TROBOS.CO | Di saat kebanyakan siswa SMA menghadapi ujian akhir dengan mengisi lembar soal, santri putri kelas kader ulama SMA eLKISI PPIC Mojosari, Mojokerto, memilih cara yang berbeda.
Mereka maju ke depan podium mempresentasikan buku karya tulis yang mereka susun sendiri, di hadapan para penguji, dalam sebuah forum yang atmosfernya lebih menyerupai seminar ilmiah daripada ruang ujian biasa.
Kegiatan bedah buku karya tulis ini digelar di aula PPIC eLKISI Mojosari sebagai bagian dari ujian akhir sekaligus syarat kelulusan kelas XII. Para santri hadir dengan pemaparan argumentatif, media presentasi, dan kesiapan menjawab pertanyaan dari penguji.
Dua penguji hadir dalam forum tersebut: Muhammad Hidayatulloh, Kepala Pesantren Kader Ulama dan Markaz Al-Qur’an PPIC eLKISI, serta Drs. Sofwan, MM, Pengawas SMA Cabang Dinas Pendidikan Mojokerto.
Empat buku karya santri dibedah dalam forum ini, dan tema-temanya jauh dari sekadar tugas formalitas.
Shabrina Zahra menulis tentang Seni Bertahan Hidup. Nailah Asma Karimah mengangkat tema Ketika Dia Mencintaimu. Almira Asyfaa merefleksikan Tawakkal dalam Perspektif Psikologi. Dan Roshna Aftira menghadirkan renungan tentang Al-Qur’an Berbicara Tentang Waktu.
Keempat tema itu sangat relevan dengan pergulatan generasi muda hari ini kesehatan mental, ketahanan diri, kebermaknaan hidup, dan hubungan manusia dengan nilai-nilai Al-Qur’an.
Muhammad Hidayatulloh menegaskan bahwa tradisi intelektual seperti ini bukan sekadar pelengkap kurikulum. Ia adalah fondasi dari apa yang seharusnya dimiliki seorang kader ulama masa depan.
“Kader ulama tidak cukup hanya memahami teks keagamaan. Mereka juga harus mampu membaca realitas, menyusun pemikiran, dan menghadirkan solusi berbasis nilai-nilai Islam,” tegasnya.
Drs. Sofwan, MM, menyampaikan apresiasi yang tulus atas apa yang dilakukan PPIC eLKISI.
“Kegiatan membaca dan menulis seperti ini akan menambah wawasan dan pengetahuan para santri. Selain itu, juga mampu membentuk generasi yang berkualitas, memiliki pola pikir yang baik, kritis, dan siap berkontribusi di tengah masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya tradisi literasi semacam ini di era digital yang serba instan agar generasi muda tidak hanya menjadi pengguna informasi, tapi juga mampu melahirkan gagasan dan karya yang bermanfaat.
Program bedah buku ini adalah bagian dari komitmen PPIC eLKISI dalam menghadirkan pendidikan pesantren yang integratif memadukan penguatan spiritual, literasi akademik, dan pembinaan intelektual dalam satu ekosistem yang utuh.
Di tengah arus digital yang serba cepat dan dangkal, PPIC eLKISI memilih jalan yang berbeda: melahirkan santri yang religius, reflektif, komunikatif, dan siap berdialog dengan tantangan zaman tanpa kehilangan identitas keislamannya. *
Cak Muhid



