Dai Muda di Lereng Semeru, Berdakwah untuk Para Mualaf

banner 2560316

TROBOS.CO | Angin dingin menyapu lereng Gunung Semeru setiap pagi. Di ketinggian sekitar 2.889 meter di atas permukaan laut, di sebuah dusun kecil bernama Puncak, Desa Argosari, seorang pemuda memilih tinggal dan mengabdi bukan untuk menaklukkan puncak, melainkan untuk menyalakan cahaya di tengah dinginnya udara pegunungan tertinggi Pulau Jawa.

Dialah Haris Agung Firmansyah. Pemuda kelahiran Mojokerto ini bisa saja memilih jalan yang lebih mudah setelah menyelesaikan pendidikannya di Akademi Dakwah Indonesia (D1). Tapi ia memilih medan yang paling menantang dan ia memilihnya dengan sadar.

Setiap hari, Haris mengemban amanah sebagai imam Masjid Jabal Nur, satu-satunya masjid yang berdiri di tengah perkampungan mualaf di lereng Semeru itu. Bukan sekadar mengimami salat, ia hadir sebagai pembimbing spiritual, teman bicara, sekaligus sandaran ilmu bagi masyarakat yang baru mengenal Islam.

Putra dari H. D. Budiyanto dan Tuminas Solikhah ini memegang satu cita-cita sederhana yang ia ucapkan dengan mantap: menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama. Dan di Dusun Puncak, cita-cita itu bukan sekadar kata-kata.

Pagi hingga sore, aktivitas Haris nyaris tak berhenti. Ia membina kajian keislaman khusus ibu-ibu mualaf, mendampingi mereka memahami dasar-dasar akidah, tata cara ibadah, hingga akhlak Islami dengan pendekatan yang santun dan tidak tergesa.

Bagi para bapak, ia rutin menggelar pengajian tersendiri. Bukan hanya untuk memperdalam ilmu agama, tapi juga untuk mempererat ukhuwah di antara warga yang tengah menapaki jalan baru sebagai Muslim.

Menjelang senja, giliran anak-anak yang memenuhi halaman Masjid Jabal Nur. Tawa dan semangat mereka memenuhi ruang belajar sederhana itu belajar membaca Al-Quran, mengenal kitab-kitab dasar keislaman, dan perlahan-lahan jatuh cinta pada agama yang baru mereka peluk. Haris ada di sana, setiap sore, dengan kesabaran yang tampaknya tak pernah habis.

Medan yang berat, suhu yang menggigit, dan keterbatasan fasilitas adalah bagian dari keseharian yang sudah Haris terima sebagai konsekuensi pilihan. Tidak ada keluhan yang ia ucapkan setidaknya bukan itu yang orang-orang di Dusun Puncak kenang darinya.

Baginya, setiap langkah menuju majelis ilmu adalah ibadah. Dan setiap senyum warga yang mulai mengenal Islam adalah kebahagiaan yang tidak bisa dibeli dengan apapun.

Kisah Haris mengingatkan kita pada sesuatu yang sering terlupakan di tengah hiruk-pikuk dunia dakwah yang semakin ramai di media sosial: bahwa kemuliaan seorang dai tidak diukur dari seberapa megah panggung tempatnya berdiri, melainkan dari seberapa nyata manfaat yang ia hadirkan bagi umat. Dan di lereng Semeru yang sunyi itu, Haris membuktikannya satu hari, satu jamaah, satu hati dalam satu waktu.

Satsari, S.Pd.

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *