Mahasiswa KKN ITB Widya Gama Gelar Festival Kampung Gendhis di Jugosari

banner 2560316

TROBOS.CO | Suasana semarak mewarnai Lapangan Desa Jugosari, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Kamis (20/8/2026). Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) Widya Gama Lumajang menggelar “Festival Kampung Gendhis”, sebuah momentum untuk mengangkat potensi lokal, kreativitas masyarakat, serta produk unggulan desa berbasis gula merah dan hasil pertanian maupun peternakan.

Rangkaian kegiatan dimulai sejak pukul 06.30 WIB dengan jalan santai yang diikuti perangkat Desa Jugosari, para kader, dan masyarakat setempat. Suasana meriah dan penuh kebersamaan terasa sepanjang rute, apalagi panitia menyediakan undian berhadiah yang membuat antusiasme peserta kian meningkat.

banner 300250

Usai jalan santai, kegiatan dilanjutkan dengan Festival dan Pameran UMKM yang menampilkan berbagai produk kreatif masyarakat Desa Jugosari. Salah satu daya tarik utamanya adalah aneka olahan makanan tradisional berbahan baku gula merah, dibuat tanpa pengawet dan pewarna sehingga lebih ramah lingkungan.

Gula merah, yang selama ini menjadi salah satu potensi ekonomi masyarakat Desa Jugosari, tidak lagi sekadar ditampilkan sebagai bahan pangan. Melalui pameran ini, gula merah dikembangkan menjadi berbagai produk olahan bernilai tambah lewat beragam inovasi makanan. Festival juga menampilkan inovasi hasil pertanian dan peternakan warga, membuktikan bahwa Desa Jugosari memiliki sumber daya yang bisa terus dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.

Mahasiswa KKN ITB Widya Gama Lumajang berfoto bersama dosen pembina lapangan di stan Festival Kampung Gendhis, Desa Jugosari, Candipuro | Foto: Dok. KKN ITB Widya Gama Lumajang

Festival Kampung Gendhis diikuti kader Posyandu dari berbagai dusun di Desa Jugosari, dengan tim juri yang terdiri dari Via Lailatur Rizki, S.E., M.M., Dr. Fauzan Muttaqien, S.E., M.M., dan Dr. Ikhwanul Hakim, S.E., M.M., ketiganya akademisi dari ITB Widya Gama Lumajang.

Masing-masing Posyandu berlomba menampilkan kreativitas terbaik dengan memanfaatkan potensi yang tersedia di lingkungan masing-masing. Setelah melalui proses penilaian, ditetapkan tiga pemenang: Posyandu Mawar dari Dusun Karangrejo meraih juara pertama, disusul Posyandu Bougenvile dari Dusun Kampung Baru di posisi kedua, dan Posyandu Melati dari Dusun Krajan di tempat ketiga.

Prestasi ini menjadi bentuk apresiasi terhadap kreativitas para kader Posyandu dalam mengembangkan potensi ekonomi lokal. Bukan sekadar mengikuti perlombaan, kegiatan ini menunjukkan bahwa kader masyarakat bisa menjadi bagian penting dalam mendorong inovasi dan pemberdayaan ekonomi di tingkat desa.

Dosen Pembina Lapangan (DPL) KKN ITB Widya Gama Lumajang, Via Lailatur Rizki, S.E., M.M., menyampaikan bahwa Festival Kampung Gendhis dirancang sebagai ruang untuk mempertemukan potensi lokal, kreativitas masyarakat, dan semangat kewirausahaan.

“Festival ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi ruang kreativitas bagi masyarakat, berinovasi agar produk yang ditawarkan memiliki nilai tambah, dan layak dikembangkan sebagai kekuatan ekonomi desa,” ungkap Via.

Menurutnya, penggunaan gula merah sebagai ikon festival memiliki makna strategis. Gula merah bukan hanya komoditas, melainkan bisa menjadi identitas produk lokal yang dikembangkan lewat inovasi pangan, diversifikasi produk, kemasan, pemasaran, hingga pengembangan ekonomi kreatif. Festival Kampung Gendhis juga menjadi bagian dari upaya mahasiswa KKN untuk mendorong masyarakat agar semakin percaya diri mengembangkan potensi yang dimilikinya, lewat kolaborasi antara pemerintah desa, kader Posyandu, pelaku UMKM, masyarakat, dan kampus.

Salah satu kader Posyandu turut membagikan kesannya usai mengikuti festival. “Kami sangat senang bisa mengikuti Festival Kampung Gendhis. Kegiatan ini memberikan motivasi untuk mengembangkan produk lokal agar memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dan menjadi peluang usaha bagi masyarakat di setiap dusun,” ujarnya.

Dosen Pembina Lapangan KKN lainnya, Dr. Fauzan Muttaqien, S.E., M.M., memberikan apresiasi terhadap antusiasme masyarakat dan kader Posyandu dalam mengikuti festival ini. Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan bentuk nyata kolaborasi antara mahasiswa KKN dan masyarakat dalam menggali serta mengembangkan potensi ekonomi lokal.

“Festival Kampung Gendhis kami pandang sebagai laboratorium pemberdayaan masyarakat. Mahasiswa tidak hanya hadir untuk melaksanakan program, tetapi belajar bersama masyarakat, menggali potensi lokal, dan mendorong agar potensi tersebut memiliki nilai tambah,” jelas Dr. Fauzan.

Ia menambahkan, yang paling penting dari kegiatan ini bukan sekadar siapa yang menjadi juara, melainkan proses bagaimana masyarakat berani berinovasi, bekerja sama, memanfaatkan bahan lokal, dan melihat potensi ekonomi di sekitar mereka. Dr. Fauzan berharap Festival Kampung Gendhis tidak berhenti sebagai kegiatan KKN semata, melainkan dapat menjadi agenda pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan sekaligus ikon kegiatan ekonomi kreatif Desa Jugosari di masa mendatang.

Kemeriahan Festival Kampung Gendhis pada akhirnya bukan hanya soal lomba dan hadiah, melainkan tentang kebersamaan, kreativitas, potensi lokal, dan semangat membangun ekonomi desa. Melalui kegiatan ini, Desa Jugosari menunjukkan bahwa kekayaan hasil pertanian, peternakan, gula merah, kuliner tradisional, dan kreativitas masyarakatnya dapat menjadi modal penting menuju desa yang semakin produktif, inovatif, dan berdaya saing.

Tim Trobos.co

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *