Bercermin pada Ciptaan Allah: Matahari, Air, dan Pohon yang Ikhlas

banner 2560316

TROBOS.CO | Ada satu ayat yang barangkali sering terlewat begitu saja saat dibaca, padahal maknanya begitu dalam.

وَفِىٓ أَنفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ

“Dan pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Adz-Dzariyat: 21). Allah seolah mengajak setiap manusia untuk berhenti sejenak, menengok ke dalam diri, dan bertanya: sudahkah aku benar-benar mengenal siapa diriku?

اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ يَسْجُدُ لَهٗ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَمَنْ فِى الْاَرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُوْمُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَاۤبُّ وَكَثِيْرٌ مِّنَ النَّاسِۗ وَكَثِيْرٌ حَقَّ عَلَيْهِ الْعَذَابُۗ وَمَنْ يُّهِنِ اللّٰهُ فَمَا لَهٗ مِنْ مُّكْرِمٍۗ اِنَّ اللّٰهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاۤءُ

“Tidakkah engkau mengetahui bahwa bersujud kepada Allah siapa yang ada di langit dan siapa yang ada di bumi, juga matahari, bulan, bintang, gunung, pohon, hewan melata, dan kebanyakan manusia? Akan tetapi, kebanyakan (manusia) pantas mendapatkan azab. Siapa yang dihinakan Allah tidak seorang pun yang akan memuliakannya. Sesungguhnya Allah melakukan apa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Hajj: 18)

Alam semesta yang terhampar ini sesungguhnya bisa menjadi kaca raksasa bagi manusia. Sebuah cermin untuk melihat kekurangan diri, agar tumbuh kesadaran dan usaha untuk memperbaikinya.

Sejak awal penciptaannya, matahari tidak pernah alpa menjalankan tugasnya. Ia bersinar tanpa pandang bulu, tidak pernah memilih siapa yang berhak menerima cahayanya. Tidak ada pamrih yang diharapkan setelah tugas itu selesai, bahkan ketika penerima manfaatnya sama sekali tidak peduli.

Begitulah gambaran orang yang benar-benar ikhlas dalam setiap amalannya memberi tanpa menunggu balasan, bekerja tanpa mengharap sorotan.

Air, sebagai sumber dari segala yang hidup, menyimpan falsafah yang tidak kalah dalam. Semangatnya tidak pernah mengenal kata putus asa. Sekalipun dihalangi, bahkan dibendung sekalipun, air akan selalu mencari jalan keluar dari kungkungannya, terus bergerak hingga tetes penghabisan.

وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاۤءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّۗ اَفَلَا يُؤْمِنُوْنَ

“Dan Kami menjadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air. Maka, tidakkah mereka beriman?” (QS. Al-Anbiya’: 30)

Dalam Surah Ibrahim ayat 24, Allah membuat perumpamaan kalimat thayyibah seperti pohon yang baik:

اَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ اَصْلُهَا ثَابِتٌ وَّفَرْعُهَا فِى السَّمَاۤءِۙ

“Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimah ṭayyibah? (Perumpamaannya) seperti pohon yang baik, akarnya kuat, cabangnya (menjulang) ke langit.” (QS. Ibrahim: 24)

Pohon semacam ini punya akar kokoh yang menopangnya agar tidak mudah roboh oleh gangguan apa pun. Perumpamaan ini sejatinya adalah cermin bagi manusia. Manusia yang baik adalah yang memiliki pendirian kuat, dalam arti benar-benar memahami keberadaan dirinya sendiri. Ada satu maqalah masyhur di kalangan ahli sufi yang berbunyi:

مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّه

“Barang siapa yang mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Tuhannya.”

Allah juga membedakan dengan tegas antara orang yang tahu diri dan yang tidak.

قُلْ هَلْ يَسْتَوِى ٱلَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ

“Katakanlah: Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az-Zumar: 9)

Kokohnya pendirian dalam kebenaran itulah yang membuat manusia menjadi kuat dan tangguh, sebagaimana cabang kayu yang menjulang tinggi berkat usaha yang gigih. Puncaknya adalah menjadi pribadi yang bermanfaat, sesuai sabda:

خير الناس أنفعهم للناس

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia (orang lain).”

Tanpa membeda-bedakan golongan, sebagaimana pohon kayu yang tidak pernah memilih siapa yang akan memetik buahnya. Dalam Surah Ibrahim ayat 25, Allah berfirman:

تُؤْتِيْٓ اُكُلَهَا كُلَّ حِيْنٍ ۢ بِاِذْنِ رَبِّهَاۗ وَيَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ

“Dan menghasilkan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan untuk manusia agar mereka mengambil pelajaran.” (QS. Ibrahim: 25)

Namun ada juga jenis pendirian yang tampak kukuh, tapi sesungguhnya rapuh karena jauh menyimpang dari kebenaran. Mereka adalah orang-orang yang mengikuti bisikan hawa nafsunya, memperlakukan hawa nafsu itu layaknya tuhan yang harus dipatuhi.

اَرَءَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰهَهٗ هَوٰىهُۗ اَفَاَنْتَ تَكُوْنُ عَلَيْهِ وَكِيْلًا

“Sudahkah engkau (Nabi Muhammad) melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya? Apakah engkau akan menjadi pelindungnya?” (QS. Al-Furqan: 43)

Kuat dan kokohnya pendirian semacam ini tergolong rapuh dari kebenaran. Allah menggambarkan golongan ini dalam firman-Nya:

وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيْثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيْثَةِ اجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ الْاَرْضِ مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ

“Adapun perumpamaan kalimah khabīṡah seperti pohon yang buruk, akar-akarnya telah dicabut dari permukaan bumi, (dan) tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun.” (QS. Ibrahim: 26)

Ketika akar tercerabut, pohon pun tumbang dan mati. Jika masih ingin bertahan hidup, biasanya ada dua jalan yang ditempuh.

Pertama, menempel sebagai parasit pada pohon lain yang masih kokoh akarnya hidupnya tidak lama, sebatas umur ranting inangnya, namun cukup menjadi sumber penderitaan bagi yang ditumpanginya. Itulah yang biasa disebut benalu. Kedua, berpindah dari tanah luas ke dalam pot sempit yang hanya cukup untuk dirinya sendiri bisa bertahan asal mendapat perawatan khusus dan selalu ingin diperhatikan. Itulah gambaran pohon bonsai.

Cermin lain yang Allah hamparkan adalah kebun dan taman-taman yang rindang.

وَّحَدَاۤئِقَ غُلْبًا

“Dan kebun-kebun (taman) yang rindang.” (QS. ‘Abasa: 30)

Taman-taman ini menghasilkan oksigen dan kesejukan, dihiasi bunga beraneka warna sebagai simbol kebahagiaan, ketenteraman, dan kedamaian. Bunga tumbuh di mana saja di gunung, ngarai, lembah, rawa, bahkan di dasar laut. Berbeda tempat, berbeda corak dan warna, namun semuanya membawa satu misi yang sama: menjadi lambang kebahagiaan dan kedamaian. Allah mengundang setiap hamba-Nya untuk menjadi bunga-bunga idaman itu, meski berada di tempat dan posisi yang berbeda-beda.

اِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتّٰىۗ فَاَمَّا مَنْ اَعْطٰى وَاتَّقٰىۙ وَصَدَّقَ بِالۡحُسۡنٰىۙ فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلۡيُسۡرٰىؕ

“Sesungguhnya usahamu benar-benar beraneka ragam. Siapa yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan (kebahagiaan).” (QS. Al-Lail: 4-7)

Pada akhirnya, semua cermin ini matahari, air, pohon, hingga taman mengajak manusia kembali pada satu pertanyaan sederhana: sudahkah kita benar-benar mengenal diri sendiri, sebelum berusaha mengenal Tuhan?

والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Drs Edy Susilo Purnomo M.Pd

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *