Ketika Mesin Mulai Menjawab, Untuk Apa Santri Belajar ke Guru?

banner 2560316

TROBOS.CO | Ada masa ketika seorang santri harus membuka lembar demi lembar kitab untuk menemukan jawaban atas sebuah pertanyaan. Ia mungkin harus bertanya kepada ustaz, menunggu waktu pengajian, atau mendiskusikannya dalam forum bahtsul masail. Prosesnya panjang, tetapi di sepanjang proses itulah ilmu perlahan tumbuh.

Sekarang, cukup dengan mengetik beberapa kalimat pada layar, sebuah jawaban dapat muncul dalam hitungan detik. Bahkan bukan hanya jawaban. Mesin dapat menerjemahkan teks Arab, merangkum buku, menjelaskan istilah yang rumit, menyusun kerangka tulisan, hingga membantu menyelesaikan berbagai pekerjaan akademik. Teknologi itu bernama artificial intelligence atau AI, dan ia bukan lagi cerita tentang masa depan. Ia sudah menjadi bagian dari kehidupan santri.

banner 300250

Lalu muncul pertanyaan yang mungkin agak mengganggu: jika mesin mampu menjawab begitu banyak pertanyaan, untuk apa seorang santri masih membutuhkan guru? Pertanyaan ini tidak boleh dijawab dengan ketakutan. Ia justru perlu dijadikan bahan perenungan tentang apa sebenarnya tujuan pendidikan pesantren. Sebab boleh jadi, selama ini kita terlalu sering menyamakan informasi dengan ilmu, padahal keduanya tidak sama.

AI membuat informasi menjadi semakin mudah diperoleh. Apa yang dahulu membutuhkan waktu berjam-jam untuk dicari, kini dapat ditemukan dalam waktu singkat. Tetapi kemudahan memperoleh informasi menghadirkan persoalan baru: siapa yang memastikan informasi itu benar?

Jawaban yang disampaikan dengan bahasa yang rapi belum tentu tepat. Penjelasan yang panjang belum tentu mendalam. Bahkan sesuatu yang terdengar sangat meyakinkan tetap membutuhkan pemeriksaan.

Di sinilah tradisi pendidikan pesantren memiliki pelajaran penting. Santri tidak hanya diajari membaca teks. Ia belajar kepada guru, mengenal konteks, berdiskusi, menghafal, mengulang, diuji, dan belajar membedakan pendapat. Yang tidak kalah penting, ia belajar bagaimana menempatkan ilmu dalam kehidupan. Dengan kata lain, pesantren tidak sekadar mengajarkan apa yang harus diketahui, tetapi juga bagaimana seseorang seharusnya memperlakukan pengetahuan.

AI dapat membantu menjawab pertanyaan. Tetapi siapa yang mengajarkan kepada santri bahwa tidak semua pertanyaan harus dijawab dengan tergesa-gesa? Siapa yang mengajarkan bahwa tidak semua informasi layak dipercaya? Siapa yang mengajarkan bahwa ilmu memiliki konsekuensi moral? Di sinilah guru tetap memiliki tempat yang tidak sederhana.

Ada kecenderungan setiap teknologi baru dipandang sebagai ancaman, dan pesantren pun bisa saja terjebak dalam sikap semacam itu. Padahal persoalannya bukan apakah AI baik atau buruk. Teknologi pada dasarnya adalah alat, dan nilainya sangat bergantung pada bagaimana manusia menggunakannya.

AI dapat membantu santri memahami materi, memperkaya bahan bacaan, menerjemahkan teks, melakukan riset awal, bahkan membuka akses pengetahuan yang sebelumnya sulit dijangkau. Tetapi kemudahan itu jangan sampai berubah menjadi jalan pintas. Santri tidak boleh merasa cukup hanya karena mesin telah memberikan jawaban. Ia tetap harus membaca, memahami, memeriksa, berdiskusi, dan mempertanggungjawabkan apa yang dipelajarinya.

Di sinilah pesantren membutuhkan satu kompetensi baru: bukan sekadar literasi digital, tetapi adab digital. Santri perlu belajar menggunakan teknologi tanpa kehilangan kejujuran, memanfaatkan AI tanpa kehilangan daya kritis, dan cepat mengakses informasi tanpa kehilangan kesabaran dalam menuntut ilmu. Teknologi boleh mempercepat proses belajar, tetapi jangan sampai ia menghilangkan proses yang membuat seseorang benar-benar belajar.

Lantas apa yang sebenarnya dilakukan guru jika sebagian pekerjaan intelektual dapat dibantu mesin? Justru di sinilah makna guru menjadi semakin jelas. Guru bukan sekadar tempat bertanya. Guru adalah teladan.

Guru membaca perubahan sikap murid. Guru mengenali ketika seorang santri sedang kehilangan semangat. Guru tahu kapan harus menjelaskan, kapan harus menegur, kapan harus mendengarkan. Mesin dapat menjelaskan makna sabar, tetapi mesin tidak mengalami kesulitan bersama santri. Mesin dapat menulis tentang keikhlasan, tetapi ia tidak memberikan contoh bagaimana keikhlasan dijalankan. Mesin dapat menjelaskan akhlak, tetapi ia tidak hidup sebagai teladan akhlak di hadapan murid.

Dalam pendidikan pesantren, hal-hal semacam ini bukan tambahan, justru itulah inti pendidikan. Sebab seorang santri tidak hanya belajar dari kitab yang dibacanya, ia juga belajar dari cara gurunya berbicara, bersikap, menghormati orang lain, menghadapi persoalan, dan menjalani kehidupan. Ilmu dapat dipindahkan melalui teks, tetapi keteladanan hanya dapat diwariskan melalui kehidupan. Barangkali inilah salah satu hal yang tidak mudah digantikan teknologi.

Karena itu, pesantren tidak perlu memilih antara tradisi dan teknologi. Yang diperlukan adalah kemampuan mempertemukan keduanya. Kitab tetap dibaca, guru tetap menjadi rujukan, musyawarah tetap dijaga, sanad keilmuan tetap dihormati, dan adab tetap menjadi fondasi. Sementara itu, teknologi dimanfaatkan untuk memperluas akses, mempercepat pekerjaan, dan membuka kemungkinan baru dalam pembelajaran.

Santri masa depan memang harus mampu menggunakan AI. Tetapi lebih dari itu, ia harus mampu mengatakan tidak ketika teknologi mulai mengajaknya mengambil jalan yang tidak jujur. Ia harus mampu bertanya kembali ketika mendapatkan jawaban yang meragukan, mampu memeriksa sumber, dan mampu menggunakan kecerdasan mesin tanpa kehilangan kecerdasan nurani.

Sebab tantangan terbesar di masa depan mungkin bukan manusia yang tidak mampu menggunakan teknologi. Justru sebaliknya, manusia yang sangat mahir menggunakan teknologi, tetapi tidak lagi mampu mengendalikan dirinya. Di situlah pesantren memiliki pekerjaan besar.

Pesantren tidak harus berlomba membuat santri menjadi lebih pintar daripada mesin — itu bukan perlombaan yang perlu dimenangkan. Pesantren harus memastikan bahwa ketika mesin semakin pintar, manusianya tetap memiliki adab, kebijaksanaan, dan tanggung jawab. Sebab pendidikan pada akhirnya bukan perlombaan untuk mengumpulkan sebanyak mungkin jawaban, melainkan perjalanan untuk memahami pertanyaan mana yang penting, jawaban mana yang benar, dan untuk apa pengetahuan itu digunakan.

Mungkin karena itulah, ketika mesin mulai mampu menjawab hampir semua pertanyaan, keberadaan guru justru menjadi semakin bermakna. Bukan karena guru harus mengalahkan mesin, melainkan karena mesin dapat membantu manusia mengetahui banyak hal, sementara guru membantu manusia belajar menjadi manusia.

Mohammad Mas’ud, S.Ag., M.A.
(Dosen STIT Miftahul Midad Lumajang, Pengasuh Pesantren Karisma Sunan Kalijaga)

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *