26 Kader ADI Dilepas ke Medan Dakwah, Siap Mengabdi di Mana Pun

banner 2560316

TROBOS.CO | Sebanyak 26 wisudawan dan wisudawati Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Jawa Timur resmi dilepas untuk memasuki medan pengabdian. Bertempat di Aula Edupark eLKISI, Sabtu (15/8/2026), Wisuda ADI ke-5 ini menjadi momentum peneguhan kembali bahwa pendidikan dai bukanlah proses untuk memperoleh gelar, melainkan persiapan untuk memikul amanah dakwah.

Mengusung tema “Meneguhkan Amanah Dakwah: Dari Pembinaan Menuju Pengabdian”, wisuda kali ini menandai berakhirnya satu fase pembinaan sekaligus dimulainya fase pengabdian. Para lulusan akan menjalani praktik dakwah selama satu tahun di daerah-daerah yang telah ditentukan sebelumnya.

banner 300250

Bagi Dewan Dakwah, seorang dai tidak dipersiapkan untuk mencari tempat yang nyaman, melainkan untuk siap ditempatkan di mana pun dakwah membutuhkan kehadirannya.

Pesan inilah yang ditegaskan Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Jawa Timur, Dr. KH. Fathur Rohman, M.Pd.I., di hadapan para wisudawan. “Tugas utama kita adalah mendakwahkan agama Allah,” tegasnya.

Menurut KH. Fathur, satu tahun pendidikan yang telah dijalani para mahasiswa merupakan proses pembentukan dan persiapan menjadi dai. Namun, setelah lulus, kewajiban tersebut ternyata tidak lantas berhenti begitu saja.

“Kalian dididik selama setahun, dipersiapkan menjadi dai. Setelah itu pengabdian, plus belajar terus-menerus,” ujarnya.

Karena itu, ia mengingatkan bahwa para wisudawan kini memiliki tugas baru yang harus melekat dalam kehidupan mereka. “Jadi ada tugas baru, yaitu sebagai dai di manapun dan kapanpun. Ini kewajiban yang harus selalu ditunaikan,” lanjutnya.

KH. Fathur menegaskan bahwa medan dakwah di Indonesia masih sangat luas. Berbagai persoalan umat membutuhkan kehadiran kader dakwah yang memiliki ilmu, keteguhan, dan kesiapan mengabdi secara total.

“Cakupan dakwah di negeri ini sangat luas karena negeri ini harus diselamatkan dengan dakwah. Kita jaga NKRI ini dengan dakwah,” tegasnya.

Pernyataan tersebut menempatkan dakwah bukan hanya sebagai aktivitas keagamaan dalam arti sempit, melainkan sebagai ikhtiar menjaga moral masyarakat, membina umat, memperkuat persatuan, dan merawat kehidupan kebangsaan secara luas. Karena itu, kader Dewan Dakwah dituntut memiliki kesiapan total. “Ditugaskan di mana dan ke mana saja harus selalu siap,” pesan KH. Fathur.

Bagi kader dakwah, penempatan bukan persoalan memilih medan yang disukai. Ketika amanah telah diberikan, maka tugas harus dijalankan, baik di kota maupun di pelosok, di tengah masyarakat maju maupun masyarakat yang membutuhkan pembinaan lebih besar.

Dalam sambutannya, KH. Fathur juga mengenang kembali pesan Ketua Dewan Dakwah Jawa Timur terdahulu, Kiai Misbach (Allahuyarham), tentang keberhasilan seorang dai. Dengan nada seloroh, ia menyampaikan bahwa suksesnya seorang dai adalah ketika ia sampai dijadikan menantu oleh kepala suku setempat atau tokoh daerah setempat.

Di balik seloroh tersebut, ada pesan kaderisasi yang kuat, yakni dai harus mampu memenangkan hati masyarakat sebelum memenangkan perdebatan. Dai tidak boleh hanya datang, berceramah, lalu pergi begitu saja. Ia harus hadir dalam kehidupan masyarakat, membangun kepercayaan, memahami persoalan mereka, menjadi teladan, dan ikut menyelesaikan problem umat sehari-hari.

Dakwah, dengan demikian, membutuhkan kedekatan, keteladanan, kesabaran, dan pengabdian yang panjang. Karena itu, satu tahun praktik dakwah bukan sekadar program tambahan setelah pendidikan selesai. Ia merupakan laboratorium kehidupan bagi seorang dai untuk menguji ilmu, membentuk kematangan, dan belajar membaca realitas umat secara langsung.

Selain melepas 26 wisudawan dan wisudawati, momentum Wisuda ADI ke-5 ini juga ditandai dengan pembagian buku karya bersama mahasantri berjudul Jejak Pemikiran Islam. Buku tersebut merupakan bagian dari tugas literasi mahasiswa selama menempuh pendidikan.

Kehadiran buku ini menunjukkan bahwa kaderisasi Dewan Dakwah tidak hanya diarahkan untuk melahirkan dai yang mampu berbicara, tetapi juga dai yang mampu membaca, berpikir, menulis, dan menghasilkan karya nyata. Sebab tantangan dakwah hari ini semakin kompleks. Dai tidak cukup hanya memiliki kemampuan retorika, tetapi harus memiliki wawasan keislaman yang kuat, kemampuan membaca perubahan zaman, kecakapan intelektual, serta kemampuan menyampaikan gagasan melalui berbagai medium.

Mimbar adalah salah satu medan dakwah. Buku juga medan dakwah. Masyarakat adalah medan dakwah. Bahkan seluruh ruang kehidupan pada dasarnya adalah medan dakwah itu sendiri.

Saat ini, ADI Jawa Timur juga menjadi ruang pembinaan bagi 17 mahasiswa dan mahasiswi dari berbagai daerah di Indonesia, di antaranya Maluku, Nusa Tenggara Timur, Mentawai, Jawa Timur, dan daerah lainnya. Sebagian kader yang telah menyelesaikan pendidikan akan memasuki medan pengabdian, sementara sebagian lainnya akan melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi, termasuk ke Al-Azhar Mesir dan STID Mohammad Natsir. Jalur mereka boleh berbeda, tetapi orientasinya tetap sama: menuntut ilmu, memperkuat kapasitas, dan menunaikan amanah dakwah.

Bagi Dewan Dakwah, wisuda bukanlah akhir dari kaderisasi, melainkan pelepasan kader menuju medan perjuangan dakwah yang sesungguhnya. Mereka telah dibina, kini saatnya mengabdi. Mereka telah belajar, kini saatnya mengamalkan. Mereka telah dipersiapkan, kini saatnya membuktikan bahwa ilmu dapat menjadi cahaya bagi masyarakat luas.

Dan mereka harus terus belajar, sebab seorang dai tidak pernah selesai belajar selama amanah dakwah masih berada di pundaknya.

Sebanyak 26 wisudawan dan wisudawati hari ini tidak sekadar menerima tanda kelulusan. Mereka menerima amanah yang jauh lebih besar, yakni menjadi dai yang siap hadir di mana pun dibutuhkan dan kapan pun dipanggil untuk mengabdi. Sebab bagi Dewan Dakwah, kader tidak disiapkan untuk bertanya, “Di mana saya akan ditempatkan?”, tetapi untuk menjawab dengan mantap: “Di mana dakwah membutuhkan saya, di situlah saya siap mengabdi.”

Tim Trobos.co

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *