Aktivis Dakwah Henny Siswondo Wafat, Pemakamannya Jadi Rebutan Jamaah

banner 2560316

TROBOS.CO | Rumah duka H. Drs. Henny Siswondo, M.Pd., di Jember masih dipenuhi pelayat hingga hari ketiga setelah wafatnya Wakil Ketua Bidang Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Jember tersebut. Rombongan dari berbagai daerah terus berdatangan untuk menyampaikan belasungkawa sekaligus mengenang sosok yang sepanjang hidupnya banyak dicurahkan untuk dakwah.

Rombongan Muhammadiyah Lumajang menjadi salah satu yang hadir melayat. Mereka datang sebagai bentuk penghormatan kepada almarhum yang dikenal luas sebagai aktivis Muhammadiyah sekaligus mubaligh yang tidak pernah berhenti mengisi ruang-ruang dakwah di berbagai daerah.

banner 300250

Henny Siswondo, yang juga pernah menjabat Kepala SMA Muhammadiyah 3 (SMAM 3) Jember, meninggal dunia pada Jumat (14/8/2026) dalam usia 69 tahun. Almarhum meninggalkan tiga orang anak. Sejak usia remaja, kiprahnya di Muhammadiyah telah dimulai melalui Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), kemudian berlanjut ke Pemuda Muhammadiyah, hingga akhirnya dipercaya menjadi bagian dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah Jember.

Dakwah yang Menjadi Napas Keseharian

Bagi keluarganya, aktivitas dakwah bukan sekadar kegiatan tambahan dalam kehidupan almarhum. Dakwah telah menjadi bagian dari napas kesehariannya. Putra kedua almarhum, Iffan Gallant, mengatakan hampir seluruh waktu ayahnya dihabiskan untuk kegiatan keagamaan, terutama mengisi pengajian dan membina jamaah di berbagai tempat.

“Waktu ayah banyak dihabiskan untuk kegiatan dakwah. Hari-harinya sibuk mengisi acara,” ujar Iffan. Semangat tersebut, menurutnya, tetap terlihat bahkan ketika kondisi kesehatan sang ayah belum sepenuhnya pulih. Ia mengenang, sehari setelah menjalani operasi jantung, sang ayah sudah kembali mengisi pengajian tanpa banyak berkeluh kesah.

Kiprah tersebut membuat jaringan pergaulan almarhum semakin luas dari waktu ke waktu. Pelayat tidak hanya datang dari Jember dan sekitarnya, tetapi juga dari Surabaya serta sejumlah daerah di kawasan Tapal Kuda. Kehadiran mereka menjadi gambaran kecil tentang luasnya jejak silaturahmi dan dakwah yang dibangun almarhum selama puluhan tahun perjalanan hidupnya.

Di mata teman-teman seperjuangan, Henny dikenal sebagai sosok yang konsisten. Jarak bukan alasan untuk menolak undangan dakwah, sebab daerah yang jauh sekalipun tetap ditempuh dengan penuh kesungguhan. Ia menjalani aktivitas tersebut tanpa banyak mengeluh, seolah perjalanan panjang telah menjadi bagian dari pengabdian yang harus ditunaikan.

Karena itu, kepergian almarhum meninggalkan ruang kosong bagi banyak orang. Bukan hanya keluarga yang merasa kehilangan, tetapi juga para kader Muhammadiyah, sahabat seperjuangan, serta jamaah pengajian yang selama ini mendapatkan siraman ilmu darinya.

Jenazah Diperebutkan, Bukti Kedalaman Ikatan Batin

Ada cerita menarik di balik besarnya rasa kehilangan tersebut. Iffan Gallant menuturkan bahwa semasa hidup, ayahnya menjadi penasihat sekaligus pembina pengajian di sejumlah tempat, salah satunya berada di lingkungan tempat almarhum tinggal sehari-hari.

Jamaah menyukai cara almarhum menyampaikan ilmu. Materi disampaikan secara lugas dan tegas, namun tetap dibalut kebijaksanaan dan kesopanan. Gaya tersebut membuat pesan-pesan agama mudah diterima sekaligus membekas di hati para jamaah yang mendengarkannya.

Tidak mengherankan ketika kabar wafatnya tersebar, sejumlah jamaah pengajian datang menyampaikan permintaan agar almarhum dimakamkan di kampung mereka. Mereka merasa memiliki ikatan emosional yang kuat dengan sosok yang selama ini membimbing dan membersamai kegiatan keagamaan di tengah masyarakat.

Di sisi lain, warga lingkungan tempat almarhum tinggal juga menginginkan hal yang sama. Mereka berharap Henny Siswondo dimakamkan di lingkungan sendiri, dekat dengan masyarakat yang selama ini menjadi bagian dari kehidupannya. “Ayah seolah menjadi rebutan,” kata Iffan, menggambarkan besarnya rasa kehilangan masyarakat atas kepergian sang ayah.

Bagi keluarga, cerita tersebut bukan sekadar persoalan tempat pemakaman semata. Di baliknya tersimpan sebuah kesaksian bahwa almarhum telah meninggalkan sesuatu yang jauh lebih panjang daripada usia, yakni ilmu, keteladanan, persaudaraan, dan jejak dakwah yang mengakar di banyak hati. Ketika seseorang dikenang dan diinginkan kehadirannya bahkan setelah meninggal, barangkali itulah salah satu tanda bahwa hidupnya telah memberi manfaat bagi banyak orang.

Tim Trobos.co

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *