Dari Unair, ICMI Jatim Serukan Intelektual Muslim Jadi Suluh di Tengah Polarisasi Bangsa

banner 2560316

TROBOS.CO | Di tengah derasnya disrupsi global, melemahnya kepercayaan publik terhadap institusi, dan menguatnya polarisasi sosial-politik, bangsa ini membutuhkan lebih banyak cahaya pemikiran — bukan kegaduhan. Semangat itulah yang melatari digelarnya Musyawarah Wilayah (Muswil) Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jawa Timur, Sabtu, 4 Juli 2026, di Gedung ASEEC Kampus C Universitas Airlangga, Surabaya.

Tema yang diusung tidak main-main: “Meneguhkan Peran Intelektual Muslim sebagai Suluh Peradaban Inklusif dan Transformatif.”

Ketua Steering Committee, Prof. Annis Catur Adi, menegaskan bahwa tema ini bukan sekadar slogan organisasi. Baginya, ini adalah panggilan nyata bagi para cendekiawan untuk kembali mengambil peran strategis sebagai kekuatan moral dan intelektual bangsa. ICMI, menurutnya, harus menjadi ruang lahirnya gagasan-gagasan besar yang mampu menjawab tantangan zaman sekaligus menghadirkan harapan bagi masyarakat.

Ketua Organizing Committee, Imam Budi Utomo, menambahkan bahwa Muswil tahun ini dirancang jauh melampaui agenda organisasi biasa. “Ini adalah forum konsolidasi pemikiran yang mempertemukan akademisi, pemerintah, tokoh masyarakat, dan komunitas lintas agama dalam membangun masa depan Jawa Timur dan Indonesia,” ujarnya.

Muswil dibagi dalam dua rangkaian. Pagi hari, pukul 08.00–12.00 WIB, diisi seminar nasional yang menghadirkan empat narasumber dengan perspektif saling melengkapi, dipandu Prof. Dr. Hj. Hesti Arimulan, Guru Besar Universitas Surabaya (UBAYA) sekaligus Pengurus ICMI Jatim.

Prof. Arief Satria, Ketua Umum ICMI Pusat sekaligus Kepala BRIN, akan mengupas tantangan ICMI ke depan dan pentingnya memperkuat budaya riset agar hasil keilmuan tidak berhenti di ruang akademik, melainkan menjadi fondasi kebijakan nyata.

Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, akan memaparkan bagaimana ICMI Jatim dapat menjadi mitra strategis pemerintah dalam merumuskan kebijakan publik berbasis ilmu pengetahuan dan data.

Dari sisi akademik, Prof. Nafik Hadi Ryandono, Guru Besar Ekonomi Syariah Universitas Airlangga, akan mengajak peserta merefleksikan posisi ICMI sebagai komunitas intelektual yang dituntut melahirkan solusi dan membangun etika publik di tengah krisis multidimensi.

Yang menarik, seminar ini juga menghadirkan Dr. Daniel Rohi, Ketua Umum Persatuan Intelektual Kristen Indonesia (PIKI) Jawa Timur. Kehadirannya menjadi penegasan tegas: membangun peradaban adalah kerja kolaboratif, melampaui sekat agama dan komunitas.

Memasuki sesi sore, pukul 12.00–17.00 WIB, Muswil beralih ke agenda organisasi. Ketua Umum ICMI Jawa Timur periode 2021–2026, Ulul Albab, bersama Sekretaris Pitono Nugroho, akan menyampaikan laporan pertanggungjawaban lima tahun kepengurusan sebelum forum memilih Ketua Umum dan pengurus baru untuk masa bakti 2026–2031.

Bukan sekadar ritual pergantian kepemimpinan. Muswil ini diharapkan melahirkan nakhoda baru yang mampu menjaga marwah ICMI sebagai rumah besar kaum intelektual Muslim, sekaligus memperluas sinergi dengan perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan komunitas lintas agama.

Ketika intelektual memilih hadir di tengah persoalan rakyat, ketika ilmu pengetahuan diterjemahkan menjadi kebijakan, dan ketika kolaborasi mengalahkan sekat perbedaan di situlah ICMI menjalankan perannya. Muswil di Unair hari ini adalah salah satu langkah ke arah itu.

Tim Trobos.co

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *