Jualan Ketan, Berbagi Bahagia: Herlina Rutin Berinfaq ke Baznas Lumajang

banner 2560316

TROBOS.CO | Pagi itu, suasana Kantor Baznas Kabupaten Lumajang tampak seperti biasa. Namun, kedatangan sepasang suami istri membawa cerita sederhana yang sarat makna. Pak Anang Rouf bersama istrinya, Ny. Herlina, datang mengantarkan uang infaq yang dikumpulkan dari hasil berjualan ketan.

Tidak tanggung-tanggung, uang yang diserahkan kepada Baznas Kabupaten Lumajang mencapai Rp525 ribu. Bagi keluarga sederhana tersebut, nominal itu bukan sekadar angka. Di dalamnya ada keringat, ketekunan, sekaligus keyakinan bahwa sebagian rezeki yang diperoleh terdapat hak orang lain.

banner 300250

“Saya bahagia bisa mengantarkan infaq ke Baznas,” ujar Ny. Herlina usai menyerahkan infaqnya pagi itu.

Bagi ibu empat anak ini, berinfaq bukan kegiatan yang dilakukan sesekali. Ia telah menjadikannya sebagai kebiasaan dalam mengelola hasil usahanya sehari-hari. Kebiasaan tersebut dimulai sejak Juli 2025, ketika ia mulai menyisihkan Rp70 ribu untuk diinfaqkan.

Kebiasaan itu kemudian terus berlanjut hingga 2026. Pada Januari dan Februari, masing-masing ia berinfaq Rp340 ribu. Kemudian pada April sebesar Rp570 ribu, Juni Rp535 ribu, dan Juli kembali Rp525 ribu. Jumlahnya memang berbeda setiap bulan, mengikuti hasil dagangan, tetapi semangat berbagi yang dijaganya tetap sama.

Menariknya, Herlina mengaku merasakan perubahan positif setelah rutin berinfaq. Usaha jualan ketan yang dijalaninya terasa semakin berkembang dari waktu ke waktu. Ia tidak menjadikan infaq sebagai beban, melainkan bagian dari cara bersyukur atas rezeki yang diterimanya.

Setiap malam, uang hasil berjualan dikumpulkan lalu dipisahkan sesuai kebutuhan. Sebagian disiapkan untuk biaya sekolah anak, sebagian untuk kebutuhan belanja keluarga, sementara sebagian lainnya secara khusus disisihkan untuk dana infaq.

“Dengan demikian, penghasilan yang dimakan untuk keluarga sudah bersih karena sudah dikeluarkan infaqnya,” jelas Herlina.

Usaha berjualan ketan tersebut dilakukan dua kali dalam sehari. Pada pagi hari, Herlina mulai berjualan sekitar pukul 05.00 hingga pukul 09.00 WIB. Kemudian pada sore hari, ia kembali berjualan mulai sekitar pukul 17.00 hingga dagangannya habis terjual, barulah ia menutup lapaknya.

Dari usaha yang tampak sederhana itulah, Herlina belajar bahwa keberkahan rezeki tidak semata-mata diukur dari besarnya pendapatan. Ada bagian lain yang justru membuat hati tenteram, yakni ketika sebagian rezeki dapat disisihkan untuk membantu sesama yang membutuhkan.

Ketua Baznas Kabupaten Lumajang, Drs. H. Nur Sjahid, mengatakan pihaknya berupaya membantu pelaku usaha kecil agar kegiatan ekonominya semakin berkembang. Salah satu bentuk dukungan yang diberikan adalah bantuan gerobak kepada Herlina, agar ia lebih mudah melayani para pembeli.

“Tujuannya agar bisnisnya lebih maju,” ujar Nur Sjahid singkat.

Kisah Herlina menjadi gambaran bahwa kebiasaan berinfaq dapat tumbuh dari usaha kecil sekalipun, asal dilakukan secara konsisten. Dari sebungkus ketan yang dijual sejak pagi hingga sore, lahir semangat berbagi yang terus dirawat dari bulan ke bulan. Rezeki dicari dengan bekerja, kemudian disyukuri dengan berbagi.

Di situlah sebuah usaha sederhana menemukan makna yang lebih luas, bukan hanya untuk menghidupi keluarga, tetapi juga menghadirkan manfaat bagi orang lain di sekitarnya.

Tim Trobos.co

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *