TROBOS.CO | Ada cara sederhana untuk membangun kebiasaan baik di tengah masyarakat, yakni membiasakan orang untuk bersedekah. Dari gagasan sederhana itulah Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Lumajang menggalakkan program “Lumajang Bersedekah”, sebuah gerakan yang diharapkan tidak berhenti sebagai slogan, tetapi tumbuh menjadi budaya di tengah masyarakat. Program ini diawali langsung oleh Bupati Lumajang di Pendopo Kabupaten beberapa waktu lalu.
Sejak diluncurkan, semangat Lumajang Bersedekah terus dibawa ke dalam berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat luas. Setiap kali Baznas mengumpulkan massa, pesan tentang pentingnya bersedekah selalu disampaikan, tanpa paksaan apalagi tekanan. Cukup dengan menyediakan ruang bagi masyarakat untuk berbagi melalui kotak amal yang ditempatkan di lokasi kegiatan.
Ketua Baznas Kabupaten Lumajang, Drs. Nur Sjahid, MA, mengatakan hasil sedekah dari berbagai kegiatan tersebut cukup menggembirakan. Jumlahnya memang tidak selalu sama setiap kali, namun ketika dilakukan berulang-ulang, terkumpul dana yang lumayan besar secara keseluruhan.
Menurutnya, yang lebih penting dari sekadar nominal adalah tumbuhnya kesadaran bahwa bersedekah dapat dilakukan kapan saja dan oleh siapa saja, tanpa harus menunggu memiliki kelebihan harta terlebih dahulu.
Semangat tersebut turut mendapat dukungan dari Wakil Ketua I Bidang Pengumpulan Baznas Kabupaten Lumajang, Lukman Hakim, SEI. Ia optimistis gerakan Lumajang Bersedekah suatu saat dapat menjadi salah satu ikon Baznas Lumajang. Baginya, sedekah harus terus dikenalkan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari, bukan sekadar dilakukan ketika seseorang memiliki kelebihan harta.
Praktik nyata gerakan ini sudah terlihat dalam sejumlah pertemuan UMKM yang digelar di beberapa kecamatan, di antaranya Kecamatan Rowokangkung, Tekung, Tempeh, dan Kunir. Kotak amal selalu disediakan di setiap kegiatan tersebut, dan masyarakat yang hadir diberi kesempatan untuk mengisi sesuai kemampuan dan keikhlasan masing-masing.
Hasilnya cukup menarik. Dalam salah satu kegiatan di Kecamatan Tempeh, misalnya, sedekah yang terkumpul mendekati Rp700.000. Angka itu menunjukkan bahwa ketika kesempatan berbagi dibuka lebar, ternyata banyak warga yang memiliki kepedulian. Mereka mungkin tidak menyumbang dalam jumlah besar secara individu, tetapi ketika dilakukan bersama-sama, sedekah kecil itu berubah menjadi kekuatan sosial yang berarti.
Fenomena serupa juga terjadi ketika Baznas mengumpulkan para penerima manfaat di kantor Baznas Kabupaten Lumajang. Kotak amal kembali disediakan, dan hasilnya di luar dugaan. Bahkan saat para penerima bantuan renovasi rumah tidak layak huni diundang, terkumpul sedekah spontan sekitar Rp300.000.
Fenomena ini menarik untuk dicermati, sebab orang yang datang sebagai penerima manfaat ternyata juga tergerak untuk memberi. Sesuatu yang barangkali tidak terduga, namun justru menjadi bukti bahwa semangat berbagi tidak mengenal status ekonomi seseorang.
Baznas menegaskan bahwa keberadaan kotak amal tersebut bukanlah bentuk kewajiban. Masyarakat tidak dipaksa, tidak ditekan, dan sepenuhnya bebas memilih apakah akan bersedekah atau tidak. Justru dari kebebasan itulah muncul nilai yang penting, yakni warga bersedekah karena terpanggil hatinya sendiri, bukan karena merasa diperintah oleh siapa pun.
Sedekah, dengan begitu, menjadi gerakan hati, bukan sekadar gerakan tangan yang memasukkan uang ke dalam kotak amal.
Jika kebiasaan sederhana ini terus dipelihara, bukan mustahil Lumajang Bersedekah akan berkembang menjadi budaya sosial yang kuat di tengah masyarakat. Warga akan semakin terbiasa menyisihkan sebagian rezekinya untuk membantu sesama. Dari kotak-kotak amal yang sederhana, bisa lahir kepedulian yang jauh lebih besar. Sedekah pun kemudian tidak hanya berbicara soal uang, melainkan tentang membangun jembatan antara mereka yang memiliki kelebihan dan mereka yang membutuhkan.
Pada akhirnya, kekuatan Lumajang Bersedekah bukan semata-mata terletak pada berapa rupiah yang berhasil dikumpulkan. Nilai terbesarnya justru ada pada proses membentuk kebiasaan baik itu sendiri. Bila bersedekah menjadi bagian dari keseharian masyarakat, Lumajang tidak hanya akan memiliki gerakan filantropi, tetapi juga memiliki modal sosial berupa kepedulian yang mengakar. Dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus, kebaikan bisa tumbuh menjadi budaya, dan budaya bisa menjelma menjadi kekuatan masyarakat.
Tim Trobos.co










