Mengapa Masyarakat Indonesia Tetap Bahagia di Tengah Resesi Dunia?

banner 2560316

TROBOS.CO | Di tengah gelombang resesi ekonomi yang melanda banyak negara, ada satu fenomena yang justru terasa aneh sekaligus menggugah. Studi dari Harvard dan beberapa lembaga charity dunia mencatat bahwa masyarakat Indonesia adalah salah satu yang paling berbahagia, dan sekaligus paling dermawan di dunia.

Sesuatu yang tampak kontradiktif. Di negara-negara lain, resesi global biasanya membuat masyarakat kalang kabut dan bersikap defensif, menggenggam erat apa yang mereka miliki. Namun masyarakat kita justru tampak adem ayem, meski sebagian harga kebutuhan memang ikut naik. Fenomena ini sangat menarik untuk dibaca dari berbagai sudut, baik sosiologi, ekonomi, maupun spiritualitas.

Sikap empati dan kemampuan beradaptasi masyarakat terhadap kondisi krisis terlihat nyata dalam berbagai gerakan ketahanan pangan. Komunitas-komunitas lingkungan dengan cepat menyediakan kebutuhan dapur seperti sayur-mayur secara bergotong royong, hampir setiap hari.

Hal serupa juga terlihat di masjid-masjid yang rutin membagikan nasi bungkus setiap Jumat, hasil sumbangan warga sekitar yang akrab disebut “Jumat Berkah”. Fenomena ini erat kaitannya dengan narasi keagamaan yang menyatakan bahwa sedekah tidak akan mengurangi harta, dan memperbanyak amal justru menjadi cara menolak bala.

Narasi ini juga terinspirasi dari ajaran Al-Qur’an, khususnya Surat Al-A’raf tentang barokah berupa kecukupan dan ketenangan, serta Surat Al-Kautsar tentang anugerah kenikmatan yang diperoleh melalui salat dan kurban. Makna kurban di sini dipahami secara lebih dalam, yakni menyembelih “ego kebinatangan” berupa ketamakan dan kerakusan yang dapat mengganggu sendi-sendi keteraturan sosial seperti keamanan dan ketenangan.

Dengan iman dan takwa, barokah dipercaya turun dari bumi dan langit. Dari bumi berupa kecukupan kebutuhan pangan, dan dari langit berupa rasa berkecukupan, kebahagiaan, serta optimisme, apapun keadaan yang sedang terjadi.

Menariknya, meski nilai sumbangan individu kemungkinan menurun nominalnya saat resesi, jumlah penyumbang dan frekuensi beramal justru relatif stabil. Bahkan, tindakan berbagi ini kini semakin meluas melalui berbagai platform donasi digital.

Menghubungkan kolektivisme gotong royong dan transendensi spiritualitas dengan indikator makroekonomi seperti PDB dan nilai tukar rupiah memang bukan perbandingan yang mudah, sebab keduanya berada di ranah yang berbeda, abstrak dan matematis. Namun, sejumlah jurnal ekonomi pembangunan dan ekonomi perilaku menunjukkan bahwa kedua faktor ini dapat berfungsi sebagai invisible hand, atau tangan tak terlihat, yang menopang stabilitas ekonomi melalui dukungan gerakan dari bawah, dari rakyat kecil dan menengah.

Dari sini, muncul peluang besar untuk mengembangkan gerakan amal modern yang berkelanjutan dan berbasis digital. Langkah ini dianggap penting untuk mengubah pola amal yang selama ini bersifat lokal dan sporadis jangka pendek, menjadi amal jangka panjang yang tersebar luas, terukur, dan transparan.

Hal ini dapat terwujud melalui sentuhan pendanaan digital, baik melalui dompet digital, QRIS, maupun model berbasis blockchain. Kesadaran kelas menengah bahwa siklus hidup di dunia hanya sementara, dan bahwa memperbanyak amal selagi hidup adalah hal penting, akan menciptakan apa yang bisa disebut sebagai “distribusi kekayaan yang inklusif”, yang pada akhirnya berpotensi mendorong kenaikan PDB dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Laporan penyaluran dana berbasis foto atau video secara real time juga akan membangun kepercayaan publik, yang pada gilirannya dapat membuat volume dana sosial melonjak drastis. Digitalisasi memungkinkan terjadinya konvergensi antara dana sosial ziswaf dan ekonomi produktif, sehingga amal tidak lagi sekali habis, melainkan menjadi modal yang terus berputar secara berkelanjutan.

Semua gerakan besar ini sesungguhnya bisa dibangun dari fondasi mikro di tingkat lingkungan tetangga, dengan mensinergikan kearifan sunah Nabi dan jaringan organisasi keagamaan. Dari fondasi ini, lahir empat gerakan utama yang bisa disebut sebagai empat tombak ekonomi, yaitu gerakan ketahanan pangan keluarga, pembuatan pupuk organik swadaya yang dibagikan kepada warga, lumbung pangan digital, serta kegiatan volunter untuk edukasi pemberdayaan praktis.

Keempat program tersebut sejalan dengan ajaran sunah Rasul tentang hidup bertetangga, yang menegaskan bahwa tidak boleh ada tetangga yang kelaparan sementara tetangga lainnya berkecukupan, pentingnya berbagi rezeki kepada tetangga, hingga anjuran untuk menyedekahkan lahan tidur agar dapat dimanfaatkan bersama.

Gerakan dari bawah seperti ini sepatutnya terus dipertahankan, bahkan didukung oleh pemerintah. Sebab, terbukti gerakan semacam ini mampu meredam polarisasi ekstrem dan menjadi salah satu penopang stabilitas sosial sekaligus stabilitas ekonomi secara keseluruhan.

Dari falsafah hidup “sakmadyo”, yakni selalu bersyukur atas anugerah dan tidak berlebihan, akan tercipta pemerataan pendapatan serta berkurangnya kesenjangan atau ketimpangan sosial. Secara makro, ketenangan materi dan keamanan nasional ternyata bukan hanya soal mengutak-atik suku bunga, utang luar negeri, atau investasi semata.

Lebih dari itu, ketenangan dan keamanan juga lahir dari kearifan urip sakmadyo dan gotong royong, yang menjaga hati masyarakat tetap tenang dan merasa bahagia di sepanjang hidupnya, apapun kondisi ekonomi yang sedang terjadi di luar sana.

Tim Trobos.co

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *