TROBOS.CO | Bersyukurlah dengan sandal jepit yang kita pakai hari ini. Karena di luar sana, ada yang sangat ingin memakainya tapi tidak memiliki kaki.
Kalimat sederhana itu mungkin terasa biasa. Tapi bagi banyak orang, ia datang seperti tamparan pelan yang justru membangunkan.
Mata Kita Terlalu Sibuk Menghitung Milik Orang Lain
Tanpa sadar, kita lebih sering menghitung nikmat orang lain daripada mensyukuri apa yang sudah ada di tangan kita sendiri.
Padahal, karunia yang Allah titipkan untuk keluarga kita kesehatan, kebersamaan, atap rumah, sepiring nasi itu bukan hal kecil.
Kita hanya terlupa. Dan keluhan pun menjadi kebiasaan.
Anak-Anak Belajar dari Apa yang Mereka Dengar Setiap Hari
Orang tua yang mudah mengeluh, tanpa sadar sedang mengajarkan anak untuk mengeluh juga.
Anak-anak adalah cermin rumah. Mereka merekam kata-kata, nada bicara, dan sikap kita terhadap kehidupan.
Maka, mulailah membiasakan kalimat ini di rumah: “Alhamdulillah ya nak, kita masih diberikan…”
Ajarkan Anak Melihat ke Bawah dalam Urusan Dunia
Bukan untuk merendahkan diri, tapi untuk melatih hati agar tidak mudah iri dan tidak mudah merasa kurang.
Anak yang tumbuh dalam rumah penuh syukur akan lebih kuat menghadapi hidup karena ia tahu, cukup itu bukan soal jumlah, tapi soal rasa.
Syukur bukan hanya menenangkan jiwa. Ia juga mengundang keberkahan yang tak selalu terlihat, tapi selalu terasa.
Semoga bermanfaat.
Sigit Subiantoro









