TROBOS.CO | LUMAJANG – Malam Sabtu (16/5/2026), pukul 22.30, sebuah pesan masuk ke grup WhatsApp eks wartawan Surabaya Post. Singkat. Tapi berat sekali dibaca.
Innalillahi wa innailaihi rojiun. Pak Lek, Mas Ikhsan Mahmudi nembe kemawon tilar donyo.
Demikian tulis Abdurrahman, adik kandung almarhum, dari Desa Krai, Kecamatan Yosowilangun, Lumajang. Semalam, kata Abdurrahman, almarhum muntah-muntah dan diare. Tensi tinggi. Diduga jantungnya kambuh.
Ikhsan Mahmudi — wartawan asal Desa Kraton, Kecamatan Yosowilangun, Lumajang, yang terakhir menetap di Probolinggo — telah berpulang ke rahmatullah.
Kabar yang Menyebar Cepat, Duka yang Terasa Berat
Pesan duka itu menyebar cepat. Suhartoko, eks wartawan Surabaya Post yang kini tinggal di Gresik, sempat tidak percaya.
“Apa bener itu yang kapundhut Ikhsan Mahmudi?”
Setelah mendapat kepastian, ia menulis: “Ya Allah, shobat sekamarku saat bertugas di Malang. Insya Allah husnul khotimah.”
Satu per satu respons mengalir. Nurfakih menulis dengan hati yang berat: “Secepat itu orang baik dipanggil Allah SWT… Semoga almarhum husnul khotimah… Amin.”
Siswowidodo, eks wartawan SP Ponorogo, turut mendoakan: “Semoga Allah menerima semua amal ibadah dan mengampuni semua dosa almarhum… Aamiin.”
Ustaznya Para Wartawan
Di mata teman-teman seprofesinya, Ikhsan Mahmudi bukan sekadar rekan kerja. Ia adalah tempat bertanya soal agama. Ia adalah ustaz yang kebetulan juga wartawan.
Salah seorang rekan kerjanya menulis dengan penuh ketulusan: “Saya mengakui pemahaman agama dari rekan kita Ustaz Ikhsan Mahmudi. Saya banyak mendapat kebenaran dan konfirmasi dari apa yang beliau sampaikan.”
Dan kini, sebuah ironi yang mengharu biru: almarhum yang dulu kerap ditanya soal kematian tentang waktu, usia, dan tempat kini telah mengalaminya sendiri.
“Mudah-mudahan nasihat keagamaan dan kehidupan yang disampaikan Ustaz Ikhsan dapat menjadi amal jariah untuknya.”
Orang Baik yang Meninggalkan Banyak Kenangan
Imung Mulyanto mengenang sosok almarhum dengan hangat: “Cak Isa orangnya baik, taat beribadah, banyak ceritanya dan humoris. Kenangan saat sama-sama menempati kamar kos lantai 3 TAIS Nasution, Surabaya…”
Senior almarhum, Tjuk Suwarsono, menuliskan kesaksiannya dengan hati yang terasa berat:
“Saya ingat beliau orang baik, taat beragama, kalem tapi lucu, suka bercanda dengan teman-temannya. Saya bersaksi almarhum orang baik, sangat baik dan mulia. Selamat jalan Dik Isa, kami selalu mengenang kebaikanmu.”
Sukemi pun turut bersaksi: “Mas Ikhsan orang baik. Saya kerap dibantu untuk urusan-urusan saat di Kementerian maupun di Unusa. Semoga amal kebajikannya menjadi bekal yang mengantarkan almarhum ke surga.”
Al-Qur’an yang Masih Beredar
M. Halwan mengungkapkan kenangan yang paling menyentuh:
“Untuk mengenang almarhum, saya pernah mendapat kiriman Al-Qur’an lengkap terjemah dari Sdr H. Ikhsan Mahmudi. Al-Qur’an itu disebarkan kepada siapa saja yang memerlukan. Semoga menjadi amal jariah bagi Sdr Ikhsan Mahmudi.”
Al-Qur’an itu masih ada. Masih dibaca. Masih mengalirkan pahala untuk almarhum.
Selamat jalan, Cak Isa. Semoga Allah menempatkanmu di sisi-Nya yang paling mulia. *
Tim Trobos.co








