakukan Allah ridho, lakukan tanpa harus peduli penilaian orang.
Terinspirasi khutbah Jumat oleh Ustadz Sahnawi di Masjid Panglima Sudirman, Lumajang.
(Suharyo, pemerhati masalah sepele.)









