TROBOS.CO | LUMAJANG – Perkembangan teknologi pencarian data dan informasi berlangsung sangat cepat dan semakin tidak terkendali. Publik yang termasuk dalam era 1990-an masih merekam dengan kuat, saat harus mencari informasi atau data dengan membuka kampus dan buku ensiklopedia. Tak lama berselang akrab dengan Google, kemudian bergeser ke AI atau Artificial Intelligence (Akal Imitasi). Saat ini, cukup dari telepon genggam, segala akses data dan informasi tersaji secara lengkap berbonus gratis. Kehadiran AI ini mampu melakukan berbagai tugas yang sebelumnya identik dengan kemampuan manusia, seperti belajar, mengenali pola, memahami bahasa, dan menghasilkan keputusan atau informasi.
Lazimnya kehadiran hal baru di tengah masyarakat selalu memantik pro dan kontra. Satu sisi, AI merupakan teknologi yang dapat meningkatkan produktivitas dan memperluas kemampuan manusia, membantu pekerjaan rutin, mempercepat pencarian informasi, memberikan alternatif gagasan, dan mendukung proses pengambilan keputusan. Sebagai ilustrasi, di bidang pendidikan aplikasi ini mampu membantu pencarian ide, memberikan umpan balik, dan mendukung proses menulis.
Sementara di sisi lain, sebagian merasa khawatir dan terancam dengan kehadiran Akal Imitasi ini. Jika mesin ini mampu menulis, menggambar, menganalisis dokumen, membuat kode komputer, bahkan membantu mengambil keputusan, di mana nanti peran manusia? Secara langsung maupun tidak, secara perlahan tapi pasti, posisi dan peran manusia akan tergantikan dan bakal memicu efek berantai. Belum lagi potensi ranah privasi menjadi terbuka, keamanan data, bias algoritma, penyebaran informasi palsu, serta transparansi dan akurasi data yang tersaji sebagai produk AI.
Kekhawatiran ini tentu saja lumrah. Masalah menjadi pelik manakala ada ketakutan yang berlebihan dan berusaha menjadikannya sebagai common enemy. Memposisikan AI sebagai musuh bersama tentu bukan pilihan yang bijak. Umumnya perkembangan teknologi, termasuk AI, akan terus berkembang tanpa memperhatikan sikap dan respons publik, termasuk pro dan kontra. Penolakan terhadap AI tidak serta-merta mampu menghentikan laju perkembangan teknologi tersebut.
Titik krusialnya bukan semata-mata terletak pada teknologinya, melainkan pada siapa yang menggunakan, urgensi, dan bagaimana melakukan kontrol. Penerimaan masyarakat terhadap AI memang dipengaruhi oleh tarik-menarik antara manfaat yang dirasakan dan risiko yang dikhawatirkan. Karena itu, masyarakat dapat menerima manfaat AI sekaligus tetap bersikap kritis terhadap risikonya (Mallouhy, 2026).
Pegang Kendali
Energi publik semestinya tidak dihabiskan untuk membangun permusuhan dan terjebak terhadap Akal Imitasi, tetapi diarahkan untuk membangun kecakapan dalam menggunakannya. Manusia harus tetap ditempatkan sebagai subjek, sedangkan AI sebagai alat yang membantu pekerjaan dan pengambilan keputusan. Artinya, tantangan terbesar ke depan bukan bagaimana menghentikan kecerdasan Akal Imitasi, melainkan bagaimana meningkatkan kecerdasan manusia dalam mengendalikan dan memanfaatkannya.
Memegang kendali berarti menolak tegas menyerahkan proses berpikir dan pengambilan keputusan kepada mesin. Kemudahan yang ditawarkan AI harus diimbangi dengan literasi yang masif, daya kritis, dan kemampuan melakukan verifikasi. Informasi yang dihasilkan AI tidak selalu benar, objektif, dan bebas dari bias. Pada posisi inilah, manusia harus menjadi penyaring terakhir: memeriksa sumber, menguji kebenaran informasi, mempertimbangkan konteks, serta menentukan keputusan berdasarkan nalar dan tanggung jawab.
Perkembangan Akal Imitasi tidak semestinya dijawab dengan ketakutan, apalagi dengan menempatkannya sebagai common enemy. Jauh lebih mendesak adalah memastikan manusialah yang tetap memegang kemudi. Teknologi boleh semakin cerdas, algoritma boleh semakin rumit, dan mesin boleh semakin cepat menghasilkan informasi, tetapi arah penggunaannya tetap harus ditentukan manusia. Karena itu, pertarungan sesungguhnya bukan antara manusia melawan AI, melainkan antara kemampuan manusia mengendalikan teknologi dan kecenderungan manusia menyerahkan kendali kepadanya.
Persoalannya, kemampuan memegang kendali tidak lahir dengan sendirinya. Maka perlu ada langkah-langkah dan strategi literasi AI agar masyarakat memahami bukan hanya cara menggunakan, tetapi juga keterbatasannya. Publik pengguna perlu menyadari dan memahami bahwa respons dari AI yang tersaji dengan bahasa meyakinkan belum bisa dianggap sebagai kebenaran mutlak. AI sangat mungkin menghasilkan informasi yang tidak akurat, membawa bias dari data yang digunakan, bahkan menyajikan informasi yang seolah-olah faktual. Karena itu, kemampuan mengulik, membaca, membandingkan sumber, dan melakukan verifikasi juga perlu memperoleh porsi tersendiri di tengah derasnya penggunaan AI. Idealnya, kehadiran teknologi semestinya meningkatkan kualitas berpikir manusia, bukan malah membuat manusia malas berpikir.
Tanggung Jawab Bersama, Bukan Beban Satu Pihak
Langkah-langkah literasi ini sungguh tidak elok kalau hanya dibebankan kepada satu unsur. Pemerintah, lembaga pendidikan, dunia usaha, pengembang teknologi, serta dunia akademik juga harus mengambil peran. Regulasi diperlukan bukan untuk menghambat perkembangan AI, tetapi untuk memastikan teknologi berkembang dalam koridor yang melindungi kepentingan manusia. Termasuk perlindungan data pribadi, transparansi, akuntabilitas, pengawasan manusia, dan kejelasan tanggung jawab ketika terjadi kesalahan menjadi bagian penting dalam tata kelola AI. Kajian mengenai responsible AI juga menempatkan transparansi, akuntabilitas, perlindungan privasi, dan pengawasan manusia sebagai unsur penting untuk menjaga kepercayaan sekaligus mengurangi risiko penggunaan teknologi.
Pada ranah pendidikan, misalnya, tantangannya bahkan lebih mendasar. Kehadiran AI seharusnya tidak membuat peserta didik kehilangan proses belajar. Jika setiap pertanyaan langsung diserahkan kepada mesin dan setiap tugas diselesaikan dengan AI, yang terancam bukan sekadar kejujuran akademik, melainkan kemampuan bernalar itu sendiri. Sebaliknya, jika digunakan sebagai teman berdiskusi, alat pencarian gagasan, pembanding argumentasi, atau sarana menguji pemahaman, AI dapat menjadi instrumen yang memperkaya proses pembelajaran. Batasnya sederhana: teknologi membantu proses berpikir, bukan mengambil alih seluruh proses berpikir.
Pada akhirnya, tidak perlu menobatkan AI sebagai common enemy. Musuh bersama yang lebih layak diwaspadai adalah penyalahgunaan teknologi, ketidakjujuran, manipulasi informasi, pelanggaran privasi, serta ketergantungan berlebihan yang membuat manusia kehilangan daya kritisnya. Akal Imitasi tetaplah alat yang kekuatan dan dampaknya sangat dipengaruhi oleh manusia yang mengembangkan, mengatur, dan menggunakannya.
Maka pertanyaan sekarang bukan lagi “Apakah AI akan menjadi musuh manusia?”, melainkan “Mampukah manusia tetap menjadi pengendali ketika AI semakin cerdas?” Jangan sampai Akal Imitasi semakin cerdas, justru karena akal manusia semakin malas.
Zainul Hidayat
Akademisi Institut Teknologi dan Bisnis Widya Gama Lumajang










