TROBOS.CO | Ada satu bagian dari perjalanan BikersMu yang selama ini mungkin jarang terlihat. Di balik rombongan yang melaju di jalan raya, selalu ada orang-orang yang ikut sibuk sejak sebelum keberangkatan. Mereka menyiapkan pakaian, perlengkapan, dan bekal, sampai memastikan berbagai kebutuhan selama perjalanan tidak ada yang tertinggal. Mereka adalah para pendamping.
Dalam setiap agenda BikersMu, terutama saat Kopdargab, peran pendamping sebenarnya cukup dominan. Mereka ikut repot, ikut mempersiapkan banyak hal, tetapi sering kali tidak benar-benar ikut menikmati perjalanan. “Ikut ribetnya, dapat cerita serunya, tapi nggak ikut menikmatinya,” begitu guyonan yang sering terdengar dari para pendamping.
Dari rutinitas itulah muncul pemikiran sederhana: kalau selama ini pendamping sudah ikut repot, mengapa tidak sekalian diajak ikut perjalanan? Bukan sekadar membonceng, tetapi benar-benar menjadi bagian dari perjalanan.
Dari Pendamping Menjadi Bagian Penting Perjalanan
Gagasan itu kemudian dicoba dalam skala kecil, dan hasilnya justru di luar perkiraan. Ketika pendamping diajak mengikuti touring sekaligus berdakwah lewat kegiatan bakti sosial, perannya menjadi jauh lebih banyak. Dalam beberapa situasi, keberadaan mereka bahkan membuat perjalanan lebih tertata.
Ada yang menjadi navigator, memantau posisi rombongan lewat peta, memberi informasi soal rute, hingga membantu memberi isyarat ketika lalu lintas membutuhkan perhatian. Ada yang mengambil peran fotografer, mengabadikan momen yang sering terlewat oleh mereka yang sedang berkonsentrasi mengendarai motor. Ada pula yang menjadi bendahara, mengatur pembiayaan sekaligus memastikan kebutuhan selama kegiatan terpenuhi. Dan soal logistik, mulai dari bekal, konsumsi, hingga perlengkapan kecil yang ternyata sangat berarti di tengah jalan, pendamping kembali jadi andalan.
Pelan-pelan muncul kesadaran bahwa touring bukan hanya urusan orang yang memegang setang motor. Ada banyak peran di baliknya, dan semuanya bisa menjadi bagian dari sebuah perjalanan dakwah.
Tulungagung Menjadi Awal Cerita
Uji coba konsep ini dilakukan dalam kegiatan regional BikersMu, Kopdargab BikersMu Korwil Jawa Timur VI di Tulungagung. Lima pasangan dari BikersMu Chapter Lumajang ikut membawa pendamping, dan hasilnya cukup menggembirakan.
Bukan hanya perjalanan menjadi lebih menyenangkan, para pendamping juga merasakan sendiri bagaimana kegiatan BikersMu berlangsung dari dekat. Mereka tidak lagi menunggu kepulangan pasangan dengan cerita yang kadang hanya terdengar sepenggal-sepenggal. Mereka ikut merasakan jalan, suasana kebersamaan, aktivitas sosial, sampai keseruan perjalanan.
Ada satu kejutan lain yang tidak terlalu direncanakan. Biasanya, tempat bermalam selama kegiatan BikersMu cukup sederhana, di lokasi acara, masjid, atau gedung pertemuan. Kali ini, peserta yang membawa pendamping bisa beristirahat lebih nyaman di hotel atau penginapan sekitar lokasi, dengan biaya yang tetap bisa disiasati agar terjangkau.
Pengalaman itu menjadi pemantik. “Pendamping ketagihan, pengin ngajak touring lagi setelah ikut Kopdargab di Tulungagung,” ujar Widodo, anggota BikersMu Chapter Lumajang yang mengajak pendampingnya ke Tulungagung. Dari sanalah ide perjalanan yang lebih jauh muncul, dan Yogyakarta menjadi tujuan. Bukan sekadar karena ingin jalan-jalan, sebab ada cerita jauh lebih panjang di kota itu.
Dari Kauman, Jejak Sebuah Gerakan
Yogyakarta bukan kota yang asing bagi Muhammadiyah. Di kawasan Kauman, di tengah denyut kehidupan masyarakat, pada awal abad ke-20 muncul gagasan pembaruan yang kemudian berkembang menjadi gerakan besar bernama Muhammadiyah.
Di tempat inilah KH Ahmad Dahlan menanamkan gagasan bahwa dakwah tidak cukup disampaikan lewat kata-kata. Dakwah harus hadir dalam kehidupan masyarakat, lewat pendidikan, pelayanan sosial, kepedulian terhadap kaum dhuafa, pemberdayaan, dan berbagai amal nyata. Dari lingkungan kecil itu, semangat tersebut bergerak melintasi batas kota dan zaman.
Karena itu, bagi BikersMu, Yogyakarta bukan sekadar destinasi. Ada jejak sejarah yang ingin kembali dilihat, dirasakan, dan direnungkan. Jika dahulu dakwah dilakukan dengan berjalan kaki, mendirikan sekolah, mengajar, dan membangun amal sosial, hari ini dakwah juga bisa hadir di atas sepeda motor. BikersMu menyebutnya dengan sederhana: “Melaju Bersama Dakwah.”
Dari Jejak Pergerakan hingga Lahirnya BikersMu
Yogyakarta juga memiliki kaitan penting dengan perjalanan lahirnya BikersMu. Di kota inilah gagasan tentang komunitas bikers Muhammadiyah mulai menemukan bentuknya, mempertemukan semangat berkendara dengan semangat berorganisasi dan berdakwah.
BikersMu kemudian berkembang menjadi ruang silaturahmi bagi para bikers Muhammadiyah. Motor boleh berbeda, latar belakang dan profesi boleh berbeda, tetapi mereka dipertemukan oleh satu semangat: menjadikan perjalanan bukan hanya soal tujuan, melainkan juga manfaat yang dibawa sepanjang jalan.
Karena itu, perjalanan kali ini terasa memiliki makna tersendiri. Seolah ada lingkaran yang sedang ditutup. Dari Kauman, tempat Muhammadiyah menanamkan semangat dakwah dan amal nyata, lahir berbagai bentuk gerakan yang terus menyesuaikan diri dengan zaman. Hingga akhirnya, di jalan raya, para bikers mencoba menerjemahkan semangat itu dengan cara mereka sendiri: naik motor, menyapa masyarakat, berbagi, membantu, bersilaturahmi, dan menikmati perjalanan bersama.
Empat Pasangan, Satu Perjalanan
Berbekal pengalaman di Tulungagung, empat pasangan BikersMu Chapter Lumajang yang tergabung dalam BikersMu Couple memantapkan rencana ke Yogyakarta. Mereka dijadwalkan berangkat pada 2 hingga 6 Oktober 2026 dengan tagline yang sederhana tetapi sarat makna: “Ride & Reflection to Jogjakarta.”
Bukan sekadar ride, berkendara, tetapi juga reflection, merenungkan kembali perjalanan, nilai-nilai dakwah, dan bagaimana semangat Muhammadiyah tetap relevan ketika dibawa ke ruang kehidupan yang berbeda.
Pimpinan rombongan, Widodo, menjelaskan kepada TROBOS.CO bahwa pemilihan awal Oktober bukan tanpa pertimbangan. Selain diharapkan belum memasuki musim hujan, periode tersebut bertepatan dengan sejumlah agenda budaya dan olahraga di Yogyakarta.
“Sebagaimana motto BikersMu, kita akan mencoba menelusuri beberapa tempat yang menjadi jejak sejarah perjuangan gerakan Persyarikatan Muhammadiyah, seperti Kauman dan Kotagede di Jogjakarta,” ujar Widodo.
Namun perjalanan ini tidak sepenuhnya menjadi wisata sejarah. “Namun demikian, tidak bisa dipungkiri, kita juga ingin menikmati budaya dan tempat-tempat di seputaran Jogjakarta,” lanjutnya.
Mungkin justru di situlah daya tariknya. Ada sejarah yang ingin dikenang, dakwah yang ingin dijalankan, pasangan yang ingin menikmati perjalanan bersama, dan persahabatan yang ingin dirawat. Motor akan melaju, dan para pendamping tidak lagi menunggu di rumah. Mereka duduk di belakang, ikut membaca jalan, ikut tertawa, ikut lelah, ikut mengambil gambar, dan tentu saja ikut menikmati cerita.
Sebab pada akhirnya, perjalanan bukan hanya soal seberapa jauh kita pergi, melainkan siapa yang kita ajak berjalan, apa yang kita temukan di sepanjang jalan, dan manfaat apa yang bisa ditinggalkan setelah perjalanan selesai.
Dari Lumajang menuju Yogyakarta. Dari jalan raya menuju jejak sejarah. Dari Kauman menuju semangat dakwah di atas roda. BikersMu Couple siap melaju.
Tim Trobos.co










