Wisuda STID Moh. Natsir XVI, Tokoh Dakwah Tekankan Pentingnya Kaderisasi

banner 2560316

TROBOS.CO | Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Mohammad Natsir menggelar Wisuda Sarjana (S1) Angkatan XVI yang dirangkaikan dengan Tasyakur 56 Tahun, Jumat (25/7/2026). Kegiatan ini menjadi momentum peneguhan komitmen untuk terus melahirkan kader-kader dai yang siap mengemban amanah dakwah Islam di berbagai penjuru Indonesia.

Dalam sambutannya, Ustadz Dwi Budiman menegaskan bahwa STID sejak awal berdiri memiliki misi utama mencetak kader dai dan daiyah ilallah yang siap mengabdi kepada umat. Menurutnya, seluruh proses pendidikan di STID tidak dapat dipisahkan dari sistem pengkaderan yang berjalan secara berkesinambungan, baik di tingkat pusat maupun di berbagai daerah.

banner 300250

“STID selalu berpegang teguh pada misi pengkaderan. Hal itu menjadi dasar lahirnya kurikulum unggul tahun akademik 2025–2026 yang dibangun di atas fondasi iman dan takwa,” ujar Dwi Budiman.

Ia turut mengingatkan para wisudawan agar menerima amanah penempatan dakwah dengan penuh keikhlasan, di mana pun lokasi tugas yang diberikan kepada mereka.

“Di mana pun tempat tugas antum, insyaallah itulah yang terbaik. Allahnya sama, malaikatnya sama, setannya pun sama,” pesannya.

Dalam kesempatan tersebut, ia mengungkapkan besarnya kebutuhan dai di lapangan. Saat ini terdapat permintaan sekitar 300 dai, sementara jumlah dai yang siap diterjunkan baru mencapai 133 orang, sehingga kebutuhan kader dakwah masih sangat besar.

Sementara itu, Dr. Imam Zamroji menjelaskan bahwa arah utama pengkaderan STID adalah melahirkan sosok-sosok yang ia sebut sebagai “Natsir-Natsir kecil”, yakni generasi penerus yang mampu meneladani semangat perjuangan Mohammad Natsir dalam berbagai bidang pengabdian.

Suasana Wisuda Sarjana STID Mohammad Natsir Angkatan XVI yang dirangkaikan dengan Tasyakur 56 Tahun | Foto: Dok. STID Mohammad Natsir

Menurutnya, STID tidak hanya ingin melahirkan dai yang piawai berceramah, tetapi juga dai yang mampu menjadi pendidik, politisi, dan negarawan yang membawa nilai-nilai Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Ia menekankan pentingnya pengalaman lapangan bagi para mahasiswa agar tidak hanya jago berteori.

“Kalau cuma di dalam kelas, mereka hanya bisa berteori, hanya bisa berwacana, mereka tidak tahu keadaan di masyarakat. Ramadhan libur, kirim mereka ke pedalaman,” tegasnya.

Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa dakwah harus ditempa melalui interaksi langsung dengan masyarakat, agar para kader memahami realitas umat sekaligus mampu memberikan solusi yang nyata.

Pada orasi ilmiahnya, Dr. KH. Fathur Rohman, M.Pd.I., mengingatkan bahwa seorang dai tidak boleh hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi juga harus mempersiapkan generasi penerus agar estafet perjuangan dakwah tidak pernah terputus.

“Dakwah harus terus berlanjut setelah generasi kita,” tegasnya.

Fathur Rohman mengajak seluruh kader dakwah untuk tetap optimis dalam perjuangan, karena pertolongan Allah akan diberikan kepada hamba-Nya yang bersungguh-sungguh. Pesan tersebut ia perkuat dengan mengutip firman Allah dalam QS. Muhammad ayat 7:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَنصُرُوا اللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad: 7)

Beliau juga mengingatkan bahwa datangnya pertolongan Allah membutuhkan kesabaran, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Baqarah ayat 214:

اَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِن قَبْلِكُم ۖ مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

Artinya: “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (QS. Al-Baqarah: 214)

Sehingga, kata beliau, setiap dai dituntut memiliki keteguhan hati dalam menghadapi berbagai tantangan dakwah.

Sementara itu, Ustadz Adian Husaini menumbuhkan rasa percaya diri para wisudawan dengan menegaskan bahwa ADI dan STID merupakan kampus dakwah terbaik yang telah melahirkan banyak kader berkualitas. Ia mengingatkan bahwa selama setan masih terus menggoda manusia, maka tugas para dai tidak akan pernah selesai.

“Selagi setan masih ada, maka tugas dai masih banyak. Karena itu, banggalah dengan tugas dakwah, sebab dakwah adalah tugas yang sangat mulia,” pesannya.

Rangkaian wisuda ini tidak hanya menjadi seremoni akademik, tetapi juga peneguhan komitmen seluruh lulusan STID Mohammad Natsir untuk terus melanjutkan perjuangan dakwah Islam, membina umat, serta menghadirkan manfaat bagi masyarakat di mana pun Allah menugaskan mereka.

Muhammad Wachid Hasyim (Alumni STID Moh. Natsir)

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *