TROBOS.CO | Sabtu (15/8/2026) siang, sekitar pukul 14.00 WIB, suasana Kantor Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Kabupaten Lumajang tampak berbeda dari biasanya. Ruangan itu dipenuhi tamu dari berbagai kalangan.
Hadir di antaranya seorang dosen Universitas Islam Jember, mantan Sekretaris Dewan (Sekwan), Ketua ICMI, eks dosen STIH Jenderal Sudirman, pensiunan Kepala SDN, pensiunan pegawai Dinas Pendidikan (Diknas), serta sejumlah tamu lainnya. Kehadiran mereka bukan tanpa alasan, melainkan untuk menyaksikan momen penting: pembacaan dua kalimat syahadat oleh Suhardiyanto, 56 tahun, asal Klaten, Jawa Tengah.
Dipandu oleh Ustad Huda, pembacaan syahadat berjalan lancar dan penuh getar jiwa. Suasana di ruangan itu terasa haru, diselingi keheningan yang khidmat saat Suhardiyanto mengikrarkan keyakinan barunya.
Suhardiyanto, warga Klaten, Jawa Tengah, datang seorang diri ke Lumajang dengan menumpang bus selama delapan jam perjalanan. Sebelum tiba di Lumajang, Hardi, sapaan akrabnya, sempat singgah dahulu ke rumah kerabatnya di Kediri yang tengah menggelar hajatan keluarga.
Kehadiran Hardi ke Kantor Dewan Dakwah Lumajang itu membawa tujuan yang sangat mulia baginya, yakni mengikrarkan diri masuk Islam setelah sembilan tahun lamanya diimpikan. “Sudah lama saya ingin masuk Islam, tapi belum terlaksana,” ujar Hardi kepada pengurus Dewan Dakwah Lumajang.
Dipilihnya Kota Lumajang sebagai tempat ikrar pindah agama bukan tanpa sebab. Ia mengaku terinspirasi oleh ceramah Ustad H. Suharyo AP yang ditontonnya melalui sebuah video pendek. Ustad Haryo, sapaan akrab sang ustaz, merupakan Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia daerah Lumajang.
Menurut penuturan Hardi, dirinya sudah lama ingin pindah agama dari Kristen ke Islam. Namun, keinginan itu terkendala oleh berbagai hal, baik secara sosiologis maupun psikologis, yang membuatnya menunda niat tersebut bertahun-tahun.

Begitu mendengar ceramah Ustad Haryo, ia langsung tertarik dan mencari nomor kontaknya. Dari sana, Hardi bertanya banyak hal, termasuk persyaratan jika ingin masuk Islam. “Ternyata kok mudah,” tuturnya.
Oleh Ustad Haryo dijelaskan bahwa masuk Islam sesungguhnya tidak rumit. Jika hati sudah mantap, seseorang tinggal mengikrarkan dua kalimat syahadat yang disaksikan oleh beberapa orang. Ustad Haryo pun menawari diri untuk membantu kelancaran proses ikrar syahadat tersebut di Lumajang, tawaran yang langsung disambut dengan senang hati oleh Hardi.
Setelahnya, Hardi berjanji ingin bertemu langsung di kediaman Ustad Haryo di Lumajang. Semula rencana pertemuan dijadwalkan akhir Agustus, namun karena ada acara keluarga di Kediri, jadwalnya akhirnya dimajukan menjadi pertengahan Agustus.
Sebelumnya, ayah dari dua anak dan tiga cucu ini memeluk agama Kristen, mengikuti keyakinan sebagian besar keluarga dan tetangganya. Ia bahkan sempat mengikuti agama Katolik semasa remaja. Di kalangan Kristen, Hardi disebut-sebut sebagai salah satu kader aktif. “Sebelumnya saya lama menjaga gereja dan ikut kebaktian,” jelasnya.
Ia mengakui bahwa sebagian besar warga Desa Sembung Wedi, tempat tinggalnya, adalah penganut Kristen. Sebagian lainnya beragama Islam, meski menurutnya banyak yang tidak menjalankan salat sebagaimana perintah agamanya.
Selain mendengar ceramah Ustad Haryo, pria kelahiran 10 September 1969 ini mengaku beberapa kali membaca sobekan kertas yang berisi pesan bahwa Islam adalah agama yang benar. Ia juga pernah membaca kutipan ayat yang menyebutkan siapa yang memeluk agama selain Islam tidak akan diterima di sisi Allah, merujuk pada QS. Ali Imran ayat 85.
Meski beragama Kristen, Hardi sebenarnya tidak asing dengan pergaulan dan kegiatan umat Islam, sebab pergaulannya juga kerap bersama teman-temannya yang beragama Islam. Bahkan, sebelum berikrar, Hardi telah lebih dulu mempelajari seluk-beluk ajaran Islam tingkat dasar, termasuk berlatih membaca surat-surat pendek.
Kini, setelah resmi masuk Islam, suami dari Endang Listyowati ini berencana terus belajar dan mendalami ajaran Islam secara bertahap. Ia mengakui bahwa istri dan kedua anaknya, Kristina Nurhidayah dan Ira Puspita Rini, saat ini masih memeluk agama Kristen.
Jika sebelumnya Hardi kerap mendapat honor dari gereja tempatnya mengabdi, kini ia akan kembali menjalani profesi sebagai petani, pekerjaan yang dahulu juga dilakoni ayahnya, almarhum Sutadimomo, dan ibunya, almarhumah Sukardi, serta enam saudaranya yang lain.
Shodiq Syarif










