TROBOS.CO | Allah SWT berfirman dalam QS. Adz-Dzariyat: 56:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.”
Ibadah berasal dari kata ‘abida atau ‘abada yang artinya mengabdi atau menyembah. Jadi beribadah sama dengan mengabdi atau menjadikan diri sebagai abdi. Dengan demikian, bagi yang mengaku dirinya beribadah harus selalu mematuhi segala perintah dan meninggalkan semua larangan dari yang menjadikan kita sebagai abdi, yaitu Allah. Karena itu, wajarlah jika kita menyimpang dari kepatuhan itu lalu mendapatkan murka dari-Nya, berupa kehinaan di mana pun kita berada.
Tempat pengabdian adalah di dunia dan dilakukan selama hidup. Karena itu, Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa dunia itu merupakan kebun tempat menanam untuk dipetik buahnya di akhirat:
الدُّنْيَا مَزْرَعَةُ الآخِرَةِ
“Dunia adalah kebun akhirat.”
Dua Arah Ibadah: Vertikal dan Horizontal
Ada dua arah dalam beribadah: secara vertikal langsung kepada Allah dan horizontal yang berhubungan dengan sesama makhluk Allah. Kedua arah tersebut harus dilakukan semuanya. Bila tidak, maka akan mendapatkan kehinaan, sebagaimana firman Allah dalam QS. Ali Imran: 112:
ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ اَيْنَ مَا ثُقِفُوْٓا اِلَّا بِحَبْلٍ مِّنَ اللّٰهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ
“Akan ditimpakan kehinaan kepada mereka di mana saja berada, kecuali jika memegang dengan teguh hubungan dengan Allah dan hubungan dengan manusia…”
Rumah sebagai Pusat Aktivitas Ibadah
Jika kita mau menghitung dan jujur, maka akan mengakui bahwa waktu hidup di dunia ini paling banyak dihabiskan di rumah tangganya masing-masing, bukan di tempat lain. Di sanalah paling banyak dilakukan macam-macam aktivitas. Di rumah kita banyak berkomunikasi, bermunajat, berdoa, beristighfar, mengadukan segala yang kita alami sejak bangun tidur hingga tidur lagi, 24 jam penuh selama masih hidup.
Secara alami, kita (ayah, ibu, anak, dan mungkin pembantu) tentu melakukan interaksi yang masing-masing memiliki norma, etika, serta sopan santun sendiri-sendiri.
I. Norma bagi Kepala Rumah Tangga (Ayah)
1. Menjaga Keselamatan Keluarga dari Siksa Neraka
Ayah harus menjaga kesejahteraan serta keselamatan seluruh anggota rumah tangga dari segala yang dapat menjerumuskan ke arah maksiat. Allah berfirman dalam QS. At-Tahrim: 6:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
Dalam hadis riwayat Imam Malik, Rasulullah SAW bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Masing-masing kalian adalah penggembala dan bertanggung jawab atas penggembalaannya.”
Oleh karena itu, sebagai kepala keluarga, seorang ayah berkewajiban selalu memperhatikan keluarganya, baik ketika di rumah maupun di luar rumah.
2. Mencukupi Nafkah dengan Cara Halal
Allah berfirman dalam QS. An-Nisa: 34:
اَلرِّجَالُ قَوَّامُوْنَ عَلَى النِّسَاۤءِ بِمَا فَضَّلَ اللّٰهُ بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍ وَّبِمَآ اَنْفَقُوْا مِنْ اَمْوَالِهِمْ
“Kaum pria adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain, dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.”
Dan dalam QS. Al-Maidah: 88:
وَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا
“Dan makanlah dari apa yang telah Allah rezekikan kepadamu, yang halal lagi baik.”
Rasulullah SAW bersabda:
إِذَا أَنْفَقَ الرَّجُلُ عَلَى أَهْلِهِ نَفَقَةً يَحْتَسِبُهَا فَهِيَ لَهُ صَدَقَةٌ
“Jika seorang lelaki memberikan nafkah kepada keluarganya dengan niat mengharap pahala, maka itu terhitung sebagai sedekah.” (Muttafaqun ‘Alaih)
3. Mendidik Agama kepada Anak
Rasulullah SAW bersabda:
مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ
“Perintahkan anak-anakmu melaksanakan shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka jika meninggalkannya ketika berusia sepuluh tahun, serta pisahkanlah tempat tidur mereka.”
4. Niatkan Segala Aktivitas karena Allah
Setiap berangkat mencari rezeki harus diniatkan karena Allah. Setiap urusan baik yang tidak diawali dengan bismillah akan terputus hubungannya dengan Allah.
5. Shalat Berjamaah di Rumah
Ayah sebagai imam bagi istri dan anak-anaknya. Shalat fardhu dilakukan berjamaah di musala atau rumah agar semua mendapatkan pahala 27 derajat. Shalat rawatib lebih utama dikerjakan di rumah.
6. Shalat Lail di Tengah Malam
Allah berfirman dalam QS. Al-Muzzammil: 1-7:
“Wahai orang yang berselimut. Bangunlah (untuk shalat) pada malam hari, kecuali sedikit. (Yaitu) separuhnya atau kurangilah sedikit darinya, atau lebih dari (seperdua) itu, dan bacalah Al-Qur’an dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan perkataan yang berat kepadamu. Sesungguhnya bangun malam itu lebih kuat (mengisi jiwa) dan bacaannya lebih berkesan. Sesungguhnya pada siang hari engkau sangat sibuk dengan urusan-urusan yang panjang.”
II. Norma bagi Istri
Istri juga mempunyai kewajiban yang sama dengan suami dalam beribadah langsung kepada Allah. Allah berfirman dalam QS. Al-Ahzab: 35 tentang kesetaraan lelaki dan perempuan dalam ketaatan, kesabaran, kejujuran, dan dzikir.
Khusus bagi istri, Allah berfirman dalam QS. Al-Ahzab: 33:
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliah dahulu.”
Allah juga berfirman dalam QS. An-Nur: 31:
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ
“Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya.”
Dalam QS. An-Nisa: 34, Allah berfirman tentang wanita salehah:
فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ
“Maka wanita yang saleh adalah yang taat kepada Allah dan menjaga diri ketika suaminya tidak ada, sebagaimana Allah menjaganya.”
Rasulullah SAW bersabda:
وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى أَهْلِ بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ
“Istri adalah penggembala atas harta suaminya dan anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka.”
Dalam hadis lain:
إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا؛ قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ
“Jika seorang wanita melaksanakan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kehormatannya, dan taat kepada suaminya, maka akan dikatakan kepadanya: ‘Masuklah ke surga dari pintu mana pun yang engkau kehendaki.'”
III. Norma bagi Anak
Anak selain mempunyai tugas beribadah langsung kepada Allah, juga memiliki kewajiban kepada kedua orang tua.
Allah berfirman dalam QS. Al-Ankabut: 8:
وَ وَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا
“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya.”
Dalam QS. Luqman: 14:
أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
“Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu, hanya kepada-Ku tempat kembali.”
Dalam QS. Al-Isra: 23-24:
فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
“Janganlah engkau mengatakan ‘ah’ kepada keduanya dan janganlah membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
“Rendahkanlah dirimu kepada keduanya dengan penuh kasih sayang dan doakanlah: ‘Ya Tuhanku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil.'”
Jika orang tua menyuruh berbuat maksiat, anak boleh tidak menaati dengan cara yang baik (QS. Luqman: 15).
IV. Norma bagi Semua Penghuni Rumah
Allah berfirman dalam QS. An-Nur: 61:
فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً
“Jika kamu memasuki rumah, maka hendaklah kamu memberi salam kepada dirimu sendiri, sebagai penghormatan dari Allah yang diberkati lagi baik.”
Wallahu a’lam bish-shawab
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Redaksi TROBOS.CO









