TROBOS.CO | Randuagung, Lumajang – Tasyakuran akad nikah di Masjid Nuruttaqwa, Ledoktempuro, Randuagung, Lumajang, Minggu (4/10/2026), berlangsung santai namun khidmat.
Tausiyah disampaikan H. Suharyo AP, SH menggunakan bahasa “gado-gado” Madura dan Indonesia. Intinya cukup mengena bagi pasangan mempelai: Riswanda Ziyad Kafa, putra Taufiq Hidayat dan Hj. Nunung Nurcahyani dari Ledoktempuro, Randuagung, Lumajang, dan wanita pilihan hatinya, Selma Wulandari binti H. Mohammad Sholeh dan Hj. Yunita Rahmawati asal Bantul.
Nikah, Ibadah Terpanjang dalam Kehidupan
Dalam tausiyahnya, H. Suharyo menjelaskan pernikahan merupakan ibadah terpanjang. “Kalau salat paling hanya lima menit. Tapi nikah, mulai akad nikah sampai meninggal, bernilai ibadah,” jelasnya.
Dalam banyak pendapat dikatakan, apa yang dilakukan pasangan suami istri sepanjang menuju kebaikan bernilai ibadah alias berpahala.
Menurut Imam Al Ghazali, suami nyetol istri dengan tujuan meluruskan perbuatan yang bengkok itu berpahala. “Asal jangan sering-sering nyetolnya, bisa jadi urusan polisi,” ujarnya, disambut tawa hadirin.
“Rasulullah membolehkan suami memukul istrinya supaya perbuatannya berada di atas rel yang benar. Tentu saja memukul yang diperbolehkan dengan daun kering,” ujarnya.
Lebih lanjut, Ketua Dewan Dakwah Kabupaten Lumajang ini mengatakan, pernikahan bukan sekadar menyatukan dua orang yang saling mencintai. Pernikahan adalah ikatan yang bernilai ibadah. Dua manusia yang sebelumnya berjalan sendiri bersepakat berjalan bersama menuju ridha Allah.
Sakinah, Mawaddah, Rahmah, dan Kata “Saling”
Sementara tujuan pernikahan, sebagaimana diketahui umum, adalah untuk mendapatkan ketenangan. Allah berfirman:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.” (QS. Ar-Rum: 21)
Ada tiga kata penting dalam ayat ini: sakinah, mawaddah, dan rahmah. Rumah tangga bukan hanya tempat tinggal, tetapi tempat hati menemukan ketenteraman.
Cinta saja tidak cukup. Cinta adalah awal yang indah, tetapi rumah tangga membutuhkan lebih dari sekadar cinta. Ada kesabaran, komunikasi, tanggung jawab, saling menghormati, dan kesediaan untuk memaafkan.
“Kadang suami benar, kadang istri benar. Tetapi dalam rumah tangga, yang paling penting bukan mencari siapa yang menang. Yang penting adalah bagaimana keluarga tetap utuh dan keberkahan tetap terjaga. Maka harus ada kata ‘saling’ yang harus dijaga,” pintanya.
Yaitu saling menghargai, saling mendengar suara hati pasangannya, saling mendoakan, dan saling-saling lainnya.
Suami Pemimpin, Istri Pasangan, dan Ego yang Perlu Ditanggalkan
Diingatkan, suami adalah pemimpin keluarga. Allah memberikan tanggung jawab kepada suami untuk memimpin dan melindungi keluarganya. Kepemimpinan bukan berarti memerintah seenaknya. Pemimpin keluarga harus menjadi orang yang paling dahulu memberi teladan dalam ibadah, akhlak, kerja keras, dan tanggung jawab.
Sebaliknya, istri adalah pasangan, bukan bawahan. Istri bukan sekadar orang yang mengurus rumah. Ia adalah pasangan dalam perjalanan kehidupan. Karena itu, rumah tangga membutuhkan penghormatan dan penghargaan. Banyak persoalan besar justru dapat diselesaikan dengan kalimat sederhana: “Terima kasih,” “maaf,” dan “mari kita bicarakan.”
Salah satu penyakit rumah tangga adalah ego. Ketika dua ego bertemu, rumah bisa berubah menjadi arena pertandingan. Karena itu, belajar mengalah bukan berarti kalah. Terkadang mengalah adalah cara mempertahankan sesuatu yang jauh lebih besar, yaitu keluarga.
Rezeki Halal, Salat, dan Anak sebagai Amanah
Setelah menikah, tanggung jawab bertambah. Suami dan istri harus membangun kehidupan dengan rezeki yang halal. Jangan ukur kebahagiaan rumah tangga dari banyaknya harta. Rumah yang sederhana bisa sangat bahagia jika di dalamnya ada syukur.
Rumah tangga yang kuat bukan hanya dibangun dengan semen dan batu bata, tetapi juga dengan sujud. Biasakan salat berjamaah, membaca Al-Qur’an, berdoa bersama, dan saling mengingatkan dalam kebaikan.
Jika Allah memberikan keturunan, anak bukan sekadar kebanggaan keluarga. Anak adalah amanah. Mereka membutuhkan bukan hanya makanan dan pendidikan, tetapi juga keteladanan. Anak lebih mudah meniru apa yang dilakukan orang tua daripada sekadar mendengar nasihatnya.
Doa untuk Pengantin dan Awal Perjalanan Panjang
Rasulullah SAW mengajarkan doa untuk pasangan yang menikah:
بَارَكَ اللهُ لَكَ، وَبَارَكَ عَلَيْكَ، وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ
“Semoga Allah memberkahimu, melimpahkan keberkahan kepadamu, dan menghimpun kalian berdua dalam kebaikan.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
Maka, walimatul ‘ursy bukan hanya pesta. Ia adalah awal perjalanan panjang. Setelah pelaminan dibongkar, tamu pulang, dan foto-foto tersimpan, kehidupan sebenarnya dimulai.
Semoga kedua mempelai menjadi pasangan yang saling menguatkan dalam iman, saling menjaga dalam suka dan duka, dikaruniai keturunan yang saleh dan salehah, dilapangkan rezekinya, serta dikumpulkan Allah dalam keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah hingga dunia dan akhirat.
Tim Trobos.co










