TROBOS.CO | Menjaga informasi di era digital sama pentingnya dengan menjaga wilayah kedaulatan negara. Pesan itulah yang menggema dalam seminar “Guyub Rame, Jaga Info: Dari Desa untuk Indonesia” yang digelar di Lumajang, menghadirkan ratusan warga, pemuda Karang Taruna, pegiat media sosial, dan anggota Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) se-Kabupaten Lumajang.
Forum ini membahas satu ancaman yang sering dianggap sepele: hoaks dan konten pemecah belah yang bisa menjadi bagian dari proxy war modern. Peserta diingatkan bahwa keinginan untuk viral tidak boleh mengalahkan komitmen terhadap persatuan.
Sekitar 80 persen wilayah Indonesia adalah desa. Jika desa bergerak, Indonesia bergerak. Dari kesadaran itulah gagasan Duta Digital Desa lahir sosok akar rumput yang menjadi agen literasi, menangkal hoaks, sekaligus mempromosikan potensi daerahnya. Para pembicara juga memperkenalkan kerangka 3E+1N Educating, Empowering, Enlightenment, dan Nationalism sebagai panduan membuat konten yang tidak hanya menarik, tapi juga memperkuat jati diri bangsa.
Bupati Lumajang Bunda Indah Amperawati, M.Si. hadir menyapa peserta. Ia menegaskan bahwa media sosial kini merajai hampir semua lini kehidupan, sehingga bijak bermedia sosial bukan lagi pilihan.
Bunda Indah membanggakan Tumpak Sewu sebagai “Niagara-nya Indonesia” dan menyebut Lumajang kini menempati peringkat pertama di Jawa Timur untuk kunjungan wisatawan mancanegara. Bukti nyata kekuatan media sosial: saat Luna Maya tak sengaja meng-endorse Tumpak Sewu di TikTok, kunjungan wisatawan langsung melonjak signifikan.
“Gunakan media sosial untuk mendukung program-program pemerintah yang bertujuan menyejahterakan rakyat,” pesannya.
Sesi terakhir menutup forum dengan konsep yang menggugah: wakaf informasi. Setiap konten baik yang diunggah adalah amal jariyah yang pahalanya terus mengalir. Sebaliknya, fitnah dan hoaks akan menjadi dosa abadi yang tersimpan di internet bisa dibaca hingga oleh anak cucu.
Acara ditutup dengan jargon bersama yang bergemuruh: “Guyub Rame, Jaga Info dari Desa untuk Indonesia, Love Lumajang!”
Jari yang sama yang bisa menyebarkan fitnah, hari ini diarahkan untuk menjadi pena.
(Deka Danny)









